Selasa, 19 Januari 2016
BUNGA TROTOAR
Ada yang tumbuh serupa benih
di sela trotoar kota ini
bunga harapan yang kelak layu sebelum saatnya
Bunga itu layu sebelum saatnya tiba
seorang gadis mengunyah bola matanya sendiri
menebar isak tangis di atas
batu yang terlanjur berbicara
Gadis yang lelap dalam buai hujan
dan iris gerimis
Di dadanya derap langkah jalanan adalah cerita usang yang kerap disimpan sebagai laju musim yang samar
Ia kerap bertanya perihal ayah
perihal ibu pada debu trotoar
selalu hening dalam senyap pertanyaan tak terjawab
: rindu ibu
Kepada ibunya ia kembali
dalam remang cuaca
saat kemarau hadir tertunda
Bunga yang layu belum saatnya
bunga trotoar mati terlindas roda zaman
menemui ibu menemui ayahnya
Indihyang-Tasik, 04 Desember 2015
Sabtu, 09 Januari 2016
PUISI SOSIAL
Random: Prolog Epilog untuk Penguasa
Boleh aku pinjam lubang telingamu, Bapak?
(sebentar saja) agar Bapak bisa lebih mendengar suara-suara sumbang Kami.
Oh ya! Aku harap Bapak belum benar-benar tuli. Sebab, banyak teriakan diabaikan, banyak jeritan dibisukan, bahkan banyak tangisan ketidakadilan dianggap angin lalu.
Baiklah. Tak Mengapa. Kami sudah terbiasa.
Ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkan, Pak?
(katanya: dari katanya) negeri ini sudah mati. Apa benar?
Tadinya aku ingin meminjam bola matamu sekalian (tentu saja) agar Bapak tahu, banyak tontonan menarik di negeri ini:
Lihat, Pak!
badut-badut politik main dagelan
para bedebah bermain drama
para pencoleng sutradaranya.
Mereka gembira, Bapak.
sedang Kami hanya puas jadi penonton. Mau tertawa (sepertinya) sulit.
Bagaimana bisa tertawa, bicara saja susah. Perut keroncongan: busung lapar.
Saat di televisi, Bapak bisanya hanya bercanda (saja). Garing, sih!
Tapi bukankah negeri ini butuh candaan?
biarkan Kami tertawa meski settingan
biarkan Kami bertepuk tangan meski tak menarik.
‘Sing penting Bapak senang ae.’ Betul?
Boleh pinjam lubang telingamu, Pak? sekalian bola matamu.
biar Bapak bisa mendengar dan melihat siapa Kami? Yang tercekik dan nyaris mati.
jangan tanya birokrasi
sebelum kami kenyang makan nasi
jangan tanya demokrasi
bila janji sekadar basa-basi
jangan tanya koalisi
bila kami dieksekusi hanya karena lantang berorasi
Subsidi
konvensasi
mungkin itu (hanya) sebuah trik sensasi
Penguasa…
penguasa…
muka kalian topeng besi
Nggak malu sama dasi?
Bangkai Negeri
Aku berdiri di atas negeri ini
negeri yang katanya tanah sorga
negeri ketika menyemai kayu-batu jadi tanaman
Mimpi yang sudah lama mati
coba kautanam kayu-batu
yang tumbuh bangkai dan taik
Negeri ini sudah lama kehilangan jatidiri:
anjing-anjing mengeong
sementara kucing-kucing terkaing-kaing
babi-babi mengembik
apakah tak lantas kambing-kambing mengaum?
Negeri yang aneh
Si Goblok mengaku pintar
Si Pintar merasa diri paling goblok
Lantas, yang goblok siapa?
Sudah! Lupakan!
Negeri ini sangat perkasa:
neraka dimakannya
matahari tentu saja dikunyahnya
Ah, betapa negeri ini sedang di ujung tanduk
tanduk siapa?
Aku berdiri di atas negeri ini
harusnya aku bangga
nyatanya tidak
Terlalu banyak tuan-tuan
yang memakan bangkai hambanya
terlalu banyak bangkai-bangkai
tergeletak dengan uar bau
Negeri yang sakit
sebentar lagi mungkin, mati
menjadi bangkai
Negeri yang sekarat
lahat yang mana hendak kalian gali?
sementara tanah-air tak menyisakan lubang pusara
Sama sekali
Ah!
Lupakan!
Mungkin aku akan jadi bagian
dari bangkai negeri ini
#SaveIndonesia
BCI, 18 Desember 2015
Boleh aku pinjam lubang telingamu, Bapak?
