Minggu, 24 Januari 2016

AKU DAN JAKARTA










Aku dan Jakarta


Aku membaui aroma Jakarta
pagi ini. Dari pesing dan bedeng
yang menghimpit, tangisan pertamaku pecah

Aku, bocah kecil yang mengencingi ibukota, meminum timbal dan anyir limbah
Aku berkembang di antara atap-atap yang terendam
Di bahan pohon kersen tepi Ciliwung, ibuku mencuci kebodohan dengan sedikit deterjen bubuk
Aku, bocah kecil yang lupa caranya bermain bola. tanah lapang adalah separuh ingatan yang tertinggal entah di mana.

Orang-orang berlarian dalam kepalaku. Hiruk-pikuk penjaja tubuh menjadi aroma malam yang kerap kucicipi. Aku sudah biasa: mendengar rintih, mendengar desah. Bahkan, kelaminmu dicuci di mana, aku pun tahu

Aku membaui aroma Jakarta
pagi ini
ada yang mati di dalam got, di rumah Tuhan, di keramaian.  Nyawa Jakarta terlalu murah

Saham gabungan naik
valuta asing naik
kenapa harga diri dan rokmu malah turun?

Tenang saja Jakarta
aku masih 'cinta' padamu


Tasik Malaya, 15 Januari 2016

DAPUR KITA







Dapur Kita


: dari Alysa di riuh penggorengan kala subuh

Tak perlu mencincang bawang untuk membuatku menangis
seikat bayam tak mampu meredakan segala amarah

Ada yang kosong di piring nasi
percakapan, perdebatan

Celoteh ayam-ayam sudah lama pecah

Aku sedang menjerang segala kenang
memanaskan ingatan pada sekotak keju parut di atas oven

Kamu di sana. Mungkin
tak pernah ingat dengan menu
yang kerap aku buat

Aku tidak perlu mengiris bawang
untuk membuat mataku sembap
cukup, hangatkan memori
di magic com dapur kita
selebihnya kita kembali
ke tujuh tahun lalu

Aku, kamu
mengunyah segala sesap
pahit-getir kehidupan

Secangkir kopi sudah cukup
mengalirkan segala remah dan dedak ingatan
Tujuh tahun yang sendiri
di riuh dapur kita


BCI, 08 Januari 2016

Begitu Lekas, Begitu Gegas




Begitu Lekas, Begitu Gegas



Jam retak di pergelangan
tangan. Mengais-ngais luruhan waktu di ambang petang

Kau begitu gegas. Sepotong
cerita baru selesai kukunyah sementara
rindu yang datang selekas kereta api di ujung rel yang menuntun kepergian

Ada yang malam seusai senyap. Kau begitu lekas
begitu gegas. Napas yang kauhidu di jendela kamar
mencair lantas menggenang di atas
karpet ruang kita

Ruang dengan lengang-lengang setelahnya. Kau begitu
gegas, begitu lekas. Secepat
Tuhan mengutus malaikat menemuimu

Napas
terhenti
begitu lekas
gegas
: lengang


Tasik Malaya, 22 Januari 2016

Selasa, 19 Januari 2016

BUNGA TROTOAR



Ada yang tumbuh serupa benih
di sela trotoar kota ini
bunga harapan yang kelak layu sebelum saatnya

Bunga itu layu sebelum saatnya tiba
seorang gadis mengunyah bola matanya sendiri
menebar isak tangis di atas
batu yang terlanjur berbicara

Gadis yang lelap dalam buai hujan
dan iris gerimis

Di dadanya derap langkah jalanan adalah cerita usang yang kerap disimpan sebagai laju musim yang samar
Ia kerap bertanya perihal ayah
perihal ibu pada debu trotoar
selalu hening dalam senyap pertanyaan tak terjawab
: rindu ibu

Kepada ibunya ia kembali
dalam remang cuaca
saat kemarau hadir tertunda

Bunga yang layu belum saatnya
bunga trotoar mati terlindas roda zaman
menemui ibu menemui ayahnya


Indihyang-Tasik, 04 Desember 2015

Sabtu, 09 Januari 2016

PUISI SOSIAL

Random: Prolog Epilog untuk Penguasa



Boleh aku pinjam lubang telingamu, Bapak?
(sebentar saja) agar Bapak bisa lebih mendengar suara-suara sumbang Kami.


