Minggu, 12 Maret 2017

Gadis Penunggu Hujan

GADIS PENUNGGU HUJAN

           
Aku berada di sebuah padang ilalang luas dengan batu-batu granit terpahat di atas bukit-bukitnya. Aku tidak sedang menunggu hujan seperti yang biasa aku lakukan selagi masih kecil, walau sekarang pun masih belum dikatakan dewasa.
Aku sedang berusaha menenangkan pikiran di tempat ini. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi dan aku ingin mengalihkan rasa tidak nyaman itu segera: bapakku mau menikah lagi di usianya yang menyentuh angka tujuh puluh lima tahun. Ini sangat memalukan. Teman-teman sebayaku terus mengejekku dan mengatai bahwa bapakku itu sangat keterlaluan.
“Tua-tua keladi.” Itu kata mereka. Terus terang saja, aku malu. Di usiaku yang baru beranjak sembilan tahun ini, kenyataan seperti ini membuatku sedikit minder, dan membuatku banyak mengurung diri.
Aku tidak ingin menghadiri acara pernikahannya. Untuk apa coba? Aku benar-benar tidak merestuinya. Aku pikir Bapak sudah tidak sayang lagi kepada almarhumah ibuku, makanya memutuskan untuk menikah lagi.
            Sebenarnya Bapak tidak salah. Mungkin bapakku terlalu lama kesepian setelah ditinggal oleh Ibu. Tapi, aku mengabaikan fakta tersebut. Setiap kali Bapak mengutarakan maksudnya, aku selalu menentangnya. Aku selalu tidak pernah setuju kalau Bapak melakukannya. Kali ini Bapak melakukannya tanpa izin dariku.
Aku ingin duduk menyendiri dan melupakah rasa pedih di dalam hatiku perihal keputusan bapakku. Rencanaku, aku ingin menangis meraung-raung seraya memanggil-manggil nama ibuku beberapa lama hingga rasa sesak di dalam dada ini sedikit berkurang atau hilang sama sekali—walau hal itu sangat tidak mungkin, bila ada orang lain di sekitarku  muncul tiba-tiba.