(sebentar saja) agar Bapak bisa lebih mendengar suara-suara sumbang Kami.
Oh ya! Aku harap Bapak belum benar-benar tuli. Sebab, banyak teriakan diabaikan, banyak jeritan dibisukan, bahkan banyak tangisan ketidakadilan dianggap angin lalu.
Baiklah. Tak Mengapa. Kami sudah terbiasa.
Ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkan, Pak?
(katanya: dari katanya) negeri ini sudah mati. Apa benar?
Tadinya aku ingin meminjam bola matamu sekalian (tentu saja) agar Bapak tahu, banyak tontonan menarik di negeri ini:
Lihat, Pak!
badut-badut politik main dagelan
para bedebah bermain drama
para pencoleng sutradaranya.
Mereka gembira, Bapak.
sedang Kami hanya puas jadi penonton. Mau tertawa (sepertinya) sulit.
Bagaimana bisa tertawa, bicara saja susah. Perut keroncongan: busung lapar.
Saat di televisi, Bapak bisanya hanya bercanda (saja). Garing, sih!
Tapi bukankah negeri ini butuh candaan?
biarkan Kami tertawa meski settingan
biarkan Kami bertepuk tangan meski tak menarik.
‘Sing penting Bapak senang ae.’ Betul?
Boleh pinjam lubang telingamu, Pak? sekalian bola matamu.
biar Bapak bisa mendengar dan melihat siapa Kami? Yang tercekik dan nyaris mati.
jangan tanya birokrasi
sebelum kami kenyang makan nasi
jangan tanya demokrasi
bila janji sekadar basa-basi
jangan tanya koalisi
bila kami dieksekusi hanya karena lantang berorasi
Subsidi
konvensasi
mungkin itu (hanya) sebuah trik sensasi
Penguasa…
penguasa…
muka kalian topeng besi
Nggak malu sama dasi?
Bangkai Negeri
Aku berdiri di atas negeri ini
negeri yang katanya tanah sorga
negeri ketika menyemai kayu-batu jadi tanaman
Mimpi yang sudah lama mati
coba kautanam kayu-batu
yang tumbuh bangkai dan taik
Negeri ini sudah lama kehilangan jatidiri:
anjing-anjing mengeong
sementara kucing-kucing terkaing-kaing
babi-babi mengembik
apakah tak lantas kambing-kambing mengaum?
Negeri yang aneh
Si Goblok mengaku pintar
Si Pintar merasa diri paling goblok
Lantas, yang goblok siapa?
Sudah! Lupakan!
Negeri ini sangat perkasa:
neraka dimakannya
matahari tentu saja dikunyahnya
Ah, betapa negeri ini sedang di ujung tanduk
tanduk siapa?
Aku berdiri di atas negeri ini
harusnya aku bangga
nyatanya tidak
Terlalu banyak tuan-tuan
yang memakan bangkai hambanya
terlalu banyak bangkai-bangkai
tergeletak dengan uar bau
Negeri yang sakit
sebentar lagi mungkin, mati
menjadi bangkai
Negeri yang sekarat
lahat yang mana hendak kalian gali?
sementara tanah-air tak menyisakan lubang pusara
Sama sekali
Ah!
Lupakan!
Mungkin aku akan jadi bagian
dari bangkai negeri ini
#SaveIndonesia
BCI, 18 Desember 2015
TAK WAJAR
Kalau saja aku mengatakan kalimat itu jauh lebih cepat dari yang kurencanakan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang ini.
Entah aku harus bersyukur, atau sebaliknya: menyesalinya. Tapi, semua yang terjadi tetaplah tidak bisa diulangi. Ini hukum alam. Kalaupun hal ini bisa dilakukan--mengulang waktu, aku yakin orang itu sedang bermimpi.
Kejadiannya mungkin sudah sangat lama, bahkan untuk menceritakannya kembali, sebagian memori otakku tak mampu terkoneksi dengan jitu. Anggap saja cerita yang akan kukisahkan ini sebuah buku novel yang salah satu atau beberapa lembarnya hilang, mungkin disobek oleh pemiliknya.
Adalah Yunita yang kelak akan menjadi perempuan yang sangat aku kagumi. Wajahnya tidak spesial, selain bola mata yang besar selayaknya tokoh perempuan di film-film kartun Jepang--Candy Candy, misalnya.
Kenapa tidak mengagumi Erlita yang cantik sempurna? Atau Nunu, perempuan blasteran Indo-Jerman, atau Rani yang keturanan India?
