Jumat, 08 September 2023

Subjektivitas dan Persepsi Manusia dalam Cerpen Rashomon




Rashomon
(Sumber Foto: Facebook @Dewi Kusumawati


     Rashomon merupakan sebuah karya sastra berbentuk cerita pendek yang ditulis oleh penulis Jepang, Ryuunosuke Akutagawa pada tahun 1915.

Cerpen ini merupakan kisah yang terkenal karena pendekatan naratifnya yang unik. Cerpen ini menceritakan bagaimana sebuah peristiwa dalam situasi yang sama diceritakan oleh banyak tokoh dari sudut pandang berbeda.

Dalam cerita ini setiap narator yang merupakah tokoh-tokoh dalam cerita memberikan versi yang berbeda-beda tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Hal ini tentu saja menggambarkan subjektivitas dalam ingatan dan persepsi manusia.

Cerita Rashomon telah mengilhami para sineas untuk mengadaptasinya ke bentuk media lain, termasuk film yang disutradarai oleh Akira Kurosawa pada tahun 1950 yang sangat terkenal, dengan judul yang sama: Rashomon.

Film ini menggambarkan konflik moral dan manusia dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Banyak yang menganggap Rashomon sebagai karya sastra yang memprovokasi pemikiran tentang sifat subjektif dari kebenaran dan bagaimana individu dapat memahami peristiwa yang sama dengan cara yang sangat berbeda.

Ini adalah cerita yang memicu diskusi filosofis yang mendalam dan masih relevan hingga hari ini sesuai dengan realita kenyataan yang ada bahwa sebuah kasus akan berbeda cara tafsirnya, bila dipersepsikan oleh banyak individu, dengan sudut pandang yang berbeda pula.

Dalam cerita Rashomon, terdapat beberapa tokoh dan karakter utama yang memainkan peran penting dalam menggambarkan ketidakpastian subjektifitas dalam kisah tersebut.

Beberapa tokoh dan karakter utama dalam cerita ini adalah:

Pria Tua, salah satu narator dalam cerita ini.

Dia adalah seorang penjaga gerbang Rashomon yang menjadi saksi atas peristiwa yang terjadi di bawah gerbang tersebut.

Perannya adalah menceritakan apa yang dia saksikan.

Monye, seorang wanita yang menjadi salah satu karakter utama dalam cerita.

Dia merupakan istri dari seorang pemotong kayu dan juga menjadi saksi dalam peristiwa yang terjadi.

Namun, versi ceritanya berbeda dengan versi pria tua.

Pemotong Kayu, suami dari Monye.

Dia juga memiliki versi sendiri tentang apa yang terjadi di bawah gerbang Rashomon.

Mayat, merupakan korban dalam cerita ini.

Keadaan mayat dan apa yang sebenarnya terjadi padanya menjadi pusat perdebatan dalam cerita.

Penyihir, karakter lain sebagai karakter pendukung yang muncul dalam cerita ini yang memberikan perspektif berbeda tentang peristiwa yang terjadi.

Karakter-karakter di atas menceritakan versi yang berbeda-beda tentang peristiwa yang sama, yang menunjukkan bagaimana pandangan dan ingatan manusia dapat sangat subjektif.

Kekuatan cerita Rashomon terletak pada penggunaannya yang cermat tentang sudut pandang berbeda ini untuk menjelajahi konsep kebenaran objektif dalam narasi.

 ******



Kamis, 07 September 2023

Pulitzer Awards 2023, Siapa Saja Pemenangnya?


Source: Instagram @penguinbooks

Pulitzer Awards merupakan sebuah penghargaan prestisius yang diberikan setiap tahunnya kepada tokoh-tokoh yang terpilih dengan maksud untuk menghargai prestasinya di bidang jurnalisme, sastra, serta komposisi musik.

Penghargaan ini dinamai sesuai dengan nama sang penggagas, Joseph Pulitzer, yang merupakan seorang pendiri sebuah penerbitan surat kabar.

Sejak mulai diselenggarakan, Pulitzer telah memberikan penghargaan ke banyak tokoh yang memberikan banyak kontribusinya kepada masyarakat secara luas.

Ada terdapat sebanyak 21 kategori penghargaan yang diberikan, termasuk jurnalisme (seperti peliputan berita, fotografi, dan komentar), fiksi, non-fiksi, drama, dan musik.

Para pemenangnya dipilih setiap tahun berdasarkan keunggulan secara kuantitas maupun kualitas dalam bidang yang mereka geluti masing-masing.