Rencana menyendiriku ternyata gagal. Seorang gadis, tanpa kutahu datang dari arah mana, telah berdiri membelakangiku. Dia sedang mendongak menantang awan yang mulai memekat menunggu hujan tiba.
Aku tak tahu pada mulanya apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Mulanya dia berdiri mematung menghadap langit yang pekat, setelahnya dia membentangkan kedua belah tangannya. Awan yang berarak, bergerak diembus angin. Dia, gadis itu, seolah kehilangan daya langkah kakinya dan terpasak lantas lunglai menghunjam tanah yang ditumbuhi rumput ilalang, juga batu-batu kecil yang terserak.
            Tak ada yang istimewa dengan gadis itu kecuali sebuah buntalan kain warna putih—pudar menjadi abu-abu karena debu dan kotoran—yang tersampir di bahunya. Tubuhnya yang kurus dan legam seolah mengingatkan aku pada pengemis-pengemis cilik di seputar perempatan lampu merah di kota-kota besar yang sering kutemui ketika aku berlibur.
            Aku memandangnya berkali-kali dengan penasaran. Dia, merentangkan tangannya seolah ingin terbang menyapa awan-awan itu. Sementara rambutnya yang ikal bergoyang-goyang. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya, sebab kondisinya yang membelakangiku, membuat pandanganku hanya tertumpu pada belakang tubuhnya.
            Apakah ia menangis? Pundaknya bergerak-gerak. Hal itu mengingatkanku akan orang-orang yang sedang menangis: pundak turun-naik menahan sedu.
Ini kali ketiga dia membentangkan kedua belah tangannya. Dua kesempatan sebelumnya hanya kuperhatikan sepintas, sambil lalu, tentu saja. Kali ini, sesuatu yang menggelitik hatiku menyuruhku untuk fokus, tanpa dia ketahui. Aku berjarak beberapa meter di belakang tubuhnya.
Dia berdiri mendongakkan wajah, mungkin disertai gumaman. Dari jarak beberapa meter dari tempatku berdiri, suara serak menanggung lelah terdengar samar.
“Apa yang kamu lakukan?” Aku mendekatinya. Dia sama sekali tidak bereaksi. Jangankan menoleh, terlihat kaget pun tidak.
Harusnya aku berdiri saja memperhatikan dirinya dari jauh. Entahlah. Dorongan dalam diriku seolah menuntunku untuk mendekat. Aku penasaran. Untuk itulah aku bertanya kepadanya.
“Apa yang kamu lakukan?” Aku mengulangi pertanyaan. Sekali ini dia menoleh. Wajahnya begitu menyedihkan. Aku pikir, usianya jauh lebih muda dari tampilan wajahnya. Dia tersenyum ramah seolah mengenaliku. Giginya yang hitam terlihat tidak rata di beberapa bagian. Mungkin, dia sembilan tahun, sama sepertiku. Wajahnya yang kumal dan tidak terurus membuatnya terlihat sangat tua belasan tahun.
“Menunggu hujan,” ucapnya lirih. Kembali dia tersenyum. “Apakah kamu juga demikian?”
Aku? Maksudmu aku juga menunggu hujan? Aku menggeleng lantas ikut tersenyum. Dulu, iya. Aku sering melakukannya. Nenek bilang ibuku meninggal dalam kondisi suci—sehabis melahirkanku, dan jasadnya terpecah menjadi bulir-bulir hujan. Setiap hujan tiba aku akan menunggu kedatangan Ibu. Itu kulakukan hingga usiaku lima tahun. Namun, selama beberapa tahun itu, tak sekalipun aku bertemu dengan Ibu. Setelahnya aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.
Pertanyaan gadis itu sontak membawa ingatanku beberapa tahun lalu kembali.
“Menunggu hujan? Apa maksudnya?” tanyaku.
Dia merentangkan tangannya kembali, mulutnya terbuka dan menggumam. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak bisa kupahami. Terdengar aneh, bukan kalimat seperti biasa orang-orang ucapkan. Apakah ini semacam mantra?
“Kamu memanggil hujan?”
“Tidak.”
“Lantas?”
“Aku memanggil ibuku?”
“Ibu?” tanyaku heran. Dia menurunkan rentangan tangannya. Dia kembali tersenyum, memperlihatkan barisan gigi hitamnya yang berantakan.
“Ibuku berjanji akan datang bersama hujan,” ucapnya. Dia menurunkan buntalan kain, membiarkannya tergeletak begitu saja di atas tanah. Awan semakin menghitam, mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Buntalan kain itu bergerak-gerak seolah seseorang ada di dalamnya dan ingin keluar. Aku menatapnya terkejut.
“Itu Bapak,” ucapnya lagi untuk menutupi keterkejutanku. Itu membuat aku semakin heran.
“Bapak selalu muncul tiba-tiba di dalam buntalan itu ketika aku akan menemui Ibu. Itu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tahu-tahu sudah ada di dalam, seperti saat ini. Entah bagaimana caranya masuk.” Dia menjelaskan dan membuat diriku semakin keheranan.
“Ibu pergi ketika Bapak sedang tidak di rumah. Yang aku tahu, Ibu menghilang ketika hujan turun. Setelah Ibu menghilang, Bapak sakit lantas setelahnya ikut juga menghilang,” terangnya.
“Aku mendengar kabar bahwa ibuku dibawa pergi oleh hujan. Bapak tidak terima kemudian mengejar Ibu. Entah ke mana. Suatu saat Bapak kembali dalam keadaan yang sangat memprihatinkan: tubuhnya bengkak dengan lebam di mana-mana. Bapak demam beberapa lama, setelah itu Bapak menghilang tanpa jejak. Aku tidak tahu ke mana Bapak pergi. Yang aku tahu Bapak pergi mencari Ibu lagi. Itu dilakukannya terus menerus tanpa kenal lelah. Anehnya Bapak suka kembali tiba-tiba. Bapak selalu muncul di dalam buntalan itu ketika hujan akan turun tanpa kuketahui sebelumnya.”
“Aku bingung. katamu bapakmu menghilang, terus katamu itu bapak,” protesku seraya menunjuk buntalan yang terus bergerak-gerak.
“Bapak selalu muncul di dalam buntalan ketika aku ingin menemui Ibu.”
Aku semakin bingung dengan uraiannya. Ini sangat membingungkan. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan gadis ini sebenarnya siapa, apa semua ceritanya itu benar?
Petir mulai menyambar-nyambar. Sesuatu yang hitam muncul tiba-tiba di tengah gerombolan awan pekat. Tetes hujan mulai turun dari atas langit.
“Beliau datang,” ucapnya seraya bersiap-siap dengan posisi berdirinya semula, membelakangiku. “Ibuku datang. Beliau akan menjemput aku dan Bapak segera.”
Aku segera berlindung ketika hujan dengan begitu derasnya turun. Sementara gadis itu membentangkan tangannya kembali. Mulutnya bergumam-gumam, sementara buntalan itu terus bergerak-gerak seolah sebuah kekuatan mahadahsyat ingin melepaskan diri. Aku termangu, sebuah pohon rindang telah menyelamatkan tubuhku dari basahnya air hujan.
Aku terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Petir terus menyambar-nyambar. Beberapa menit kemudian ketika pandanganku lengah—kilatan petir membuat mataku terpejam beberapa saat karena silau, gadis itu hilang beserta buntalannya juga gemuruh halilintar yang memekakkan telinga menyertainya. Aku melonjak serta merta menutup telingaku. Sejurus kemudian gadis itu benar-benar menghilang dari tatapanku.

“Kamu sedang apa?” di antara deru suara halilintar pertanyaan itu sampai di lubang pendengaranku.
“Menunggu hujan. Menunggu Ibu,” jawabku tanpa kusadari. Harusnya bukan itu yang kukatakan.
“Ibumu tidak mungkin kembali.”
Aku menoleh. Sosok itu berdiri dengan ringkih. Aku seolah mengenalnya tapi siapa? Badannya sudah membungkuk, keriput di beberapa bagian wajahnya sudah menggelambir. Bola matanya yang sudah lamur bergerak-gerak. Dia berdiri begitu dekat dengan tubuhku. Satu pertanyaanku yang tiba-tiba muncul: apakah perempuan tua ini ada hubungannya dengan gadis kecil tadi?
“Ibumu tidak mungkin kembali,” ulang perempuan tua itu.
“Kenapa demikian?”
Sebenarnya aku menyangsikan ucapan perempuan tua itu. Perihal ia siapa, sama sekali tidak bisa kuterka. Apakah ia mengenal ibuku? Apakah ada hubungan keluarga dengan almarhumah ibuku? Atau….
Ada atau-atau lain yang berjejer di dalam kepalaku. Aku semakin bingung dibuatnya.
“Ibumu sudah bahagia di langit sana menjadi bulir-bulir hujan surgawi,” jawabnya. “Dan biarkan bapakmu pun bahagia.”
“Bapak?”
“Ya. Bapakmu,” tegas perempuan tua itu.
Perempuan itu seakan tahu akan apa yang sedang terjadi.