Entahlah. Yang pasti rasa kagum itu tidak bisa dipaksakan. Perkara siapa mengagumi siapa, itu tak lebih dari misteri yang sulit dipecahkan.
Kembali kepada Yunita. Bukankah aku telah mengatakannya, bahwa tak ada yang spesial dalam dirinya kecuali bola mata besarnya? Bukan. Bukan itu yang membuatku bersikeras untuk mengaguminya.
Hal lain. Dia baik dan selalu mengajakku ikut serta ke mana pun ia bergegas. Ke taman sekolah. Ke ruang perpustakaan. Ke sudut kelas yang ditumbuhi rerimbun pohon cemara.
Bahkan, ke tempat paling rahasia yang orang lain tidak akan pernah mendatanginya: belakang wc umum sekolah. Ini gila! Tentu saja ini gila. Cinta memang terkadang begitu; bisa membuatmu melakukan hal-hal gila.
Cinta? Sebenarnya aku hanya menyebutnya demikian, padahal artinya sendiri aku jelas-jelas tidak tahu.
Aku mengaguminya, bukan mencintainya. Kagum dan cinta memiliki arti harfiah yang berbeda bukan?
Di balik tembok wc umum sekolah itu, aku kerap bercerita. Tentang apapun: binatang peliharaan, acara televisi pavorit, hingga orang tua siapa yang paling kaya. Terdengar nggak wajar memang. Namun, kenyataannya memang demikian.
Di sana, aku dan dirinya kerap tertawa terbahak-bahak hingga lupa waktu. Bahkan, suatu saat kami tak menyadari bahwa jam pulang sudah saatnya. Terkuncilah kami di dalam sekolah, hingga orang tua kami panik mendapati anak-anaknya belum pulang padahal sudah hampir sore.
Kalau saja aku mengatakan kalimat tersebut jauh lebih cepat dari rencana semula, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Aku mencintainya saat itu, walau sebenarnya aku memulainya dengan rasa kagum. Aku berani mengatakannya itu cinta setelah hari ini. Sebab, kala itu aku sama sekali tak paham artinya.
Untung saja aku tidak mengatakannya saat itu. Kalaupun iya, jawabannya mungkin akan jauh berbeda dengan jawaban yang sekarang akan aku dengar dari bibirnya yang mulai ranum. Ini untuk pertemuan kedua kami setelah lama terpisah.
"Aku mencintaimu, Yun. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya?"
Kalimat itu kurang lebih sama dengan kalimat yang ingin kukatakan kala itu. Kalian tahu, aku hampir mengatakannya kalau saja ia tidak bergegas pergi pada hari terakhirnya menjadi salah satu murid kelas 4 SD 05 Kerta Jaya. Aku kurang seperempat menit dari waktu yang telah kurencanakan. Terdiamlah aku menatapi meja kosong tempatnya belajar--aku duduk tepat di samping mejanya.
"Maaf, aku sudah bertunangan," ucap Yunita sesaat setelah kutanyakan kalimat yang dulu pernah mau kukemukakan.
Terdiamlah aku, sama persis dengan kejadian kala itu; menatapi meja kosong.
Cinta memang gila. Kadang tak wajar.
Cibatu, 23 November 2015
Sabtu, 10 Oktober 2015
Puzzle
Bahkan, untuk mengumpulkan satu keping potongan ingatan yang terserak di berbagai sudut ruang pikiran ini, aku butuh banyak waktu.
Satu kali, aku menemukan keping pertama tergeletak tak bertuan. Tak ada clue yang bisa jadi petunjuk tentang dari sekat sebelah mana potongan ini berasal.
Masih dua ratus tujuh puluh dua, potongan itu harus kutemukan. Entahlah, apakah aku mampu melakukannya? Sementara lelah kerap memaksaku untuk berhenti.
Satu keping, dua keping, lantas aku harus mengurutkannya. Dan iingat, sekali salah urut, gambaran akan cenderung terbalik, berputar arah, mungkin juga salah posisi. Kanan tak mungkin menjadi kiri, apakah kalian berjalan dengan tangan, atau menyeruput segelas kopi dengan bantuan kaki? Bisa. Bisa juga tidak.
Ini tentang potongan takdir yang telah berlalu, membentuk pola-pola dinamis. Aku membaca polanya, namun tak mampu menciptakan pola baru. Semua hanya perkara menemukan lantas meletakkannya tanpa harus tertukar.
Puzzle: potongan-potongan yang terserak membingungkan.
Masih banyak waktu untuk tahu, nasib seperti apa yang kelak tampak menjadi gambaran utuh, setelah semua keping bersatu padu.