Source: Instagram @pulitzerprizes



Berdasarkan sejarahnya, Pulitzer Awards digagas berdasarkan wasiat Joseph Pulitzer, seorang pendiri perusahaan penerbit surat kabar terkenal, yang meninggal pada tahun 1911.

Ada beberapa faktor yang  melatarbelakangi diselenggarakannya penghargaan ini yang meliputi:

• Dorongan Jurnalisme yang jauh lebih unggul. Ini disebabkan karena Joseph Pulitzer memiliki keyakinan yang kuat bahwa jurnalisme harus ditingkatkan dan harus berfokus pada penyelidikan, penulisan berkualitas, dan tanggung jawab sosial. Dia ingin menghargai karya-karya jurnalis yang mencapai standar tinggi seperti itu.

• Persaingan dengan William Randolph Hearst: Pulitzer bersaing sengit dengan penerbit William Randolph Hearst dalam perang surat kabar di akhir abad ke-19. Penghargaan Pulitzer diselenggarakan sebagai upaya untuk mempromosikan jurnalisme berkualitas dalam persaingan ini.

• Mendorong Keunggulan dalam Sastra dan Musik: Selain jurnalisme, Pulitzer juga ingin menghargai prestasi dalam bidang sastra dan musik. Oleh karena itu, penghargaan ini mencakup kategori-kategori seperti fiksi, non-fiksi, drama, dan komposisi musik.

• Peningkatan Profesionalisme: Pulitzer menginginkan agar penghargaannya membantu meningkatkan profesionalisme dalam industri surat kabar dan bidang sastra Amerika. Dia berharap ini akan mendorong para jurnalis dan penulis untuk mencapai kualitas yang lebih tinggi.

Dengan latar belakang ini, Joseph Pulitzer mendonasikan sejumlah dana dalam keinginannya untuk menyelenggarakan Penghargaan Pulitzer, yang pertama kali diberikan pada tahun 1917.

Sejak itu, penghargaan ini telah menjadi salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia jurnalisme, sastra, dan musik.

Di tahun 2023 ini Pulitzer Awards kembali diselenggarakan. Dan di bawah ini adalah para pemenangnya:





Itulah daftar pemenang Pulitzer Awards 2023. ******

Selasa, 05 September 2023

Memahami Arti Kesabaran dan Penerimaan Takdir dalam Persepsi Ernest Hemingway di Novel Lelaki dan Laut

 


Source: Instagram @ernesthemingway.official


Lelaki dan Laut merupakan karya dari penulis terkenal, Ernest Hemingway. Merupakan salah satu karya sastra paling terkenal di dunia yang pernah ditulis.

Novel ini menceritakan kisah seorang peniup sangka tua bernama Santiago yang mencoba menangkap seekor ikan marlin raksasa di lepas pantai Kuba.

Novel ini meraih banyak penghargaan, termasuk di dalamnya adalah Pulitzer Award untuk Fiksi dan Nobel Sastra pada tahun 1954.


Source: Facebook @Sumiharso



Hemingway dengan mahir menggambarkan perjuangan manusia dengan alam, kekuatan karakter Santiago, serta tema-tema seperti ketahanan, keberanian, dan kesendirian bisa bercampur-baur dalam satu kesatuan tulisan yang bersinergis secara menyeluruh.

Novel ini juga menyentuh konsep perjuangan manusia melawan takdir, yang menjadi ciri khas karya-karya Hemingway.

Lelaki dan Laut adalah karya sastra yang menginspirasi dan penuh dengan makna mendalam tentang eksistensi manusia.

Melalui gaya penulisan yang sederhana tetapi dengan kekuatan karakteristik tokoh utamanya, Hemingway menciptakan karya yang mengundang refleksi perihal kehidupan, impian, juga ketabahan.

Dalam novel Lelaki dan Laut ada beberapa  karakter utama cerita yang perilakunya sangat mencolok. Mereka itu di antaranya:

- Santiago

Merupakan tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah seorang peniup sangka tua yang tinggal di pesisir Kuba.

Santiago memiliki karakter yang sangat kuat, tekun, dan penuh ketabahan. Dia adalah pahlawan dalam cerita ini yang berusaha menangkap ikan marlin raksasa.

- Manolin

Tokoh seorang anak nelayan yang pernah belajar dari Santiago. Dia adalah teman dekat Santiago yang karena kedekatannya anak ini sangat mencintainya.