Aku memutar pandanganku ke arah tubuh gadis itu menghilang. Kemudian mengarahkan kembali pandanganku ke arah perempuan tadi. Hujan terus turun semakin deras. Pohon-pohon tampak kuyup. Halilintar terus menyambar-nyambar di atas langit sana yang awannya semakin tebal memekat. Aku terpaku, sesuatu yang ganjil tengah terjadi. Sepertinya begitu. Aku melekatkan pandangan di antara bulir-bulir jarum air hujan. Dan… setelahnya aku tidak lagi bisa melihat tubuh perempuan tua itu. Apakah perempuan tua itu pergi atau menghilang?
Entahlah. Jejak-jejaknya seperti lenyap di antara hujan.
Halilintar menggelegar, hujan deras terus turun. Aku hanya mampu bertahan sebentar di bawah pohon, sesudahnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan.
“Ibumu tidak mungkin kembali.” Suara itu terus terdengar berulang-ulang.
“Benarkah?”
“Benarkah demikian?” ulangku.


Cibatu, 25 Mei 2016


Dimuat di Flores Sastra, Februari 2017


Senin, 23 Januari 2017

Memulai


Kau tak musti mencela. Tentu saja. Retak angin gemeretak pada musim-musim setelah gugur raib kautinggalkan.

Bunga lili jatuh-bangun menegakkan keinginan. Bahkan kau tak ingat terakhir kali menanamnya; tunas air mata dan ketakutan yang memupuk tanah tumbuhnya mekar terlampau memar. Aku selalu lupa menyiraminya dengan air bahagia.

Aku atau kau yang kerap lupa?

Kau bahagia. Kabar angin beringas mengabarkan pesan. Syukurlah! Aku kerap lara menimang-nimang kehendak: melupakan atau mengingat-ingat.

Ah! Dedak kopi di pikiran mengendap begitu saja, sementara sepiring kenangan harus kulumat hingga tuntas. Betapa sakitnya merindu. Retih. Letih. Ringkih. Perih.

Kau telah memulai. Aku sama saja. Terjebak dalam kesendirian tarian sunyi.
Dari arah sebelah mana aku harus memulai: Barat-Timur, Utara-Selatan?
Atau tidak dari mana pun
: dari hati yang resah, berdarah, lantas musnah
Punah.


Cibatu - Garut, 16 Desember 2016, 19: 17

Sabtu, 14 Januari 2017

Kisah yang Menunggu untuk Segera Diakhiri


Membaca tubuhmu, adalah menderas segala kisah kehidupan yang dibukukan waktu di matamu, dituliskan masa di dadamu. Aku melafal segala kemungkinan yang sudah lama jatuh dalam paragraf-paragraf usang bahasa riwayat.

Serupa prolog yang membuka percakapan tentang pertemuan, seperti itulah cerita mengalir dalam bahasanya sendiri. Tidak perlu jeda, tidak perlu tanda baca.

Kisahmu masih sama saja. Memburam dan hampir saja pudar, seumpama epilog yang menggantung dan tidak mengakhiri cerita apa pun (aku hanya figuran konyol yang lewat begitu saja tanpa sedikit pun berkuasa atas dialog yang seharusnya tertuju padamu: sang tokoh utama).

Kisah yang menunggu untuk segera diakhiri. Lewat segala ending yang mau tidak mau harus ditulistuntaskan.



Buni Nagara - Tasik Malaya, 13 Januari 2017

Selasa, 10 Januari 2017

Sulaiman dan Sebuah Perumpamaan


Sebagaimana burung terbang membentangkan sayap-sayap,
sebagaimana itu pula Sulaiman mengekalkan riwayat pada kisah-kisah sebelum kamu.
Tentang penciptaan negeri Salva dalam kepak sayap burung Hud-hud.

Kau tak mengira,
hidup adalah perihal perumpamaan:
burung yang terbang tinggi, menukik jatuh terempas, melayang menantang laju angin, lantas mati dipusarakan sejarah.
Bukankah riwayat hidupmu akan seperti demikian (adanya)?
Sulaiman yang gagah sekalipun mati dalam dekap tak berdaya rayap-rayap.

Sebagaimana Sulaiman.
Sebagaimana pula percakapan burung Hud-hud yang kisahnya dilontarkan masa lalu, perihal Balqis dan segenap keagungan yang terlampau diagung-agungkan.

Hidup bukan hanya perihal terbang tinggi (tapi, terbang dan jatuh).
Bukankah kisah Balqis dikalamkan ayat-ayat dalam kejatuhan setelah terbang?
Betapa manusia kerap merindu terbang sementara sayap-sayapnya terkadang kebas dan patah.
Mereka mengira kejatuhan tidak lebih menyakitkan dari kisah Putri Balqis.

