![]() |
| Ilustrasi Penjual Kebahagiaan - Utep Sutiana |
Sutianamenulis.blogspot - Di Kota Gembira, matahari tidak pernah benar-benar tenggelam; ia hanya digantikan oleh jutaan lampu neon berwarna merah jambu yang memancarkan frekuensi "ketenangan batin" ke setiap sudut jalan.
Kota ini adalah pusat perdagangan paling progresif di abad ini.
Di sini, orang-orang tidak lagi berdagang saham, kripto, atau komoditas usang seperti minyak bumi.
Mereka berdagang sesuatu yang jauh lebih likuid: Kebahagiaan.
Tuan Malik adalah pialang paling sukses di Bursa Euforia Nasional (BEN).
Kantornya terletak di lantai 88 sebuah gedung kaca yang bisa berubah warna mengikuti suasana hati direkturnya.
Pagi itu, ia sedang mengamati grafik fluktuasi "Tawa Tulus" yang sedang anjlok, sementara nilai "Kepuasan Pencapaian" meroket tajam.
"Pasar sedang haus, sekretarisku," ujar Malik tanpa menoleh.
"Orang-orang bosan dengan ketenangan. Mereka ingin kegembiraan yang meledak-ledak. Siapkan kampanye baru: Paket Kebahagiaan Akhir Pekan: Ekstasi Tanpa Resesi."
Sistem perdagangan di Kota Gembira sangat sederhana namun brilian.
Melalui sebuah chip yang ditanam di balik telinga, setiap penduduk bisa mengekstraksi perasaan mereka ke dalam bentuk digital bernama Joy-Coin.
Jika kau merasa sangat bahagia karena baru saja melihat matahari terbit, kau bisa langsung menjual perasaan itu ke pasar.
Pembelinya? Biasanya orang-orang kaya yang terlalu sibuk bekerja hingga lupa cara merasa senang secara organik.
***
Di sebuah sudut jalan yang kumuh, seorang pemuda bernama Rian sedang duduk lesu.
Di hadapannya terdapat sebuah botol kaca kecil yang bersinar redup.
Itu adalah sisa terakhir dari "Kebahagiaan Masa Kecil"-nya.
Kenangan saat ibunya membuatkan sup hangat di hari hujan.
"Berapa untuk yang itu?" tanya seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek, namun wajahnya sekaku manekin.
"Ini barang langka, Nyonya. Kebahagiaan murni, tanpa pengawet sinis," tawar Rian.
"Harganya cukup untuk membayar sewa apartemenku bulan ini."
Wanita itu memindai botol tersebut dengan alat di tangannya. "Hanya 70% kemurnian. Ada residu kesedihan di dasarnya. Aku tawar setengah harga."
Rian mendesah. Ia terpaksa menjualnya. Saat transaksi terjadi, cahaya dalam botol berpindah ke perangkat si wanita.
Seketika, wajah kaku wanita itu melemas, matanya berbinar, dan ia tertawa kecil—sebuah tawa yang sebenarnya milik bocah kecil di masa lalu Rian.
Sementara itu, Rian merasa dadanya mendadak hampa, seolah ada bagian dari jiwanya yang baru saja dicungkil paksa.
Itulah ironi di Kota Gembira: Para penjual menjadi semakin hampa untuk membuat para pembeli merasa penuh.
Namun, rasa penuh itu hanya bertahan beberapa jam.
Kebahagiaan yang dibeli adalah kebahagiaan "bekas" yang tidak memiliki akar dalam jiwa si pembeli.
Ia seperti parfum; harum sesaat, lalu menguap meninggalkan bau keringat yang lebih menyengat.
***
Di pusat kota, diadakan seminar akbar oleh Sang Guru Besar, seorang pria yang mengklaim telah mencapai "Kebahagiaan Abadi" dan sekarang menjual lisensinya kepada publik.
Ribuan orang hadir, berharap bisa membeli paket langganan bulanan agar mereka tidak perlu lagi merasa sedih, meski hanya sedetik.
"Hadirin sekalian!" seru Sang Guru Besar.
"Kenapa kalian harus bersusah payah mencari kebahagiaan melalui meditasi atau hubungan manusia yang rumit? Itu membuang waktu!
Di tangan saya, ada Update Firmware 5.0. Cukup instal, dan setiap kali kalian melihat tagihan utang, otak kalian akan menerjemahkannya sebagai rasa syukur!"
Tuan Malik menonton seminar itu dari layar raksasa di kantornya.
Ia tersenyum sinis. Ia tahu rahasianya: Sang Guru Besar sebenarnya adalah pria paling depresi di dunia.
Sang Guru bisa menjual kebahagiaan karena ia telah membuang seluruh kapasitas perasaannya demi keuntungan.
Ia adalah sebuah botol kosong yang hanya memantulkan cahaya lampu panggung.
"Mereka tidak sadar," gumam Malik. "Bahwa mereka sedang melakukan perdagangan hantu."
***
Masalah mulai muncul ketika pasokan kebahagiaan di pasar mulai menipis.
Ternyata, kebahagiaan manusia adalah sumber daya yang terbatas jika terus-menerus diperas.
Orang-orang mulai kehabisan hal untuk dijual.