Meskipun Santiago mengalami kesulitan, Manolin tetap setia untuk tidak beranjak dari Santiago, ia ingin selalu belajar dari lelaki tua tersebut.

- Ikan Marlin

Merupakan objek utama perjuangan Santiago dalam cerita ini. Ikan ini menjadi simbol tekad Santiago untuk menghadapi tantangan alam.

- Orang-orang di Desa

Terdapat beberapa penduduk desa pesisir yang memberikan dukungan moral kepada Santiago. Mereka menghormati keberanian dan ketabahan lelaki tua tersebut.

- Laut

Merupakan elemen alam yang memainkan peran penting dalam cerita ini. Santiago memiliki hubungan yang mendalam dengan laut, dan cerita ini mengeksplorasi dinamika antara manusia dengan alam.

Karakter-karakter dalam kisah novel ini sangat berkontribusi pada pengembangan tema-tema seperti ketahanan, keberanian, dan kemanusiaan.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari intisari kisah Lelaki dan Laut ini semisal:  ketabahan dalam menghadapi tantangan.

Salah satu pesan moral utama dalam novel ini adalah betapa pentingnya memiliki ketabahan dan tekad yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Santiago, sang protagonis, menjadi contoh sempurna tentang bagaimana seseorang harus bertahan meskipun dihadapkan pada kesulitan besar.

Bukan hanya itu novel ini mengajarkan kita agar bisa menghormati setiap kegagalan yang kita lakukan.

Meskipun Santiago akhirnya kehilangan ikan marlin yang telah dia tangkap dengan susah payah, dia melakukannya dengan kehormatan dan martabat.

Ini mengajarkan kita tentang pentingnya tetap teguh dalam nilai-nilai dan integritas pribadi bahkan saat menghadapi kegagalan.

Pesan moral lainnya adalah bahwasanya inti novel ini juga mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam.

Santiago memiliki kedekatan yang mendalam dengan laut dan ikan marlin, dan ini mencerminkan ketergantungan manusia pada alam serta kewajiban kita untuk menjaganya.

Pesan moral terakhir adalah berani bermimpi, dan berani berjuang untuk meraih mimpi tersebut.

Santiago memiliki impian untuk menangkap ikan marlin raksasa, dan dia mengikutinya meskipun tahu bahwa itu akan menjadi tugas yang sangat sulit.

Pesan moral di sini adalah tentang keberanian untuk mengejar impian kita tanpa memandang seberapa sulitnya.

Hal lain yang bisa diambil sebagai pesan moral adalah tentang perjuangan manusia melawan takdir.

Santiago mencerminkan perjuangan manusia melawan takdir. Meskipun nasib tampaknya berada di luar kendalinya, dia tetap berjuang dan berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan dalam takdir buruk tersebut.

Ini mengajarkan kita tentang kekuatan manusia untuk mengendalikan nasibnya sendiri.

Secara keseluruhan, "Lelaki dan Laut" adalah kisah tentang ketabahan, martabat, dan perjuangan manusia dalam menghadapi kehidupan yang keras.

Pesan moralnya mendalam dan menginspirasi banyak pembaca untuk merenungkan nilai-nilai ini dalam kehidupan. *****

 



Absurditas Albert Camus dalam Karya-Karyanya Tentang Eksistensialisme

 


Source: Instagram @Albert Camus Memes

Albert Camus merupakan seorang penulis dan filsuf Prancis yang terkenal karena karya-karyanya yang memengaruhi pemikiran filosofis dan sastra dunia.


Dia terkenal karena buku-bukunya seperti "The Stranger" (L'Étranger) dan esai-esainya yang menggali topik seperti absurditas kehidupan manusia.

Camus pernah mendapatkan penghargaan Nobel dalam Sastra pada tahun 1957. Karyanya sering membahas tema-tema seperti alienasi, eksistensialisme, dan konflik moral.

Albert Camus lahir pada 7 November 1913 di Aljer, Aljazair, yang saat itu merupakan koloni Prancis.

Dia tumbuh besar di Aljazair dan mendapatkan pendidikan awalnya di sana.

Kemudian, pada tahun 1930, Camus pindah ke Negara Prancis untuk melanjutkan pendidikan tingginya.

Dia memutuskan untuk belajar di Universitas Algiers dan memperoleh gelar sarjana dalam bidang filsafat pada tahun 1936.

Setelah itu, Camus pindah ke Paris dan bekerja sebagai jurnalis sambil mengembangkan karir sastranya.