Jauh sebelum kisah Sulaiman dan Hud-hud dicatat,
manusia kerap lupa. Hidup tidak lebih dari perumpamaan burung terbang yang kelak akan jatuh juga sebagai sejarah singkat,
dalam kefanaan dunia


Cibatu, 09 Januari 2017

Rabu, 14 Desember 2016

Guruminda dan Purbasari



           

          Prabu Tapak Agung sebenarnya enggan untuk mengatakannya, akan tetapi semakin dirinya memendam permasalahan ini, semakin pusing ia memikirkannya. Berkali-kali ia minta pendapat kepada istrinya, tentu saja, sang Permaisuri hanya mengatakan bahwa keputusan mutlak ada di tangan sang Prabu, ia hanya mengikuti.
            Hampir setiap malam Sang Prabu kerap berdoa agar diberi petunjuk oleh sang Hyang Widhi, tetap saja petunjuknya tidak lain dan tidak bukan adalah keputusan yang telah dibuatnya semula. Ini berat, tentu saja. Bahkan, sebelum mengatakannya pun, sang Prabu sudah bisa menebak akan apa yang kelak terjadi. Ia paham betul dengan karakter putri sulungnya ini.
            “Apa itu artinya Ayahanda sudah berlaku kurang adil terhadapku?” Purbararang tampaknya tidak terima dengan keputusan ayahnya yang lebih memilih adik bungsunya, Purbasari, untuk mengambil alih tampuk pemerintahan Kerajaan Pasir Batang, ketimbang kepada dirinya.
            Purbararang merasa bahwa kekuasaan itu harusnya jatuh ke tangannya sebagai putri pertama sang Prabu, bukan kepada putri terakhirnya. Tapi, kenapa malah itu terjadi? Bukankah ini sebuah kesalahan, yang menurut Purbararang tidak semestinya terjadi.
            “Tidak. Tidak sama sekali putriku. Ini keputusan sang Dewata, Ayahanda hanya mengikuti titah-Nya saja.” Ada sesal teramat berat yang diutarakan lewat ucapannya yang terbata. Sang Prabu menatap putri sulungnya itu dengan sorot mata berdosa.
            Purbararang tidak mampu berkata-kata lagi setelahnya. Ada rasa perih yang begitu saja mengiris ulu hatinya. Matanya yang tidak terima, bedah hingga alirannya meleleh begitu saja di sudut kedua matanya. Ia melangkah pergi meninggalkan sang Prabu yang masih berdiri di depan singgasananya, dengan tubuh lunglai. Sang Prabu sadar bahwa keputusan ini akan menyakiti hati Purbararang. Sementara itu, Purbasari yang masih tertunduk lesu, tak mampu berbuat banyak selain ikut menangis. Ia tidak menginginkan ini sama sekali. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali menuruti kehendak ayahandanya itu.
            “Purbararang lebih berhak, Ayahanda,” ucap Purbasari lirih, nyaris tidak terdengar.
            Sang Prabu menatap putri bungsunya itu, mengusap bahunya lembut. “Berdirilah putriku. Sang Dewata sudah memberikan titah-Nya, ayahandamu ini hanya menuruti perintah-Nya saja. Tidak ada yang berlaku tidak adil bila sang Dewata menghendaki. Ini adalah takdirmu, putriku.”
            Purbasari mendekap tubuh ayahandanya dengan erat. Perasaannya campur aduk: senang, bahagia, sedih, tidak enak, bahkan merasa bersalah terhadap kakaknya—yang seharusnya menjadi pemimpin baru kerajaan Pasir Batang.
            “Kau harus segera mempersiapkan diri, putriku. Saatnya akan segera tiba. Kau adalah penerus masa kejayaan kerajaan ini,” pungkas sang Prabu seraya mengamit tangan putrinya itu bergegas menuju Keputren.


*****

Adalah Sanghyang Guruminda yang menjalani takdir yang telah digariskan Hyang Widhi, ia terusir dari Kahyangan oleh sebuah kesalahan yang dilakukannya. Tidak ada yang patut disesalinya, sebab apa yang telah disemainya, itulah yang kelak akan dituainya. Guruminda paham akan hal itu.
Menjalani hari-hari sepi di dalam hutan di bumi tidak membuatnya merasa seorang yang terbuang. Ia menjalaninya dengan sabar dan penuh keikhlasan. Tidak ada teman yang bisa diajaknya berbicara selain hewan-hewan yang menempati hutan tersebut. Hari-harinya dihabiskan untuk berkeliling di seputaran hutan tersebut.
Tubuhnya yang tidak lagi berwujud manusia tidak membuatnya dijauhi oleh hewan-hewan. Hewan-hewan itu merasa bahwa Guruminda adalah bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada pula yang hendak mencelakainya, hewan itu tidak pernah sama sekali berupaya menjahati sang Guruminda.
Guruminda tersesat di dalam hutan. Itu faktanya. Dan, ia sama sekali tidak memperkenalkan dirinya yang sebenarnya sebagai Guruminda kepada teman-teman hewannya. Guruminda menyebut dirinya sebagai Lutung Kasarung, seekor monyet hitam dengan ekornya yang panjang menjuntai. Kelak, Lutung Kasarung akan menjelma kembali sebagai seorang pangeran bagus rupa.


Sang Prabu lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya semenjak kejadian itu. Ia merasa sangat berdosa kepada Purbararang hingga tubuhnya lambat laun mulai digerogoti oleh penyakit. Dalam hal ini sang Prabu tidak salah sama sekali. Ini adalah takdir yang sudah digariskan langit.
Bukan tanpa alasan—selain petunjuk dari Hyang Widhi, sang Prabu menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Purbasari. Ini sudah dipikirkan oleh sang Prabu dengan sangat matang. Perangai Purbararang yang sombong, angkuh, dan terlalu tergesa-gesa bila mengambil suatu keputusan, jelas bukan pribadi yang cocok untuk dijadikan seorang pemimpin. Pemimpin adalah seseorang yang berjiwa arif, bijaksana, tidak memihak, dan terpenting mengambil suatu keputusan selalu melalui pemikiran yang matang. Dan, sifat yang baik bagi seorang pemimpin, tersemat dengan lengkap pada sosok Purbasari. Itu inti dari keputusan mengapa sang Prabu lebih memilih Purbasari sebagai pemimpin baru menggantikan dirinya ketimbang Purbararang.
Sebenarnya, putri sang Prabu berjumlah tujuh, yakni: Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuwi, dan Purbasari. Berhubung lima dari ketujuh putrinya itu sudah menikah dan dibawa oleh suaminya yang semuanya seorang raja ke istananya masing-masing, tinggal dua putri inilah yang tersisa: Purbararang dan Purbasari.

