Rabu, 19 Oktober 2016

21 Buku terbaik Versi Saya Bag. Pertama























21 BUKU TERBAIK VERSI SAYA

            Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai tertarik untuk membaca buku-buku, entah itu sastra atau buku fiksi popular. Dari sekian banyak buku yang saya baca dan kumpulkan itu, ada beberapa karya, yang menurut criteria saya adalah yang terbaik. Tentu saja, terbaik bagi saya belum tentu terbaik bagi Anda. Banyak buku-buku terbaik di luar sana, akan tetapi saya menilai buku terbaik versi saya berdasarkan buku-buku yang ada di daftar koleksi saya pribadi.
            Ketika banyak buku bagus beredar di luar sana, saya piker ada banyak yang menurut saya terbaik. Berhubung saya belum beli dan membacanya, maka dengan otomatis saya tidak akan memasukannya.
            Penilaian saya bersifat obyektif, jadi saya tidak akan menilai berdasarkan nama besar pengarangnya. Tidak semua penulis besar menghasilkan karya yang besar pula bukan? Ada beberapa nama yang menurut saya besar, akan tetapi saya tidak memasukkannya ke dalam list. Bukan berarti jelek, bila buku itu tidak masuk terbaik di versi saya, melainkan, saya mencoba menimbang-nimbang buku mana saja yang menurut pendapat saya, layak.
            Saya menilai dari beberapa aspek tentu saja: tema yang menarik, gaya bahasa yang dipakai, pesan moral, juga yang terpenting adalah bisa meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya sebagai pembaca awam.
            Anda mungkin banyak yang tidak setuju dengan buku-buku yang saya sodorkan. Anda tidak harus mendebat, toh. Ini hanya masalah selera. Terbaik bagi saya, belum tentu terbaik bagi Anda.
            Langsung saja. 21 Buku terbaik di list koleksi buku saya, berdasarkan urutannya.

21.  Running to Hanzin – Utep Sutiana
Tahun terbit: 2016
Penerbit: Rose Book, Trenggalek




Saya tidak perlu  me-review buku ini panjang lebar, sebab buku ini ditulis oleh saya sendiri. Bukan bermaksud narsis atau bukan tanpa alasan saya memasukkan buku ini ke daftar 21 buku terbaik versi saya. Intinya saya mengapresiasi karya sendiri. Perkara bagus-jeleknya biarlah pembaca yang menilainya.

Buku ini sendiri berkisah tentang perjuangan seorang perempuan bernama Gao Ling yang mencintai Yeong mati-matian, sementara yang bersangkutan tidak mencintainya sama sekali. Perasaannya lebih menganggap Ling sebagai sahabat ketimbang kekasih. Kenekatan Ling membuat Yaong terpaksa menikahi gadis itu, akan tetapi setelahnya Yeong lebih memilih pergi jauh meninggalkan Ling. Pada akhirnya, di tempat yang jauh bernama Leicester, Yeong menemukan cinta barunya. Konflik pun dimulai ketika Margie, kekasih baru Yeong, mengetahui masa lalu Yeong, juga perempuan bernama Ling.

Saya tidak perlu menjelaskan kelebihan atau kekurangan buku ini, sebab, sepertinya sangat tidak etis bila seorang penulis meresensi bukunya sendiri. Buku ini adalah hasil jerih payah saya selama ini, dan itu adalah salah satu alasan kenapa saya memasukkannya. Jadi tidak usah mendebat: kalau kita tidak bisa menghargai karya sendiri, bisa jadi orang lain tidak akan menghargai karya kita.
Sekali lagi ini bukan dalam rangka saya bernarsis ria.