Oh ya! Aku harap Bapak belum benar-benar tuli. Sebab, banyak teriakan diabaikan, banyak jeritan dibisukan, bahkan banyak tangisan ketidakadilan dianggap angin lalu.
Baiklah. Tak Mengapa. Kami sudah terbiasa.


Ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkan, Pak?
(katanya: dari katanya) negeri ini sudah mati. Apa benar?
Tadinya aku ingin meminjam bola matamu sekalian (tentu saja) agar Bapak tahu, banyak tontonan menarik di negeri ini:


Lihat, Pak!
badut-badut politik main dagelan
para bedebah bermain drama
para pencoleng sutradaranya.


Mereka gembira, Bapak.
sedang Kami hanya puas jadi penonton. Mau tertawa (sepertinya) sulit.

Bagaimana bisa tertawa, bicara saja susah. Perut keroncongan: busung lapar.


Saat di televisi, Bapak bisanya hanya bercanda (saja). Garing, sih!
Tapi bukankah negeri ini butuh candaan?
biarkan Kami tertawa meski settingan
biarkan Kami bertepuk tangan meski tak menarik.
‘Sing penting Bapak senang ae.’ Betul?


Boleh pinjam lubang telingamu, Pak? sekalian bola matamu.
biar Bapak bisa mendengar dan melihat siapa Kami? Yang tercekik dan nyaris mati.


jangan tanya birokrasi
sebelum kami kenyang makan nasi
jangan tanya demokrasi
bila janji sekadar basa-basi
jangan tanya koalisi
bila kami dieksekusi hanya karena lantang berorasi


Subsidi
konvensasi
mungkin itu (hanya) sebuah trik sensasi

Penguasa…
penguasa…
muka kalian topeng besi
Nggak malu sama dasi?




Bangkai Negeri

Aku berdiri di atas negeri ini
negeri yang katanya tanah sorga
negeri ketika menyemai kayu-batu jadi tanaman

Mimpi yang sudah lama mati
coba kautanam kayu-batu
yang tumbuh bangkai dan taik

Negeri ini sudah lama kehilangan jatidiri:
anjing-anjing mengeong
sementara kucing-kucing terkaing-kaing
babi-babi mengembik
apakah tak lantas kambing-kambing mengaum?
Negeri yang aneh

Si Goblok mengaku pintar
Si Pintar merasa diri paling goblok
Lantas, yang goblok siapa?

Sudah! Lupakan!

Negeri ini sangat perkasa:
neraka dimakannya
matahari tentu saja dikunyahnya

Ah, betapa negeri ini sedang di ujung tanduk
tanduk siapa?

Aku berdiri di atas negeri ini
harusnya aku bangga
nyatanya tidak
Terlalu banyak tuan-tuan
yang memakan bangkai hambanya
terlalu banyak bangkai-bangkai
tergeletak dengan uar bau

Negeri yang sakit
sebentar lagi mungkin, mati
menjadi bangkai

Negeri yang sekarat
lahat yang mana hendak kalian gali?
sementara tanah-air tak menyisakan lubang pusara
Sama sekali

Ah!
Lupakan!

Mungkin aku akan jadi bagian
dari bangkai negeri ini
‪

#‎SaveIndonesia‬



BCI, 18 Desember 2015

TAK WAJAR



Kalau saja aku mengatakan kalimat itu jauh lebih cepat dari yang kurencanakan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang ini.

Entah aku harus bersyukur, atau sebaliknya: menyesalinya. Tapi, semua yang terjadi tetaplah tidak bisa diulangi. Ini hukum alam. Kalaupun hal ini bisa dilakukan--mengulang waktu, aku yakin orang itu sedang bermimpi.