“Aku harus melakukan sesuatu, Kakanda,” ucap Purbararang kepada tunangannya, Indra Jaya. “Aku sama sekali tidak terima diperlakukan tidak adil seperti ini. Aku harus menyingkirkan Purbasari agar kekuasaan itu secara otomatis jatuh ke tanganku.
Adalah Indra Jaya yang begitu bersemangat untuk membantu meluluskan rencana tunangannya itu. Sama halnya denga Purbararang, Indra Jaya pun merasa tersulut emosinya ketika mengetahui bahwa kekuasaan yang harusnya jatuh ke tangan calon istrinya itu berbelok ke tangan Purbasari.
“Tentu saja aku sangat setuju. Bukankah itu artinya harga diri kita sudah diinjak-injak?” Indra Jaya mendelik. Purbararang tampak mengangguk-angguk, sementara wajahnya memerah padam disulut emosi.
“Kita akan melakukannya sama-sama. Hingga Purbasari terusir dari kerajaan,” tegas Purbararang.
Esoknya, mereka berdua mendatangi seorang dukun perempuan untuk meminta pertolongan kepadanya. Tidak banyak yang ingin dilakukan oleh Purbararang kecuali membuat adiknya itu terusir. Sang dukun mengangguk. Dalam segala hal yang berbau mencelakai orang, perempuan tua inilah ahlinya.
Nama dukun perempuan itu adalah Ni Ronde. Rambutnya yang memutih sungguh menakutkan, ditambah pula dengan banyak kerut keriput di wajahnya semakin menampakkan kebengisan perempuan ini.
Ni Ronde melaksanakan titah yang diberikan Purbararang kepadanya. Ia hanya butuh duduk bersila, memejamkan mata, membaca mantera, setelahnya, siluman peliharaannya yang bekerja. Purbararang menatap perempuan itu dengan sorot penuh harap. Purbararang menginginkan misinya ini berhasil.

Istana digegerkan oleh sebuah kejadian yang sangat aneh. Sehari sebelum penobatan Purbasari menjadi pemimpin kerajaan Pasir Batang, putri itu tiba-tiba sakit. Tubuhnya diserang oleh penyakit gatal-gatal yang tidak terkira. Seluruh tubuhnya ditumbuhi oleh bentol-bentol hitam. Banyak tabib didatangkan. Banyak orang pintar dihadirkan. Banyak dukun sakti diundang. Namun, tidak ada satu pun yang mampu menyembuhkan sakitnya sang Putri.
Purbararang mengambil kesempatan. Ia datang kepada ayahandanya untuk menghasut. Ia seolah-olah mendapat petunjuk bahwa apa yang terjadi pada diri Purbasari adalah sebuah kutukan.
“Mungkin Ayahanda telah salah mengambil keputusan hingga sang Hyang Widhi tampak murka. Mungkin ini semacam kutukan agar Ayahanda membatalkan rencana pengangkatan Purbasari menjadi pemimpin. Maaf, bila putrimu ini sedikit lancang,” ujar Purbasari.
Sang Prabu berdiri mematung. Apa yang dikatakan oleh Purbararang mungkin ada benarnya. Tapi, ada sedikit rasa sangsi dalam hatinya.
Purbararang tidak mau menyerah. Ia segera menghasut kembali. “Kalau Ayahanda bersikeras untuk melanjutkannya, kemungkinan terburuk adalah penyakit itu tidak saja menyerang Purbasari, bisa jadi akan menyerang Ayahanda, aku, Ibunda, dan seluruh rakyat Kerajaan Pasir Batang. Ini harus segera dihentikan,” papar Purbararang berapi-api.
Sang Prabu terpengaruh. Ia sudah masuk dalam perangkap hasutan Purbararang. Merasa berada di atas angin, Purbararang kembali melancarkan hasutan selanjutnya.
“Mungkin, mengasingkan Purbasari ke dalam hutan adalah jalan terbaik untuk menangkal kutukan itu. Lagipula, apa Ayahanda tidak malu mendengar pergunjingan orang-orang akan penyakit yang diderita Purbasari yang terdengar aneh?”
Semakin sang Prabu mendengar akan apa yang dikatakan oleh putri sulungnya itu, semakin merasa bahwa apa yang dikatakan oleh putri sulungnya itu ada benarnya. Sang Prabu pun terus berpikir untuk mengikuti saran yang diajukan oleh Purbararang.
“Sepertinya hal itu ada benarnya, putriku. Baiklah, besok pagi, Ayahanda akan memerintahkan Uwak Batara Lengser untuk mengantarkan Purbasari ke hutan untuk diasingkan,” tegas sang Prabu.
Betapa senangnya Purbararang. Itu artinya, kekuasaan akan otomatis jatuh ke tangannya. Ini patut dirayakan, batinya. Ia tersenyum sementara Purbasari akan merasakan derita teramat berat di dalam pengasingan.