20. Eskapis – Arif Fitra Kurniawan
Tahun terbit: 2014
Penerbit: Fastindo, Semarang



Ada banyak buku kumpulan puisi yang ada di dalam koleksi saya, kebanyakan buku puisi itu adalah hasil karya teman-teman yang menjadi friend-list di jejaring sosial. Dari sekian nama-nama itu, saya memasukkan nama Arif Fitra Kurniawan ini sebagai yang terbaik.
Di dalam Eskapis saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari kebanyakan puisi yang pernah saya baca. Arif dengan lihainya menangkap semua tema yang hadir tidak jauh berada di sekitar kita. Arif meramunya dengan begitu lincah, menjadikan puisi-puisinya mempunyai corak khas tersendiri dari puisi-puisi penyair lain.
Saya ambil contoh penggalan puisi dari Eskapis yang menurut saya sangat brilliant. Memadukan dua unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang menarik dan unik.

PELAJARAN MENGINGAT PLATO

di antara keraguan yang memupuk pundak, namanya samar-
samar kau ingat pernah hidup sebagai pahlawan yang sembunyi
di antara gigi berlubang kakekmu yang tertembak di perang kemerdekaan.
kau baru tahu bila mengingat adalah kata lain bersedih. melupakan belum
sempat diciptakan kamus asing yang menjebakmu di dasar bahasa bertubuh
tebing. ia girang sekali menyaksikan kau berkali-kali terbanting memanjat
mengerahkan lenganmu yang asin demi memetik menukarkan wajah remuk
orang lain.

Bagi saya puisi ini sangat menarik. Lebih mirip prosa ketimbang puisi. Tapi hal tersebut tidak membuat puisi ini kehilangan daya tenungnya.

19. In The Time of The Butterflies – Julia Alvarez
Tahun terbit: 2010
Penerbit: Algonquin Books, New York



Pada 25 November 1960, tiga perempuan yang saling berpertalian darah, adik-kakak, ditemukan sudah tidak bernyawa lagi di dekat puing mobil jeep di dasar jurang dengan kedalaman 50 meter di kawasan pantai utara Republik Dominika, Amerika Selatan. Surat kabar menceritakan bahwa peristiwa itu adalah murni sebuah kecelakaan. Padahal pada kenyataannya mereka itu tewas sebab pemberontakan mereka atas kebijakan-kebijakan yang diambil oleh dictator Jenderal Rafael Trujilo, pemimpin Rep.  Dominika yang berkuasa puluhan tahun. Mereka melakukan perlawanan secara terang-terangan.
Ketiga perempuan itu tewas, sementara satu perempuan lain selamat. Dari sinilah untuk kemudian cerita itu bisa diangkat. Kisah empat perempuan yang dijuluki Las Mariposas yang artinya para kupu-kupu.
Berdasarkan kisah nyata, buku ini sangat menyentuh. Di mana penindasan-penindasan yang dilakukan oleh sang dictator begitu keterlaluan. Empat perempuan ini berjuang untuk sebuah alasan: melawan penindasan.
Kisah di dalam buku ini sendiri kemudian diangkat ke layar lebar.


18. Selingkuh – Langit Kresna Hariadi
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Narasi, Yogyakarta



Siapa pun orangnya pasti tidak ingin diselingkuhi, tentu saja. Sebab segala bentuk perselingkuhan adalah sebuah pengkhianatan. Itu pula yang terjadi dalam kehidupan Dharmawan. Ia salah memilih teman, sebab teman inilah yang pada akhirnya menjungkirbalikkan kehidupannya ke titik paling nadir.
Membaca novel ini membawa saya ke kehidupan yang sebenarnya. Di mana, saya harus percaya bahwa mempercayai sahabat seratus persen adalah sebuah kesalahan. Dalam hal ini Dharmawan terlalu percaya bahwa Darmadi sahabatnya, yang biasa menggarap istri orang, tidak akan melakukannya pada istri sahabatnya ini. Ternyata, itu salah.
Terlepas dari cerita yang diangkat yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, penulis begitu piawai mengemas cerita ini begitu apik, mengalir deras, namun membuat saya selaku pembaca ternganga pada akhirnya. Ending yang tidak bisa diprediksi oleh saya. Begitu twist, hingga saya hanya bisa menggumam, “hah!”
Keren. Ini sangat luar biasa.