Kejadiannya mungkin sudah sangat lama, bahkan untuk menceritakannya kembali, sebagian memori otakku tak mampu terkoneksi dengan jitu. Anggap saja cerita yang akan kukisahkan ini sebuah buku novel yang salah satu atau beberapa lembarnya hilang, mungkin disobek oleh pemiliknya.

Adalah Yunita yang kelak akan menjadi perempuan yang sangat aku kagumi. Wajahnya tidak spesial, selain bola mata yang besar selayaknya tokoh perempuan di film-film kartun Jepang--Candy Candy, misalnya.
Kenapa tidak mengagumi Erlita yang cantik sempurna? Atau Nunu, perempuan blasteran Indo-Jerman, atau Rani yang keturanan India?

Entahlah. Yang pasti rasa kagum itu tidak bisa dipaksakan. Perkara siapa mengagumi siapa, itu tak lebih dari misteri yang sulit dipecahkan.

Kembali kepada Yunita. Bukankah aku telah mengatakannya, bahwa tak ada yang spesial dalam dirinya kecuali bola mata besarnya? Bukan. Bukan itu yang membuatku bersikeras untuk mengaguminya.

Hal lain. Dia baik dan selalu mengajakku ikut serta ke mana pun ia bergegas. Ke taman sekolah. Ke ruang perpustakaan. Ke sudut kelas yang ditumbuhi rerimbun pohon cemara.

Bahkan, ke tempat paling rahasia yang orang lain tidak akan pernah mendatanginya: belakang wc umum sekolah. Ini gila! Tentu saja ini gila. Cinta memang terkadang begitu; bisa membuatmu melakukan hal-hal gila.

Cinta? Sebenarnya aku hanya menyebutnya demikian, padahal artinya sendiri aku jelas-jelas tidak tahu.
Aku mengaguminya, bukan mencintainya. Kagum dan cinta memiliki arti harfiah yang berbeda bukan?

Di balik tembok wc umum sekolah itu, aku kerap bercerita. Tentang apapun: binatang peliharaan, acara televisi pavorit, hingga orang tua siapa yang paling kaya. Terdengar nggak wajar memang. Namun, kenyataannya memang demikian.

Di sana, aku dan dirinya kerap tertawa terbahak-bahak hingga lupa waktu. Bahkan, suatu saat kami tak menyadari bahwa jam pulang sudah saatnya. Terkuncilah kami di dalam sekolah, hingga orang tua kami panik mendapati anak-anaknya belum pulang padahal sudah hampir sore.

Kalau saja aku mengatakan kalimat tersebut jauh lebih cepat dari rencana semula, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.

Aku mencintainya saat itu, walau sebenarnya aku memulainya dengan rasa kagum. Aku berani mengatakannya itu cinta setelah hari ini. Sebab, kala itu aku sama sekali tak paham artinya.

Untung saja aku tidak mengatakannya saat itu. Kalaupun iya, jawabannya mungkin akan jauh berbeda dengan jawaban yang sekarang akan aku dengar dari bibirnya yang mulai ranum. Ini untuk pertemuan kedua kami setelah lama terpisah.

"Aku mencintaimu, Yun. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya?"

Kalimat itu kurang lebih sama dengan kalimat yang ingin kukatakan kala itu. Kalian tahu, aku hampir mengatakannya kalau saja ia tidak bergegas pergi pada hari terakhirnya menjadi salah satu murid kelas 4 SD 05 Kerta Jaya. Aku kurang seperempat menit dari waktu yang telah kurencanakan. Terdiamlah aku menatapi meja kosong tempatnya belajar--aku duduk tepat di samping mejanya.

"Maaf, aku sudah bertunangan," ucap Yunita sesaat setelah kutanyakan kalimat yang dulu pernah mau kukemukakan.

Terdiamlah aku, sama persis dengan kejadian kala itu; menatapi meja kosong.
Cinta memang gila. Kadang tak wajar.


Cibatu, 23 November 2015