Mereka telah menjual kebahagiaan pernikahan mereka, kebahagiaan saat melihat anak mereka lahir, bahkan kebahagiaan sederhana saat memakan es krim.
Kota Gembira mulai berubah menjadi kota zombi yang tersenyum paksa.
Di jalanan, orang-orang saling menyapa dengan tawa yang terdengar seperti rekaman rusak.
Mata mereka kosong, namun mulut mereka dipaksa melengkung ke atas oleh perangkat di telinga mereka.
Tuan Malik mulai panik. Grafiknya memerah.
Nilai Joy-Coin terjun bebas karena tidak ada lagi "produk" baru yang masuk ke bursa.
Semua orang ingin membeli, tapi tidak ada yang mampu menjual.
Manusia telah menjadi bangkrut secara emosional.
Dalam keputusasaannya, Malik turun ke jalan. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa menemukan kebahagiaan asli untuk dikomoditaskan.
Ia berjalan menuju pinggiran kota, tempat orang-orang paling miskin tinggal—mereka yang tidak punya uang untuk membeli kebahagiaan, tapi juga terlalu lelah untuk menjual milik mereka sendiri.
Di sana, ia melihat seorang pria tua sedang duduk di bawah pohon kamboja, menatap langit senja.
Pria itu tidak memakai chip di telinganya.
"Hei, orang tua!" seru Malik. "Kau terlihat tenang. Berapa kau jual ketenanganmu itu? Aku akan bayar dengan seluruh sahamku di BEN."
Pria tua itu menoleh dan tersenyum—sebuah senyum yang membuat Malik merinding karena terasa sangat... nyata.
"Tuan, Anda datang ke pasar yang salah. Ketenangan saya tidak punya label harga."
"Jangan konyol! Semuanya bisa dijual di kota ini!" bentak Malik.
"Itulah kesalahan kalian," jawab si pria tua kalem.
"Kebahagiaan itu seperti bayangan. Jika kau mencoba menangkapnya untuk dijual di dalam botol, kau hanya akan mendapatkan botol kosong yang gelap.
Bayangan hanya ada selama ada cahaya dan benda yang menghalanginya.
Kebahagiaan adalah produk sampingan dari menjalani hidup, bukan tujuan yang bisa dipindahkan dari saku ke saku."
***
Malam itu, Bursa Euforia Nasional meledak.
Bukan karena bom, tapi karena kebenaran yang tiba-tiba menghantam kesadaran kolektif.
Orang-orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan yang mereka beli dari orang lain hanyalah "data" tanpa makna.
Rasa senang tanpa konteks adalah siksaan.
Seorang wanita yang membeli "Kebahagiaan Saat Menang Lotre" merasa sangat gembira, padahal ia sedang berada di pemakaman ibunya.
Kontradiksi itu membuat otaknya mengalami glitch.
Ribuan orang mengalami hal serupa; histeria massal di mana orang-orang tertawa sambil menangis histeris, tidak mampu membedakan antara rasa syukur dan rasa sakit.
Tuan Malik kembali ke kantornya yang mewah. Ia melihat ke cermin. Ia mencoba mencari satu saja sisa kebahagiaan di dalam dirinya yang bisa ia rasakan sendiri, bukan untuk dijual.
Namun ia tidak menemukan apa-apa. Ia telah menjual seluruh "stok" pribadinya bertahun-tahun yang lalu untuk modal awal perusahaannya.
Ia meraih botol kaca di mejanya—produk paling mahal, "Kebahagiaan Sang Raja".
Ia meminumnya (sebuah istilah untuk mengunduh datanya ke otak).
Tapi tidak ada yang terjadi. Jiwanya sudah terlalu tumpul untuk menerima input apa pun.
Kota Gembira akhirnya gelap. Bukan karena lampunya mati, tapi karena orang-orang berhenti berpura-pura.
Mereka melepaskan chip di telinga mereka dan melemparkannya ke selokan.
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kota Gembira menjadi sangat sunyi.
Tidak ada tawa yang dipaksakan. Tidak ada transaksi euforia. Orang-orang duduk di trotoar dengan wajah yang terlihat... sedih.
Tapi anehnya, kesedihan itu terasa jauh lebih melegakan daripada kebahagiaan palsu yang mereka beli selama ini.
Di tengah reruntuhan ekonomi emosional itu, Rian—pemuda yang menjual kenangan sup hangatnya—bertemu dengan wanita yang membelinya.
"Bisa kau kembalikan?" tanya Rian lirih.
"Aku merasa dingin tanpa kenangan itu."
Wanita itu menggeleng sedih.
"Sudah hilang, Nak. Begitu aku merasakannya, ia menguap jadi asap. Aku tidak bisa mengembalikannya padamu, sama seperti kau tidak bisa membelinya kembali dariku."
Mereka berdua terdiam, menatap matahari terbit yang asli—bukan lampu neon.
Untuk pertama kalinya, mereka merasa sedih bersama.
Dan di dalam kesedihan yang jujur itu, tanpa mereka sadari, tumbuh sebuah benih kecil perasaan baru yang belum pernah dijual di bursa mana pun: Kedamaian.
Sesuatu yang tidak bisa dijual, tidak bisa dibeli, dan hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berani merasa apa adanya.***