Purbasari tidak habis pikir kenapa ini terjadi. Semakin ia pikirkan semakin dirinya tidak memahaminya. Beberapa hari ia berusaha untuk menerima keadaanya dengan ikhlas. Mulanya sulit, tapi lama kelamaan akhirnya ia bisa menjalaninya.
Uwak Batara Lengser bukanlah tipe orang yang tidak punya hati. Sebelum ia pergi, dibuatkannya Purbasari sebuah pondokan yang bisa melndunginya dari hewan-hewan buas juga cuaca yang buruk.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Purbasari selain berdiam diri di dalam pondokannya itu. Kian hari tubuhnya kian sakit. Rasa gatal yang menjalar di seluruh tubuhnya tidak sekalipun pernah berhenti. Bintik-bintik hitam itu terus menyebar hingga tubuhnya tak lebih dari seekor monster yang menyeramkan.
Tidak seorang manusia pun di dalam hutan. Mulanya ada rasa takut akan kehadiran hewan-hewan di sekitar pondokan. Namun, hewan-hewan yang berkeliaran di dalam hutan dekat pondokannya itu lama kelamaan menjadi pemandangan yang biasa bagi Purbasari. Dulu ia sangat takut didatangi oleh hewan-hewan. Seiring waktu, hewan-hewan itu untuk kemudian menjadi sahabat-sahabat yang kerap berkunjung ke dalam pondokannya, termasuk si Lutung, seekor monyet berbulu hitam.
“Kamu cantik,” ucap si Lutung suatu saat.
Betapa terkejutnya Purbasari mendapatkan fakta mengejutkan bahwa si Lutung, monyet hitam yang kerap dibelai dan dipeluknya itu pandai berbicara seperti layaknya manusia. Untuk beberapa saat Purbasari tertegun, ia masih tidak percaya dengan pendengarannya.
“Tidak sama sekali. Bahkan kedua orangtuaku mengasingkanku hanya karena aku buruk rupa,” ucap Purbasari setelah kesadarannya kembali. Ia menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang berbintik-bintik hitam, termasuk menunjuk ke arah wajahnya.
Si Lutung tertawa terbahak. “Tidak sama sekali, putriku. Bahkan, jauh di belakang wajah burukmu, kecantikan terpancar jelas,” hiburnya.
“Kamu terlalu berlebihan Lutung.”
“Aku serius. Sama sekali tidak berlebihan,” bela si Lutung.

Lutung Kasarung adalah Guruminda yang mengubah wujud. Ia adalah seorang yang sakti. Demi menolong Purbasari yang sedang dilanda lara, ia berjuang untuk membantunya. Suatu malam ia melakukan tapa brata. Ia memohon kepada Dewata untuk mengembalikan wajah dan tubuh buruk Purbasari kembali ke asal semula. Doa Guruminda dikabulkan. Esoknya sebuah telaga merekah begitu saja di dalam hutan. Airnya yang jernih tampak indah dan airnya yang dingin tampak sangat menyegarkan.
“Aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Maukah kau ikut denganku, Putri?”
Purbasari menatap mata Lutung Kasarung setengah bingung. “Apakah itu?” tanya Purbasari.
Dibekap rasa penasaran, ikutlah Purbasari. Lutung Kasarung menuntunnya ke tempat yang dituju. Purbasari begitu takjub dengan pemandangan di depannya. Ia tidak mengira bahwa di dalam hutan yang sepi ini, tersimpan sebuah telaga rahasia yang begitu menakjubkan.
“Berenanglah, Putri. Sebab hanya dengan melakukan itu, penyakitmu akan hilang.”
“Benarkah itu, Lutung?”
Lutung Kasarung mengangguk. Tanpa diketahui oleh Purbasari yang telah menyeburkan diri ke dalam danau, Lutung Kasarung bersembunyi ke balik pohon agar ia tidak tergoda untuk mengintip sang Putri yang sedang berenang.
Keajaiban terjadi. Tubuh Purbasari yang dipenuhi oleh bentol dan bintik-bintik hitam hilang sama sekali. Purbasari kembali seperti sedia kala: putri yang sangat cantik dengan kulit tubuh seputih susu. Purbasari menatap bayangannya sendiri di permukaan telaga yang bening. Betapa terkejutnya ia akan apa yang dilihatnya. Ia senang alang kepalang. Lutung Kasarung telah mengembalikan kecantikannya.
“Aku ingin menjadi tunanganmu, Lutung.” Sebagai ucapan terima kasihnya, Purbasari bersedia untuk menjadi calon istri bagi Lutung Kasarung.
“Aku seekor monyet jelek, mana mungkin kamu pantas jadi istriku,” sergah sang Lutung.
“Bahkan hatimu lebih tampan. Aku tidak butuh tampilan luarmu.”

Demi mendapatkan kisah yang diceritakan oleh Purbasari, terenyuhlah sang Lutung. Ia bertekad, sekuat tenaga untuk membantu Purbasari dalam kembali merebut kekuasaan yang harusnya jatuh ke tangannya. Purbasari bergeming untuk tidak melakukannya. Ia telah mengikhlaskan jabatan itu. Namun tidak bagi Lutung Kasarung, kebenaran adalah mutlak untuk ditegakkan.
Mereka berdebat. Keputusan pada akhirnya tercipta: Purbasari harus kembali ke istana untuk mengambil kekuasaan yang telah direbut oleh kakaknya dengan cara tidak benar. Berangkatlah mereka berdua menuju istana.
Di istana, Purbararang terkejut. Ia tidak pernah menyangka bahwa adiknya itu akan kembali. Purbararang tidak terima kalau harus melepas kekuasaannya dengan begitu saja. Dicarinya jalan agar ia tetap menjadi pemimpin di Kerajaan Pasir Batang.
“Kita buat sayembara. Bila aku kalah, kau berhak mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. Sebaliknya bila aku yang kalah, aku siap untuk dipancung.” Purbararang mengatakannya dengan wajah mendongak, seolah kemenangan akan ada di tangannya. Indra Jaya, tunangannya, melakukan hal yang sama. Mereka tertawa mengejek.
“Baiklah. Aku menerima tangtangan itu. Dan, maaf, apa yang telah kamu katakan tidak bisa ditarik lagi. Aku setuju,” jawab Purbasari.