Pada awal 1940-an, dia menjadi terkenal di dunia sastra Prancis dengan karya-karyanya yang pertama, termasuk novel "The Stranger."

Selama hidupnya, Camus tetap aktif dalam dunia pendidikan dan intelektual. Meskipun latar pendidikan formalnya terbatas, dia menjadi salah satu pemikir dan penulis terkemuka abad ke-20 dan dikenal karena pemikirannya tentang eksistensialisme dan absurditas.

Albert Camus adalah seorang penulis produktif yang telah menghasilkan berbagai karya sastra selama hidupnya.

Beberapa karya terkenalnya meliputi:

• "The Stranger" (L'Étranger): Novel ini, yang diterbitkan pada tahun 1942, adalah salah satu karya paling terkenal Camus. Ini mengisahkan kisah seorang pria bernama Meursault yang merasa asing terhadap dunia sekitarnya.

• "The Myth of Sisyphus" (Le Mythe de Sisyphe): Ini adalah sebuah esai filosofis yang diterbitkan pada tahun 1942. Esai ini membahas tema absurditas dan pertanyaan eksistensial.

• The Fall" (La Chute): Novel ini diterbitkan pada tahun 1956 dan menggambarkan perjalanan seorang pengacara yang mengalami perubahan moral drastis.

• "Exile and the Kingdom" (L'Exil et le Royaume): Kumpulan cerita pendek ini diterbitkan pada tahun 1957 dan berisi beberapa cerita pendek yang mengeksplorasi tema eksistensialisme dan moralitas.

• "The Plague" (La Peste): Novel ini, diterbitkan pada tahun 1947, menggambarkan wabah pes yang melanda sebuah kota dan menguji respons manusia terhadap krisis.

• "Caligula": Ini adalah sebuah drama teater yang ditulis oleh Camus pada tahun 1938, yang menggambarkan kegilaan Kaisar Romawi Caligula.

• Esai-esai filosofis dan sastra: Camus juga menulis banyak esai yang membahas berbagai topik filosofis dan sastra, termasuk karyanya tentang mitos Sisifus, revolusi, seni, dan banyak lagi.

Karya-karya Camus sering menggali tema-tema seperti absurditas, alienasi, dan konflik moral, dan dia dikenal karena gaya penulisannya yang jelas dan tajam. Karyanya telah memberikan kontribusi besar terhadap sastra dan pemikiran filosofis abad ke-20.

Minggu, 03 September 2023

Animal Farm, Alegori Berani George Orwell dalam Kritik Politik dan Sejarah

 

Sumber foto: Instagram @frank.stallone



Tidak ada banyak penulis seberani George Orwell. Ia berhasil merefleksikan segala kegundahan hati serta ketidaksetujuannya dalam berbagai hal, terutama dalam hal politik serta revolusi sejarah.

Meski tidak secara gamblang ia mengkritisi banyak tokoh-tokoh politik sejarah lewat sudut pandang banyak binatang pada Animal Farm, tetapi segala konsep ketidakadilan dalam dunia politik dan sejarah, berhasil ia angkat dengan cara elegan.

Orwell berhasil mengangkat segala intrik yang biasa terjadi dalam tanpuk sebuah kekuasaan, dalam hal ini Animal Farm dipersamakan sebagai sebuah negara.

Di mana intrik tersebut melingkupi ketamakan, perebutan kekuasaan, kudeta, revolusi sosial, perubahan prinsipil dari yang tak punya kuasa menjadi yang berkuasa, otoriter, dan segala hal yang bersinggungan dengan hal negatif politik kekuasaan.

Di Animal Farm, Orwell sukses menjadi apa saja, tokoh politik yang mana saja, tanpa harus menyebutkan siapa-siapanya dalam kehidupan nyata.

Sebagai informasi, George Orwell lahir pada tanggal 25 Juni 1903 dengan nama Eric Arthur Blair.

Pada masa kecilnya, Orwell kecil menghabiskan sebagian besar waktunya di India, tempat ayahnya bekerja sebagai pegawai sipil.

Ketika dia berusia delapan tahun, Orwell dikirim ke Inggris untuk menempuh pendidikan formal.

George Orwell remaja melanjutkan pendidikan formalnya di Inggris. Ia belajar di sekolah-sekolah yang kemudian memengaruhi pemikiran dan tulisannya.

Pada tahun 1917, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Eton College, yang merupakan salah satu sekolah terkemuka di Inggris.