Sabtu, 01 Oktober 2016

Pertanyaan

tidak ada puisi yang bisa
kumakan hari ini
selain sepiring pertanyaan
yang baru saja
matang
di penggorengan pagi
ini

segala dedah
sisa kesah
malam tadi
adalah lapar
tak tertahankan

aku harus mencari jawab
mencari jawab
mementahkan pertanyaan

atau sama sekali
tidak ada hidangan puisi
hari
ini


Cibatu, 01 Oktober 2016

Kamis, 29 September 2016

Diperkosa Batman





Kau selalu menganggap bahwa apa pun yang terjadi di dalam mimpi tidurmu adalah memiliki arti. Berulang kali kau menanyakannya kepadaku seolah aku ini adalah dukun segala tahu atau yang lebih parah, kau seakan menganggapku buku primbon: yang selalu memiliki arti dari semua mimpi yang terjadi di dalam tidur semua umat manusia di bumi ini. Ini sangat menjengkelkan.

Malam ini. Atau tepatnya tengah malam kau membuatku begitu berang. Bagaimana tidak, kau tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya seolah sesuatu terjadi begitu parah dan membuatmu sangat terluka. Aku sudah bisa menebak bahwa kau mimpi buruk lagi, seperti yang sudah-sudah. Perkiraanku ternyata benar. Kau mimpi lagi. Mimpi yang sangat buruk.

Kalau kuhitung-hitung, ini mimpi ke seratus dua puluh tiga hari setelah aku menikahinya. Dan, ini pun adalah hari ke seratus dua puluh tiga pernikahanku. Ini artinya, kau tidak pernah absen bermimpi di malam-malam kebersamaan kita. Dan, kau selalu saja menuntut jawaban atas arti dari mimpi yang kau alami. Ini sangat menjengkelkan. Bukankah tidak semua mimpi memiliki arti yang spesifik. Bukankah mimpi adalah bunga tidur. Kalau semua mimpi ada artinya, berarti kita seolah terus diberi tahu akan apa yang akan terjadi di depan kita. Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi satu menit yang akan datang. Itu sepenuhnya hanya rahasia Tuhan. Kau harus mengerti itu.

Kau terisak. Mau tidak mau aku terbangun. Padahal baru dua jam aku tertidur setelah kelelahan menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

"Dipatuk ular lagi?"
"Dikejar ajak lagi?"
"Bertemu macan betina lagi?"

Aku dengan sedikit kesal menanyakan mimpi-mimpi yang pernah diutarakannya. Kau hanya menggeleng tanpa ekspresi. Sama sekali tidak terpengaruh atas kekesalanku.

"Bukan itu," katamu seraya menatapku dengan bola mata yang masih mengembun. "Aku dikejar-kejar Batman, ia membawaku ke sebuah tempat setelah mendapatkanku. Dan... Ia memperkosaku dengan begitu tidak sopan."

Halaaah! Betapa brengseknya si Batman itu. Dalam hati aku tertawa, lagi-lagi mimpi yang biasa. Bukankah dalam mimpi semua hal bisa terjadi, bahkan, aku pernah bersenggama dengan Wonder Woman, dan itu tidak berarti apa-apa.

Aku sangat kesal--walau dalam hati sedikit tertawa atas mimpi guyon istriku ini. Kenapa ini terjadi?

"Dan kau akan bertanya apa artinya, bukan?"

Kau mengangguk seolah itu adalah hal yang biasa. "Aku tidak tahu. Mungkin Batman lagi menginginkanmu menjadi istrinya," jawabku setengah bercanda.

"Benarkah?" Kau menganggapnya serius. Betapa lugunya kau ini. Batman itu hanya fiktif, kau menganggapnya seolah ada. Kau masih terlalu kekanak-kanakan sepertinya.

Aku mengangguk, antara kesal, marah, dan lucu atas kekonyolan yang kau lakukan. Lagi-lagi ini menyebalkan.