Rusa, cicak, gajah, atau kelinci.
Wajah dengan lengkung senyum, tawa bahagia, atau linang airmata.
Hidupku serupa puzzle, dengan potongan-potongan gambar tak utuh terserak entah di mana.
Tentu saja aku harus mencarinya, untuk menjadikan diriku: utuh.
Leles, ketika sekeping puzzle tergeletak tanpa daya di sudut pemakaman.
Satu kali, aku menemukan keping pertama tergeletak tak bertuan. Tak ada clue yang bisa jadi petunjuk tentang dari sekat sebelah mana potongan ini berasal.
Masih dua ratus tujuh puluh dua, potongan itu harus kutemukan. Entahlah, apakah aku mampu melakukannya? Sementara lelah kerap memaksaku untuk berhenti.
Satu keping, dua keping, lantas aku harus mengurutkannya. Dan iingat, sekali salah urut, gambaran akan cenderung terbalik, berputar arah, mungkin juga salah posisi. Kanan tak mungkin menjadi kiri, apakah kalian berjalan dengan tangan, atau menyeruput segelas kopi dengan bantuan kaki? Bisa. Bisa juga tidak.
Ini tentang potongan takdir yang telah berlalu, membentuk pola-pola dinamis. Aku membaca polanya, namun tak mampu menciptakan pola baru. Semua hanya perkara menemukan lantas meletakkannya tanpa harus tertukar.
Puzzle: potongan-potongan yang terserak membingungkan.
Masih banyak waktu untuk tahu, nasib seperti apa yang kelak tampak menjadi gambaran utuh, setelah semua keping bersatu padu.
Rusa, cicak, gajah, atau kelinci.
Wajah dengan lengkung senyum, tawa bahagia, atau linang airmata.
Hidupku serupa puzzle, dengan potongan-potongan gambar tak utuh terserak entah di mana.
Tentu saja aku harus mencarinya, untuk menjadikan diriku: utuh.
Leles, ketika sekeping puzzle tergeletak tanpa daya di sudut pemakaman.
Kamis, 19 Maret 2015
ZY (KUKEMBALIKAN CINTA)
Zy,
bukankah sudah kukatakan kepadamu,
Ini perihal kepergian dan ditinggalkan
Dan kau tahu, zy,
Kuncup-kuncup rasa yang pernah coba kurekahkan, kini,
Hanyalah layu yang sedu
Zy,
jalan ini, agalah
jalan-jalan bahagia yang kugariskan di tanah basahnya, dulu,
Kini, jalan ini tak lebih dari jalan-jalan lengang yang
ditinggalkan derap langkah para pejalan kaki
Tak ada celoteh, pun sendau gurau bibir-bibir para pengisah
dongeng-dongeng,
Dari cerita-cerita malam
Zy,
kepergianmu
menyisakan kesepian di selasar rumah kita,
Rumah tempat kita meninabobolan harapan-harapan renta kita
Entahlah, zy,
kita akan saling menyisakan rindu, atau saling meninggalkan
rajam,
Dari getir yang telah sama-sama kita genggam
Zy,
kukembalikan seluruh
malam syahdu ke ujung mimpimu yang entah
Rabu, 08 Oktober 2014
Cangkuang
CANDI CANGKUANG
Oleh: Utep Sutiana
Terletak di Kampung Pulo, Kecamatan Leles,
Garut, candi ini merupakan bangunan candi Hindu satu-satunya yang terdapat di
Jawa Barat. Menurut beberapa sumber, candi ini pertama kali ditemukan pada
tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Ika Tjandrasasmita.
Nama Candi Cangkuang sendiri, diambil dari
nama sebuah tanaman dari spesies pandan-pandanan yang banyak tumbuh di sekitar
tempat berdirinya candi. Tanaman ini, sepintas bila diperhatikan, lebih
menyerupai pohon nanas, dengan banyak duri di sisi daunnya yang memanjang.
Hanya dibutuhkan kurang lebih satu jam
perjalanan dari pusat kota Garut ke sebelah utara, untuk sampai di tempat
tujuan. Untuk mencapai tempat tujuan sendiri, lebih baik menggunakan kendaraan
pribadi, hanya ada delman dan ojek untuk akses menuju ke sana. Harga tiket
masuknya sendiri tidaklah mahal, hanya lima ribu rupiah untuk satu orang.
Pemandangan yang disajikan lumayan indah, candinya sendiri terletak di tengah
sebuah pulau yang dikelilingi danau—orang setempat menyebutnya Situ Cangkuang. Untuk
sampai di bangunan candi, pengunjung harus menyeberangi situ dengan menggunakan
rakit yang telah tersedia. Ada dua pilihan untuk menggunakan jasa rakit ini.