Setelah ia lulus dari Eton pada tahun 1921, Orwell kemudian bergabung dengan Imperial Police di Burma pada tahun 1922.

Ia mempunyai pengalaman buruk saat dirinya menjadi seorang petugas polisi kolonial di Burma, hal ini telah mempengaruhi tulisannya sekaligus menginspirasinya untuk menulis novel yang berjudul Burmese Days.

Orwell kemudian keluar dan institusi kepolisian untuk kemudian memutuskan untuk hidup sebagai seorang penulis.

Orwell banyak merasakan penderitaan dan ketidaksetaraan sosial yang mendalam selama masa remajanya, dan ini menjadi tema sentral dalam banyak karyanya yang menyoroti ketidakadilan sosial juga politik.

George Orwell adalah seorang penulis yang dikenal karena karyanya yang berfokus pada politik, sosial, dan isu-isu moral.

Beberapa karya terkenalnya di antaranya:

1. Animal Farm


Novel ini terbit pada tahun 1945, merupakan kisah alegori yang menggambarkan revolusi dan korupsi dalam bentuk fabel dengan hewan-hewan yang merepresentasikan tokoh-tokoh sejarah dan politik. Di cerita ini, Orwell menjadi siapa saja dalam bentuk tokoh hewan semisal Napoleon, si babi.

2. 1984

Merupakan novel yang terbit tahun 1949, merupakan novel distopia yang menggambarkan masyarakat totaliter yang dikendalikan oleh pemerintah yang otoriter dan manipulatif.

Novel ini berhasil memperkenalkan konsep Big Brother dan bahasa Newspeak.

3. Burmese Days


Terbit tahun 1934, merupakam novel yang ditulis dengan inspirasi yang diambil dari pengalaman Orwell sebagai petugas polisi kolonial di Burma.

Dalam novel ini banyak ditulis perihal penggambaran rasisme dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Inggris.


4. Homage to Catalonia


Sebuah memoar Orwell yang terbit tahun 1938, bercerita banyak hal tentang pengalamannya dalam Perang Sipil Spanyol, di mana ia menjadi bagian dari pasukan Republik Spanyol dalam perjuangan melawan pasukan Fasis Franco.

5. Down and Out in Paris and London


Terbit pada tahun 1933, merupakan buku dengan tulisan non-fiksi yang menggambarkan pengalaman Orwell yang pernah menjadi gelandangan di Paris dan London.

Di buku ini, Orwell mengungkapkan segala sisi kelam dari kehidupan masyarakat miskin di kota tersebut dengan segala problematikanya.

6. Shooting an Elephant.

Merupakan sebuah esai yang menceritakan pengalaman Orwell sebagai seorang petugas polisi yang dipaksa untuk membunuh seekor gajah di Burma, 

Bukan hanya itu, Orwell menggambarkan secara jujur perihal dilema moral dan politik. Esai ini terbit pada tahun 1936.

Bukan hanya itiu saja, Orwell juga menulis untuk banyak esai, artikel, dan tulisan jurnalistik lainnya yang membahas berbagai isu sosial dan dunia politik.

Karyanya kebanyakan menguliti tema-tema sensitif semisal kekuasaan, manipulasi bahasa, kebebasan individu, serta ketidakadilan sosial.

Dalam karir menulisnya, George Orwell tidak menerima banyak penghargaan resmi selama hidupnya.

Namun, penghargaan justru diberikan pasca kematiannya, ia diakui secara luas dengan beberapa penghargaan dan penghormatan atas karyanya yang sangat berpengaruh terhadap dunia.

Ada beberapa penghargaan dan penghormatan yang diterima George Orwell setelah kematiannya, meliputi:

• Penghargaan George Orwell, pada tahun 2019.

• Penghargaan Prometheus Hall of Fame, pada tahun 1984 oleh Libertarian Futurist Society untuk novelnya "1984," yang dianggap berontribusi bagi pemahaman masyarakat banyak akan kebebasan individual dan kebebasan berbicara.

• Patung George Orwell yang dibuat pada tahun 2017. Yang merupakan sebuah patung dari bahan perunggu, didirikan di dekat BBC Broadcasting House di London, merupakan sebuah bentuk penghormatan atas warisannya sebagai seorang penulis dan wartawan yang berani.

Meskipun Orwell tidak banyak mendapatkan penghargaan selama hidupnya, tetapi tulisan-tulisannya sangat berpengaruh dalam dunia sastra, serta pemikiran politiknya hingga sekarang.