Malam ini berlalu dengan aku yang tidak bisa memejamkan mata, seperti hari-hari sebelumnya. Kau malah begitu tenangnya tidur kembali seolah tidak terjadi apa-apa.

"Dasar Batman betina!" makiku dalam hati.


Esoknya kau bangun pagi-pagi. Hal pertama yang kau lakukan adalah mendatangi ibumu, ayahmu, dua kakakmu, hingga dua pembantumu. Kau menanyakan arti mimpi yang dialami malam tadi. Tentu saja mBatman. Kau tidak puas dengan jawaban tadi malammu.

Kau merengut sebal. Semua orang yang kau tanyai tidak ada satu pun yang memberikan jawaban. Mereka hanya menggeleng dan mengangkat kedua belah tangannya sejajar dengan muka. Kau sangat membutuhkan jawaban dari mimpi itu. Ini sangat mengganggu pikirannya seperti yang sudah-sudah.

"Tanya Robin, siapa tahu ia tahu jawabannya," rutukku sebelum berangkat kerja. Matamu berbinar terang seolah jawaban itu memuaskanmu.

"Robin temannya Batman itu?"

Aku melengos tidak menjawab. Aku tahu usiamu masih enam belas tahun, akan tetapi kedewasaanmu masih belum tumbuh padahal dalam segala hal kau sangat dewasa. Kecuali, perihal mimpi.


Cibatu, 29 September 2016

Rabu, 28 September 2016

Orbit

Bahkan, bila matamu adalah matahari
aku rela mengerang karena terpanggang
oleh sorotmu

Kau adalah orbit tata surya
menjadi dekap dalam semestaku

Garut, 28 September 2016

Jumat, 16 September 2016

Melankolia September

 Melankolia September




Aku tidak sedang mengeja musim.
Tentu saja.
Tidak sedang merapal gemuruh di tangkai gerimis.
Aku sedang merindu kehangatan.
Dari sepasang matahari yang terdampar pada matamu.

Seperti angin yang mendesir.
Rindu mencucuk tulang selayak salju musim dingin.
Menikam.
Merajam.
Mengancam.
Tak mampu kuredam.

Aku merindukan degup.
Dari denyut sepasang jantung yang saling bercerita:
perihal rekah bunga melati,
perihal rebah rumput ilalang,
perihal resah tentang kepergian.

Aku tidak sedang melafal debur ombak.
Tentu saja.
Aku tidak sedang menjaring badai yang lantak di landai pantai.
Aku sedang merindu dermaga, tempat kita kerap terdampar.
Aku menjadi suar, kau sampannya.

Seperti September.
Rindu meruya bersama hujan.
Datang tiba-tiba, menjadi genang di ruang kenang.
Riuh.
Bergemuruh.
Tanpa lenguh.
Tak disuruh.

Aku merindukan cahaya.
Dari gelap yang kautinggalkan.
Dari kisah yang kausisakan:
perihal mekar bunga kemboja,
perihal denyar perasaan,
perihal memar dada kita.


BCI, 16 September 2016

Sabtu, 03 September 2016

LAKI-LAKI LUKA


Laki-laki Luka





1/
Kita adalah sepasang luka
yang ditanak waktu
dimatangkan usia
perihal badai
perihal gelombang
adalah keteguhan sampan yang terombang-ambing
samudera hidup
: kita telah melewati banyak hal



/2
Kita adalah sepasang musim
yang bergerak dalam takdirnya masing-masing
kau musim utara
aku musim selatan
apakah kita pernah menyatu?
sekadar bertegur sapa dalam bahasa
angin, hujan-kemarau pun tidak
: kita telah saling pergi saling meninggalkan


3/
Kita adalah sayap-sayap patah
yang getas merapuh lantas lumpuh
tidak ada udara kosong tempat kita saling mengepak
oh, betapa langit luas hanyalah
kepedihan yang abai diarungi
: kita terluka dalam sayap keterasingan