Sayembara dimulai. Tentu saja pesertanya hanya mereka berdua, beserta para tunangannya.
Pertandingan pertama adalah lomba memasak. Purbararang dalam hal ini sangat ahli. Ia bisa memasak apa saja dengan sangat lezat. Purbararang begitu cekatan mengatur bumbu hingga bahan-bahan yang akan digunakannya. Menit demi menit begitu cepat melaju. Rakyat kerajaan yang menyaksikan bersorak-sorai sementara sebagian dari mereka dilanda rasa cemas. Rakyat terbelah dua, ada yang mendukung Purbasari, ada pula yang mendukung Purbararang.
Pertandingan pertama begitu seru. Purbararang berhasil mengungguli segala hal. Purbasari dibuat kepayahan. Ia hampir menyerah. Namun, Lutung Kasarung memberi semangat. Purbasari hampir kalah di menit-menit akhir. Namun dengan kesaktian yang dimliki oleh Guruminda sang Lutung, Purbasari berhasil menyelesaikannya dengan bantuan bidadari-bidadari yang diturunkan dari Kahyangan. Pada akhirnya, pertandingan dimenangkan oleh Purbasari.
Purbararang tidak terima. Ia mengajukan pertandingan dilanjut. Sekali ini ia membuat pertandingan rambut paling panjang. Purbararang merasa rambutnyalah yang paling panjang. Purbararang tahu betul akan rambut yang dimiliki adiknya itu. Belum apa-apa ia sudah tersenyum puas. Kemenangan sudah ada di depan matanya.
“Bagaimana?” tantang Purbararang.
Purbasari hanya diam membisu. Kekalahannya akan segera terjadi. Dirinya tahu betul sepanjang apa rambut kakaknya itu, lebih panjang dari dirinya yang hanya sepunggung, sementara kakaknya itu, setahu dirinya, panjangnya hampir semata kaki.
Sementara Purbasari termenung, Lutung Kasarung berbisik di telinganya. “Tidak usah takut, aku akan membantumu, Putri.”
“Aku terima,” ucap Purbasari setelah mendengar bisikan dari si Lutung.
Maka digerainya rambut Purbararang. Benar saja, panjang rambutnya hingga mata kaki.
“Kini giliranmu, Purbasari,” setengah mengejek, Purbararang mengatakannya dengan tatapan mata penuh kemenangan.
Jauh sebelum Purbasari membuka gelungan rambutnya, para bidadari yang tidak terlihat oleh orang-orang, telah memberikan rambut-rambutnya untuk kemudian disambungkan ke rambut Purbasari. Digerainya rambut Purbasari. Melototlah mata Purbararang, sebab, rambut adiknya itu jauh lebih panjang dari miliknya. Rambut Purbasari tergerai melebihi mata kaki, bahkan hingga beberapa meter tergerai di atas tanah. Kecewalah Purbararang.
Bukan Purbararang namanya kalau harus menyerah begitu saja. Ia memohon agar diberi kesempatan untuk bertanding sekali lagi. Dan mungkin, ini untuk kali terakhir. Purbararang merasa bahwa pertandingan yang terakhir ini akan benar-benar dimenangkan olehnya. Bagaimana tidak, otaknya yang licik, mulai berjalan.
“Aku ingin kita berlomba untuk seorang tunangan yang paling tampan,” ucapnya percaya diri.
Purbasari kali ini merasa ciut. Ia tahu siapa itu Indra Jaya, pangeran tampan yang kegantengannya sudah diakui di kerajaan ini. Sementara dirinya, tunangannya hanya seekor monyet hitam. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Purbasari menyetujuinya.
“Inilah tunanganku,” ucap Purbararang seraya memperkenalkan Indra Jaya di hadapan orang-orang yang melihat pertandingan tersebut. Orang-orang bersorak-sorai, mereka setuju bahwa Indra Jaya adalah pangeran yang sangat tampan. Purbararang tertawa puas.
Giliran Purbasari yang memperkenalkan tunangannya. Ia segera menggenggam tangan Lutung Kasarung ke hadapan orang-orang tanpa ada rasa ragu.
“Ini tunanganku,” ucap Purbasari dengan percaya diri.
Demi mendapatkan seekor monyet yang digenggam tangannya oleh Purbasari, tertawalah orang-orang mencemooh. Mereka sampai berguling-guling mendapatkan fakta aneh tersebut. Purbararang semakin yakin bahwa kali ini, ia akan menang.
Sebelum keputusan diambil. Lutung Kasarung yang seekor monyet tersenyum, untuk kemudian ia memejamkan mata. Hatinya membatin dan berdoa agar tubuh aslinya kembali. Sang Hyang Widhi mengabulkannya. Di hadapan orang-orang yang masih saja tertawa terpingkal, Lutung Kasarung mengubah diri. Sosok yang tadinya seekor monyet, kini berganti rupa menjadi seorang pangeran tampan berkulit seputih susu, lebih tampan dari Indra Jaya.
Terbelalaklah orang-orang. Untuk kemudian mereka bersorak-sorai. Lutung Kasarung telah berubah kembali menjadi Sanghyang Guruminda. Mendapatkan kenyataan itu, bersujudlah Purbararang beserta Indra Jaya di hadapan Purbasari. Mereka mengaku kalah dan siap menerima hukuman yang telah diucapkan mereka.
“Demi apapun itu, pancunglah kami, Adinda,” pinta Purbararang dengan kalimat bergetar.
“Aku tidak akan melakukannya, Kanda Purbararang. Aku telah memaafkanmu,” ucap Purbasari dengan ketenangan luar biasa.
“Terkutuklah kami bila Dinda Purbasari tidak melakukannya,” timpal Indra Jaya.
“Aku sudah memaafkan kalian, jauh sebelum hari ini. Berdirilah. Dan, mulai hari ini, kita jalankan pemerintahan ini bersama-sama,” pungkas Purbasari.
Guruminda setuju dengan apa yang dikatakan oleh calon istrinya. Ia mengangguk seraya mengangkat tangannya. Orang-orang bersorak-sorai atas peristiwa itu.