Orwell dianggap sebagai salah satu penulis paling penting abad ke-20, karena karya-karyanya yang monumental. ****



Layla dan Majnun, Romeo and Juliet dari Timur

 Sumber: Instagram @layla_majnun610




Kisah Layla Majnun adalah kisah romantika sepasang kekasih yang ditulis oleh penyair Iran, Nizami Ganjavi.

Dia adalah seorang penyair dan penulis dari abad ke-12 yang terkenal karena karyanya yang paling fenomenal, Layla Majnun.

Karya ini adalah sebuah epik cinta yang menceritakan kisah cinta tragis antara Layla dan Majnun.

Nizami dikenal karena penggambaran perasaan cinta, kerinduan, dan kegilaannya dengan indah dalam karyanya-karyanya.

Sudut Panjang Nizami adalah salah satu penyair terpenting dalam sastra Persia klasik dan telah memberikan kontribusi besar dalam bidang sastra cinta di dunia Persia.

Layla Majnun merupakan sebuah kisah cinta tragis yang diceritakan dalam bentuk puisi.

Cerita ini menceritakan kisah cinta yang penuh kesedihan antara dua tokoh utama, Layla dan Qays (juga dikenal sebagai Majnun), yang berasal dari dua keluarga yang bersaing.

Cerita ini berfokus pada perjalanan cinta mereka yang rumit:

• Pertemuan Pertama

Layla dan Majnun bertemu saat masih muda dan segera jatuh cinta satu sama lain. Namun, perseteruan antara keluarga mereka membuat hubungan mereka sulit.

• Hambatan Keluarga

Keluarga Layla menentang hubungan mereka dan memaksa Layla untuk menikahi orang lain. Ini menghancurkan hati Majnun, dan dia mulai menunjukkan tanda-tanda kegilaan.

• Kegilaan Majnun

Majnun (nama yang berarti "orang gila" dalam bahasa Arab) menarik diri ke gurun dan hidup sebagai seorang penyair gila yang hanya menyanyikan cinta untuk Layla. Dia menjadi ikon cinta yang tulus tetapi tidak berbalas.

• Pencarian Layla

Layla juga merasa cinta terhadap Majnun, dan dia menderita dalam pernikahannya yang tidak bahagia. Dia mencari Majnun, tetapi akhirnya meninggal karena kesedihan.

• Pertemuan Terakhir

Majnun akhirnya menemukan makam Layla dan mengunjunginya. Dia juga meninggal di samping makam Layla, dan akhirnya, kisah cinta mereka yang tragis bersatu dalam kematian.

Kisah Layla Majnun menggambarkan tema cinta yang tak terbalas, kesetiaan yang tulus, dan pengorbanan.

Ini telah menjadi salah satu cerita cinta paling terkenal dalam sastra Persia dan dunia Islam, dan telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk seni dan budaya.

Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah "Layla Majnun" adalah:

• Cinta yang Tulus: Kisah ini menggambarkan kekuatan cinta yang tulus dan setia antara Layla dan Majnun. Mereka mencintai satu sama lain tanpa syarat, meskipun menghadapi banyak hambatan. Pesan moralnya adalah bahwa cinta sejati adalah pengorbanan dan kesetiaan yang tulus.

• Kekuatan Cinta dalam Kesulitan: Meskipun cinta mereka menghadapi berbagai rintangan dan penghalang, Layla dan Majnun tetap setia satu sama lain. Ini mengajarkan kita tentang kekuatan cinta untuk mengatasi kesulitan dan ujian dalam hidup.

• Harga Kegilaan: Kisah Majnun yang menjadi gila karena cintanya kepada Layla juga menggambarkan betapa kuatnya perasaan cinta. Namun, itu juga mengingatkan kita tentang bahaya terlalu terperangkap dalam cinta sehingga bisa merusak kesehatan mental dan emosional seseorang.

• Perbedaan Sosial dan Keluarga: Perselisihan antara keluarga Layla dan Majnun menunjukkan bagaimana faktor-faktor sosial dan keluarga dapat memengaruhi hubungan cinta. Ini merupakan peringatan bahwa kadang-kadang budaya dan ekspektasi sosial dapat menghambat cinta yang sejati.