/4
Kita sepasang luka
perempuan luka
laki-laki luka
perihal lalu
perihal ingatan
perihal kenangan yang terserak
Adakah kita pernah saling mengingat?
sekadar menjemput kenang untuk dikembalikan musim


/5
Cermin kita telah pecah, Sayang
luka kita: sama
berdarah
lambat mengering


Tasik Malaya, 02 September 2016

Minggu, 28 Agustus 2016

DEMI (MU) PUISI

Demi (mu) Puisi



Mari memungut puisi
yang terlepas, berserakkan, menjadi keping-keping terberai
adakah kau bersedia membuka tanganmu
demi puisi yang pernah kutanak
bersama air mata dan lelah?


Mari memungut puisi
yang terbang, berlesakkan, menjadi debu-debu beterbangan
adakah kau bersedia menjadi udara
demi puisi yang pernah kuhirup
bersama napas sunyi dan kesenyapan?

Mari memungut puisi
bersamamu
sebab, aku ingin kembali
menjadi alir dan desah sungai-sungai pengharapan puisi

bersamamu
demi puisi



Sindang Rasa, 28 Agustus 2016

Rabu, 10 Agustus 2016

Boby di Dalam Kepalaku




Saya kira, yang bergerak-gerak dan sesekali mematuk-matuk isi kepala dan terkadang membuat saya menjerit tertahan karena kesakitan adalah sesuatu yang kecil, semacam binatang yang menjijikan; misalnya saja belatung atau seekor larva. Dan, saya kira pula bahwa sesuatu yang melata dan menjalar di dalam kepala saya adalah seekor binatang berkaki banyak, yang tentu saja ketika sesuatu itu bergerak, dengan segera aku merasakan sensasi kegelian. Ternyata, dugaan saya, salah. Semua itu keliru.

Pagi ini--seperti pagi-pagi sebelumnya, sesuatu itu kembali menyerang isi kepala. Sekali ini, serangannya adalah kombinasi keduanya: mematuk dan melata . Saya berteriak-teriak seolah orang gila di rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak, aku merasakan sesuatu itu tanpa perikemanusiaan menyerangku dengan membabi buta ( apakah kalau babi buta menyerang bisa seagresif ini? Apa yang terjadi bila bukan babi yang buta, bisa gajah atau kuda nil atau banteng buta? Ah! Pikiranku mulai melantur begitu saja).

Saya menjerit-jerit, tubuh saya bergetar hebat, kejang-kejang sebagai reaksi dari menahan sakit dan geli. Bi Inah yang mengetahui keadaan saya, langsung bergerak cepat: meraba kening--mengira aku terserang demam dan sakit kepala--dan ikut menjerit latah.

"Bibi kenapa?" Walau sakit tidak tertahan, saya masih bisa bertanya kepada pembantu keluarga saya ini.
"Non, kenapa?" Bi Inah malah tanya balik.
"Ada kecebong di kepala saya, Bi."
"Kecebong?" Bi Inah bingung. Saya tersenyum di sela kesakitan.

Saya penasaran dengan serangan yang terjadi di dalam kepala saya ini. Untuk itu, setelah sakit kepala saya sedikit mereda, saya berinisiatif memeriksakan diri ke dokter. Hasinya, dokter malah kebingungan.
"Tidak ada apa-apa," ucap dokter.
"Tidak?"
"Ya."
"Lantas?"
"Lantas apa?" dokter bertanya dengan tatapan mata heran.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Tidak ada."
"Tidak ada?"

Dokter ini aneh. Masa sakit seperti ini tidak ada yang harus saya lakukan. Lantas Saya harus diobati apa agar sembuh?

"Itu Boby!" ucap perempuan berambut panjang berwajah sendu dengan pakaian panjang serba putih itu. Saya hanya bisa bengong.
"Boby?"