Cibatu – Garut, 14 Desember 2016   

Minggu, 13 November 2016

Aku dan Jakarta




Aku membaui aroma Jakarta
pagi ini. Dari pesing dan bedeng
yang mengimpit, tangisan pertamaku pecah

Aku, bocah kecil yang mengencingi ibukota, meminum timbal dan anyir limbah

Aku berkembang di antara atap-atap yang terendam
Di bahan pohon kersen, ibuku mencuci kebodohan dengan sedikit deterjen bubuk

Aku, bocah kecil yang lupa caranya bermain bola. tanah lapang adalah separuh ingatan yang tertinggal entah di mana.

Orang-orang berlarian dalam kepalaku. Hiruk-pikuk penjaja tubuh menjadi aroma malam yang kerap kucicipi. Aku sudah biasa: mendengar rintih, mendengar desah. Bahkan, kelaminmu dicuci di mana, aku pun tahu

Aku membaui aroma Jakarta
pagi ini
ada yang mati di dalam got, di rumah Tuhan, di keramaian.
Nyawa Jakarta terlalu murah

Saham gabungan naik
valuta asing naik
kenapa harga diri dan rokmu malah turun?

Tenang saja Jakarta
aku masih 'cinta' padamu

Tasik Malaya, 15 Januari 2016

Laki-laki Luka

Laki-laki Luka




1/
Kita adalah sepasang luka
yang ditanak waktu
dimatangkan usia
perihal badai
perihal gelombang
adalah keteguhan sampan yang terombang-ambing
samudera hidup
: kita telah melewati banyak hal

/2
Kita adalah sepasang musim
yang bergerak dalam takdirnya masing-masing
kau musim utara
aku musim selatan
apakah kita pernah menyatu?
sekadar bertegur sapa dalam bahasa
angin: hujan-kemarau
: kita telah saling pergi saling meninggalkan

3/
Kita adalah sayap-sayap patah
yang getas merapuh lantas lumpuh
tidak ada udara kosong tempat kita saling mengepak
oh, betapa langit luas hanyalah
kepedihan yang abai diarungi
: kita terluka dalam sayap keterasingan

/4
Kita sepasang luka
perempuan luka
laki-laki luka
perihal lalu
perihal ingatan
perihal kenangan yang terserak

Adakah kita pernah saling mengingat?
sekadar menjemput kenang untuk dikembalikan musim

/5
Cermin kita telah pecah, Sayang
luka kita: sama
berdarah
lambat mengering


Tasik Malaya, 02 September 2016

Melankolia September


Aku tidak sedang mengeja musim. Tentu saja. Tidak sedang merapal gemuruh di tangkai gerimis. Aku sedang merindu kehangatan. Dari sepasang matahari yang terdampar pada matamu.

Seperti angin yang mendesir. Rindu mencucuk tulang selayak salju musim dingin. Menikam. Merajam. Mengancam. Tak mampu kuredam.

Aku merindukan degup. Dari denyut sepasang jantung yang saling bercerita: perihal rekah bunga melati, perihal rebah rumput ilalang, perihal resah tentang kepergian.

Aku tidak sedang melafal debur ombak. Tentu saja. Aku tidak sedang menjaring badai yang lantak di landai pantai. Aku sedang merindu dermaga, tempat kita kerap terdampar. Aku menjadi suar, kau sampannya.

Seperti September. Rindu meruya bersama hujan. Datang tiba-tiba, menjadi genang di ruang kenang. Riuh. Bergemuruh. Tanpa lenguh. Tak disuruh.

Aku merindukan cahaya. Dari gelap yang kautinggalkan. Dari kisah yang kausisakan: perihal mekar bunga kemboja, perihal denyar perasaan, perihal memar dada kita.



BCI, 16 September 2016

Ironisme Pemuda Masa Kini


Ah kau hanya pandai bercuap:
"Satu Indonesia."
"Satu Indonesia!"
"Satu Indonesia?"
Benarkah?
Benarkah?
Bahkan persatuan tidak lebih dari
ranting kering yang jatuh
diinjak lantas patah
Betapa rentannya kau, wahai pemuda
Lantas aku bisa apa
selain mengelus dada
menengok para pemuda yang berkoar-koar mengatasnamakan persatuan
sementara di belakangku
mereka:
saling sikut
saling rebut
saling ribut
Setahuku bersatu adalah bersama, sama-sama, satu tuju
Kau?
Ah sudahlah
Ada uang kau bersatu
Tidak ada
Tahulah aku


BCI, 28 Oktober 2016