• Kesedihan dan Pengorbanan: Kisah Layla dan Majnun juga menggambarkan betapa besar pengorbanan yang mungkin diperlukan dalam cinta sejati. Baik Layla maupun Majnun mengorbankan kenyamanan dan bahagia mereka untuk cinta mereka, dan ini adalah pesan tentang kekuatan pengorbanan dalam cinta.

Dengan demikian, pesan moral dalam kisah "Layla Majnun" mengajarkan kita tentang kekuatan cinta, kesetiaan, pengorbanan, dan bahkan batas-batas yang mungkin kita hadapi dalam mencari cinta sejati. ****








Sabtu, 02 September 2023

Saman dan Sepak Terjang Ayu Utami di Tengah Isu Feminisme




 
sumber: Instagram @bilangan.fu


         Ayu Utami merupakan seorang penulis dan jurnalis Indonesia yang dikenal karena karya-karyanya dalam sastra kontemporer Indonesia.


Salah satu novelnya yang terkenal berjudul "Saman," sebuah kisah yang mengangkat isu-isu politik, feminisme, dan permasalahan sensitif hubungan lelaki dengan perempuan di Indonesia.

Ayu Utami lahir pada tanggal 21 November 1968 di Bogor, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai salah satu penulis yang berpengaruh dalam sastra kontemporer Indonesia.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah novel "Saman," yang diterbitkan pada tahun 1998.

Novel ini dianggap sebagai karya penting dalam sastra Indonesia modern yang banyak membahas isu-isu sosial, politik, serta feminisme.

Selain dikenal sebagai seorang penulis, feminis, Ayu Utami juga sangat punya pengaruh karena keterlibatannya dalam aktivisme sosial dan politik.

Ia sering kali berbicara terbuka tentang isu-isu seperti hak-hak perempuan, demokrasi, dan kebebasan berekspresi.

Selain "Saman," Ayu Utami juga telah menulis beberapa karya lainnya semisal novel lain, esai, dan artikel yang mengangkat berbagai tema budaya, agama, dan sosial di Indonesia.

Beberapa karyanya telah diakui dengan berbagai penghargaan sastra di Indonesia, termasuk Penghargaan Sastra Khatulistiwa dan Penghargaan S.E.A. Write Award.

Sebagai seorang jurnalis, Ayu Utami telah menulis banyak tema yang diangkat di berbagai media dan majalah.

Pekerjaan jurnalistiknya juga mencerminkan minatnya terhadap isu-isu yang memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.

Bicara tentang "Saman", bicara tentang novel yang sangat berpengaruh dalam sastra Indonesia modern.

Saman sendiri mengisahkan kisah seorang aktivis perempuan bernama Saman. Saman adalah seorang pria yang kemudian mengganti kelaminnya menjadi perempuan, dan ia menjadi seorang pemberontak yang menentang rezim militer Orde Baru di Indonesia.

Cerita ini mengikuti perjalanan hidupnya serta perjuangan melawan ketidakadilan sosial, politik, dan agama yang terjadi di dalam masyatakat.

Saman mengupas banyak hal terkait isu-isu sensitif yang terjadi di dalam masyarakat, seperti:

Politik dan Sosial: Saman mengangkat isu-isu politik dan sosial yang relevan di Indonesia pada masa itu, termasuk penindasan politik dan hak-hak asasi manusia di dalamnya.

Feminisme: Ayu Utami menggambarkan perjuangan perempuan dalam masyarakat yang masih didominasi oleh norma-norma patriarki, dengan msncoba memunculkan karakter-karakter perempuan yang kuat.

Agama dan Spiritualitas: Saman juga  menjelajahi tema-tema agama dan spiritualitas melalui perjalanan karakter Saman yang mencari makna dalam kehidupan.

Gaya Penulisan: dalam novel ini, Ayu Utami menggunakan bahasa yang kaya dan deskriptif dalam novel ini. Ia juga menggabungkan elemen-elemen magis dan realitas sosial yang memberikan dimensi tambahan pada cerita.

Dampak: Novel Saman telah menjadi salah satu karya sastra terpenting dalam sastra Indonesia modern. Novel ini tidak hanya dikenal karena kualitas sastranya, tetapi juga karena pesannya yang mendalam mengenai kebebasan, identitas, dan perjuangan melawan ketidakadilan. ****

Kara, Seniman dengan Segala Kompleksitas Permasalahannya di Novel Kirmizi Orhan Pamuk

 


Sumber: Instagram @librumia_book


       Salah satu karya sastra terkenal yang berhasil diciptakan oleh penulis asal Turki, Orhan Pamuk adalah  "Namaku Merah", atau dalam bahasa aslinya bertajuk Kırmızı.