Perihal Boby. Yang saya ingat, Boby itu nama orang. Jujur, saya sudah lama tidak ingin mengingatnya. Boby, mantan kekasih brengsek saya yang ketahuan sedang selingkuh di Pantai Kuta enam bulan yang lalu. Dan, sya memergokinya. Bajingankan dia?

"Ya. Boby," lanjut perempuan itu lagi seraya memperlihatkan selembar foto--yang entah darimana diambilnya tiba-tiba sudah berada di tangan kanannya.

Ya itu Boby, mantanku. Lantas, kok, bisa berada di dalam kepalaku. Itu pertanyaannya.

"Boby kecewa. Perempuan yang dipacarinya ternyata tidak sebaik dirimu. Setelah tempo hari ketahuan selingkuh, Boby bersikukuh untuk tidak melanjutkannya. Akan tetapi, ia kebingungan akan apa yang dilakukan untuk bisa mendekatimu lagi. ia kehilangan cara untuk melakukannya. Ia hilang akal lantas jadi gila. Ia berlari ke hutan, dan setelahnya ia hilang di sana. Kamu tahu apa yang terjadi setelahnya? Boby mengubah dirinya menjadi nyamuk. Lantas mencarimu ke mana-mana. Akhirnya ia menemukanmu, menggigitmu, dan membiarkan bagian dari dirinya menjadi larva di dalam kepalamu."

Saya tersentak kaget. Benarkah?

Saya terbangun. Perempuan itu sudah tidak ada di tempatnya. Saya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang kamar. Perempuan itu tidak ada di mana-mana. Tiba-tiba sesuatu yang mendesak-desak di dalam lubang hidungku memompa syaraf otak untuk bersin. Saya menahannya, tapi tidak bisa.

Hatzieeeh!!!

Sesuatu terlontar dari hidungku. Sesuatu yang kecil tetapi berlendir. Saya perhatikan dengan saksama. Dan, ternyata itu adalah Boby, dalam skala sangat mini. Menggelungkan diri, kedinginan. Menatapku penuh haru.

"Boby?"



Cibatu, 10 Agustus 2016

Perihal Kota yang Merahasiakan Banyak Hal

Perihal Kota yang Merahasiakan Banyak Hal





Menujumu,
semua yang terserak
menjadi padu
menjadi ingatan bebal
yang kerap menebal

Di sini, api lama telah padam
asap yang membubung
cukup lama disembunyikan angin

Namun, separuh kenang tertahan lengang
di antara dinding jarak yang mengarak

Aku kembali menujumu
menuju kota-kota yang kerap kami singgahi
di masa yang lalu. Dulu.

Lantas, kamu sekarang di mana?
Kini?

Kotamu merahasiakan banyak hal,
perihal gadis yang dicumbui musim gugur dan lebur

Menujumu,
ke mana?




Cilawu-Salawu, 09 Agustus 2016

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kesunyian Abadi



 Kesunyian Abadi

Barangkali, lonceng di dadamu sudah lama mati.
Dongeng-dongeng malam para pejalan kaki sudah lama terhenti
di ruang tunggu ingatanmu.

Kesunyian tumbuh di kepalamu setelahnya.

"Tidak ada yang lebih sepi dari kesunyian." Itu katamu.
"Tidak ada yang lebih sunyi dari ditinggalkan."

Seorang gadis menyulam malam dengan dada yang lebam,
dada yang dendam.

Sang Kekasih tak kembali.
Dilarung angin,
dilarung samudera.

Lantas,
adakah yang lebih tabah dari desah napas yang didedah amarah?
Adakah yang lebih tabah dari air mata yang bedah kerana resah-gelisah?

Oh, betapa kekasih telah mencipta mantera paling hening di selasar jiwamu.

Kekasih pergi,
kesunyian menjadi abadi,
sepi,
pasti.