Regular dan sewa. Untuk regular kita cukup membayar hanya lima ribu rupiah,
dengan catatan menunggu rakitnya penuh, dan ini berlaku pulang pergi. Artinya
kita harus menggunakan rakit yang sama ketika berangkat dan pulangnya. Sedangkan
untuk sewa, sekitar tiga puluh ribu rupiah satu rakit. Hanya dibutuhkan lima
belas menit untuk menyeberangi situ yang jaraknya sekitar 200 meter ini.
Sesampainya di sana. Kita akan disuguhi
pemandangan yang hijau, lumayan bisa memanjakan mata. Pohon-pohon tinggi yang
sudah berumur tua, berdiri di kanan kiri candi. Untuk menuju ke bangunan candi,
kita akan menelusuri rute jalan yang telah tersedia. Di beberapa titik, lapak
para penjual souvenir berderet. Macam-macam barang yang dijual, dari mulai
pakaian, aksesoris, hingga replika domba Garut dalam ukuran mini. Dan hampir
keseluruhan souvenir ini adalah buatan tangan para pengrajin.
Sebelum memasuki pintu gerbang masuk
candi, kita akan terlebih dahulu melalui kampung adat Pulo, kampung
tradisional. Banyak hal unik yang bisa ditemui di sini. Terdapat enam buah
rumah adat dengan kontruksi bangunan panggung. Satu buah mesjid, juga panggung.
Setiap bangunan didiami oleh seorang kepala keluarga—yang merupakan ketrurunan
Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur mereka--dan bukan seorang laki-laki,
melainkan perempuan, yang kepemilikan bangunannya harus turun-temurun mengikuti garis keturunan perempuan. Hal unik
lainnya adalah: bila ada pertambahan keluarga sebab pernikahan, maka salah satu
keluaga harus pindah, tidak boleh memelihara hewan ternak berkaki empat, juga
sangat dilarang untuk membunyikan gong.
Setelah melewati pintu masuk, kita akan
melalui jalanan menanjak untuk sampai di bangunan candi. Terletak di puncak
bukit, bangunan candi ini berbentuk dasar segi empat, panjang dan lebarnya
diperkirakan 5 meteran dengan ketinggian 9 meteran. Bentuknya sendiri, tidak
jauh berbeda dengan candi-candi Hindu pada umumnya. Menghadap ke arah timur,
dengan sebuah tangga yang menuju ke sebuah pintu masuk. Tak ada relief atau
pahatan lainnya, hanya berupa dinding batu polos tanpa ornamen apapun. Menurut
beberapa sumber, bangunan candi ini sendiri, bukan bangunan candi sebenarnya,
sebab ketika ditemukan, bangunan candi ini tersisa hanya 40%-nya saja,
selebihnya hanya berupa puing-puing. Di bagian tengah candi, terdapat patung
Dewa Siwa yang tengah duduk di atas lembu, dengan sebelah kakinya terlipat.
Selain bangunan candi, di atas lahan
seluas 16 ha ini juga terdapat beberapa bangunan. Bersebelahan dengan candi,
bangunan makam kuno berdiri. Makam ini sendiri adalah makam dari Embah Dalem
Arief Muhammad, sebagai leluhur sekaligus pemuka agama Islam di tempat
tersebut. Berseberangan dengan makam kuno, terdapat sebuah museum. Salah satu
koleksi di dalamnya adalah sebuah Al Quran yang terbuat dari kulit kayu, sedang
lainnya adalah benda-benda peninggalan Mbah Dalem Arief Muhammad.



Kamis, 20 Maret 2014
KEPADA HUJAN YANG DATANGNYA DIAM DIAM
Kepada
hujan;
yang
datangnya diam-diam
aku masih menyaksikan
keriaan di mata sepasang bunga perdu
ketika kau hadir, sore
ini
sepucuk rindu yang
degupnya tidak bisa kuhitung
masih saja bertahan di
ruang dada
sudah lama aku
merindukanmu; bisikku diam-diam
sebelum semuanya jatuh
deras seperti
tumpahan batu
burung-burung Ababil
hujan selalu
mengisyaratkan pertemuan
sebagai ruh mekar
sekuntum lily yang sempat
ditinggalkan musim
Aku berdiri kelabu
diantara ranting
cokelat pohon jambu
menatap setiap luruh
yang jatuh
sebagai rindu yang
meriuh
Langganan:
Postingan (Atom)