Garut, 05 Agustus 2016

Jumat, 05 Agustus 2016

SONG FOR YOU*

SONG FOR YOU*



Don't cry just sweep your pain from
your eyes
that makes me fall to your heart

Untuk yang di sana, apa kabarmu? Lama tidak kudengar kabar beritamu. Ketika angin selatan berembus, aku tanyakan kepadanya: apakah kamu baik-baik saja? Pun kepada angin utara yang berembus dengan aroma dingin yang menusuk, hal yang sama: kamu baik-baik saja, kan? Jika jarak membuatmu menangis, menangislah sebisa yang kamu mampu. Biarkan segala sesak yang berdesakan mengalir jatuh dari tubir matamu. Hapuslah atau biarkan semua luka mongering dengan sendirinya. Jangan tanyakan kenapa aku pergi, sebab pada akhirnya hidup adalah perkara meninggalkan dan ditinggalkan.


sorry, it's all i can say to your heart
you'll always with me

Ada banyak hal yang tersisa dari pertemuan, ada banyak hal pula yang tersisa dari perpisahan. Namun, ada banyak hal yang tersisa dari keduanya. Kerinduan yang membeku. Menunggu musim mencairkan segala gigil salju ruang dada. Aku selalu denganmu, itu yang kuinginkan, walau pada kenyataannya selalu ada jarak yang membentangkan ruang paling jauh rasa cinta kita. Aku rindu kepadamu. Itu sudah pasti.


you are my dream
my sweetest dream
please babe don't leave me alone

Kamu adalah mimpiku. Kamu adalah terjagaku. Jika aku mengatakan bahwa diriku akan pergi jauh, tidak berarti bahwa aku akan meninggalkanmu. Lama. Ada banyak hal yang tidak bisa selalu diungkap dengan kata-kata. Bahasa kepergian tidak selalu menghadirkan air mata. Aku pergi tak berarti meninggalkan. Aku bergegas lekas tak berarti membuat hatimu meranggas.


hold me tight
close in my arms
i'm with you wherever you are
you'll always be my happy life
this love will last forever

Tahan aku di ruang tunggu ingatanmu. Ingatkan aku akan kata kembali. Rentangkan dan dekaplah aku bila musim mengantarkan aku. Rebahkan aku di dadamu yang paling taman. Baui aku dengan aroma rekah bunga-bunga musim semi. Akulah hidup terindahmu. Kamulah hidup terindahku. My happy life it’s you, trust me. Jika aku kembali, inilah akhir dari penantian cintamu. Cinta kita selamanya.


trust me i know what you have been
through
believe me i'm here for you

Matahari musim panas berdenyar-denyar di kepalaku, pucuk-pucuk Akasia menyembunyikan jati dirinya, sementara rindu ini adalah daun-daun keringnya yang menghunjam tanah. Apakah ini artinya rinduku akan benar-benar mati? Menjadi jasad busuk cacing-cacing. Oh, Rindu, percaya kepadaku, betapa pun rasa ini sesak menghimpit, yakinkan bahwa aku tidak akan ke mana-mana, berada di sini. Selalu. Menunggumu. Percayalah, dengan sebuket besar bunga-bunga aku berdiri menantang laju angin, demi kamu.


feel me i always be around you
wherever i go

Rasakan aku, ke mana pun aku bergegas. Tak ada keraguan di dalamnya.

you are my dream
my sweetest dream
please babe don't leave me alone
hold me tight
close in my arms
i'm with you wherever you are
you'll always be my happy life
this love will last forever 

Aku akan kembali. Pasti. Kan kubawa harmoni musim semi. Nyanyian rindu yang kukumpulkan bersama senja dan terbit fajar kubawa kepadamu. Ketika aku kembali, berjanjilah untuk tidak membiarkan bola matamu yang telaga, bedah bersama air mata penantian. Aku kembali untukmu. Nada-nada rindu yang kujalin bak nyanyian cinta dongeng-dongeng para puteri bersama sang pangeran. Aku ingin kamu. Ingin segala hangat dekap tubuhmu.

Duhai, Kekasih. Lagu dan sajak ini kupersembahkan untukmu. Aku kembali. Bersama angin yang beremus pelan mengantar kepulanganku.




Cibatu, 05 Agustus 2016

*Song For You-AIR BAND


Minggu, 24 Juli 2016

Colour of My Blind

Ketika mereka menyebutkan bahwa warna matahari itu adalah oranye, aku tidak lantas percaya. Menurutku, warna matahari tidaklah demikian. Aku pernah membayangkan bahwa warna matahari itu adalah merah. Seperti pemikiranku selama ini. Aku merasakan kehangatan dari sentuhan sang matahari, sedikit membakar kulit dan aku yakin akan hal itu: hangat membakar adalah merah, seperti api. Aku pernah merasakan jilatan lidah api. Ketika aku tanyakan warna api kepada mamaku, ia mengatakan: merah.

Merah. Itu warna yang sering kali aku impikan untuk kulihat. Mereka mengatakan api itu merah, awan itu putih, dan laut itu biru. Aku selalu membayangkan bahwa hidup itu berwarna. Dan, aku selalu ingin melihat dunia sesuai dengan apa yang kubayangkan.

"Kenapa merah itu merah, Mama?"
Pertanyaan yang kerap kutanyakan kepada mamaku. Mamaku, hingga saat ini belum bisa menjawabnya secara gamblang. Sebagai gantinya, ia hanya bisa memberikan pengandaian dengan warna-warna yang ada di sekitarku, yang tentu saja, warna yang dimaksud oleh mamaku tidaklah sama dengan warna yang aku bayangkan. Merahnya mama tidak sama dengan merah yang dimaksud olehku.

"Apakah gelap itu artinya hitam?"
"Ya. Bisa jadi demikian."

Aku hanya bisa terdiam membisu ketika mama bercerita banyak tentang berbagai hal. Ketika menceritakannya, aku seolah-olah larut di dalam cerita mamaku.

"Aku ingin melihat burung, Ma. Menangkapnya kalau perlu. Sepertinya, burung adalah binatang yang paling indah di dunia ini, kan, Ma?" tanyaku suatu saat.
"Kenapa berpikir demikian, Sayang?"
"Dari suaranya, Ma."
Mama mengela napas panjang. Aku dengar ia mendesah. "Tidak, Nak. Ada yang lebih indah dari seekor burung."
"Apakah itu?"
"Alam semesta," jawab mama singkat saja. "Di mana burung-burung termasuk di dalamnya."

"Aku ingin melihat, Ma."
"Itu yang sangat kuinginkan, Sayang," jawab mamaku.
"Akan tetapi... aku mencintai kesunyian. Bisakah aku melihat tanpa harus melepaskan kesunyian yang lama menemaniku, Ma?"

Tidak ada jawaban selain belaian hangat yang mendarat di rambutku. Sesuatu yang hangat mendarat di atas keningku.

"Mama menangis?" tanyaku. "Maaf, Ma, kalau keinginanku membuat mama menangis, aku akan mengurungkannya," lanjutku.
"Tidak, Sayang. Mama menangis tidak untuk alasan itu."

*****

"Ma, ternyata apa yang kulihat sekarang, tidak seindah dengan apa yang aku bayangkan," keluhku ketika dunia ini tidak lagi hanya bisa kudengar, melainkan bisa kulihat dan kuraba.
"Aku ingin kembali kepada kesunyian, ketika keindahan hanya bisa kudengar saja."



Cibatu, 24 Juli 2016


Selasa, 16 Februari 2016

Joyeux Anniversaire




Bahkan, Sungai Seine di dadamu sudah lama ikut membeku
Di kepalamu, musim dingin tumbuh lebih cepat. Aku menghitung segala tanda segala gegap
riuh yang disamarkan angka-angka


Joyeux anniversaire

aku mengajakmu berdansa bersama letup aneka warna cahaya
"Usiamu bertambah, Sayang."
Masih adakah perayaan yang lupa kutuntaskan?

: Eiffel meleleh setelahnya


Cibatu, 28 Januari 2016