Novel ini sendiri menceritakan tentang perjalanan hidup seorang seniman miniatur pada abad ke-16 bernama Kara, yang mencoba mengadu nasib dengan datang ke Istanbul untuk bekerja di istana.

Kisah berfokus pada perannya sebagai seorang seniman, serta kehidupannya di tengah-tengah ketegangan politik dan budaya Istanbul pada masa itu, tidak ketinggalan pula dengan cerita hubungannya dengan saudaranya yang murtad.

Cerita dalam novel ini sukses menggabungkan elemen sejarah, seni, dan perdebatan filsafat, seraya menjelajahi tema-tema lain yang coba diangkat seperti identitas, agama, dan perbedaan budaya.

"Namaku Merah" juga menggambarkan sisi lain tentang konflik antara Timur dan Barat serta konflik internal di anntara karakter utamanya.

Di tengah-tengah latar belakang politik dan budaya yang kompleks, Kara mengejar ambisinya sebagai seniman miniatur, dengan terus menciptakan lukisan-lukisan yang indah.

Sudut pandang lain novel ini juga mengisahkan kehidupan saudara Kara, yang telah murtad dan memutuskan menjadi seorang mata-mata.

Hubungan rumit antara Kara dengan saudaranya menjadi salah satu inti konflik dalam cerita ini.

Selain itu, "Namaku Merah" memberikan penggambaran yang mendalam tentang Istanbul pada masa itu, seraya mempertanyakan konsep-konsep fundamental dalam kehidupan manusia saat itu.

Dalam novel "Namaku Merah" sang penulis mencoba menceritakan kisah ini dari sudut pandang cerita menggunakan narator pertama.


               Sumber: Instagram @orhanpamukoklak

Kara, sebagai tokoh utama sekaligus sang protagonis, menceritakan pengalaman dan pemikirannya secara langsung kepada pembaca melalui sudut pandang narator pertama.

Hal ini berarti bahwa pembaca melihat dan memahami dunia dalam novel ini melalui perspektif dan pengalaman pribadi sang tokoh utama, yakni Kara.

Dengan sudut pandang narator pertama, pembaca mendapatkan wawasan yang dalam tentang perasaan, pemikiran, dan pengalaman karakter utama.

Ini sangat memungkinkan pembaca untuk merasakan secara mendalam konflik internal dan eksternal yang dialami Kara dalam cerita ini, sambil menggali tema-tema yang kompleks seperti krisis identitas, pemahaman agama, serta seni.


Dalam novel ini, Kara menciptakan lukisan-lukisan miniatur yang indah sambil menjalani kehidupannya dalam suasana yang penuh intrik dan perdebatan filsafat.

Konflik antara dunia Timur dan Barat, konflik internal, serta pertanyaan tentang identitas, agama, dan perbedaan budaya menjadi tema sentral yang dijelajahi dalam "Namaku Merah."

Novel ini juga menyinggung tentang hal lain, yakni mempertanyakan peran seni dalam kehidupan manusia dan masyarakat.

Ada beberapa tokoh yang dihasilkan Pamuk dalam novel ini sebagai tokoh yang porsinya lebih banyak dihadurkan ketimbang tokoh lainnya.

Berikut tokoh-tokoh tersebut beserta karakteristiknya:

• Kara:

Sang protagonis dalam cerita ini. Dia adalah seorang seniman miniatur yang datang ke Istanbul untuk bekerja di istana pada abad ke-16.

Kara digambarkan sebagai sosok seorang seniman yang berbakat, penuh gairah terhadap seni, dan penuh perhatian terhadap detail dalam setiap karya yang dihasilkannya.

• Saudara Kara:

Saudara Kara yang telah memilih untuk menjadi murtad, merupakan seorang mata-mata yang memiliki peran yang signifikan dalam cerita.

Konflik antara Kara dan saudaranya menciptakan ketegangan dalam beberapa bagian novel ini.

• Shekure:

Shekure merupakan seorang wanita yang menjadi fokus cinta dan hasrat Kara. Statusnya adalah seorang janda yang memiliki peran penting dalam cerita, hubungannya dengan Kara memberikan dimensi emosional pada novel ini.

• Ester:

Ester adalah seorang penjahit Yahudi yang memiliki hubungan dekat dengan sang tokoh utama, Kara. Dia juga memiliki peran penting dalam cerita dan menghadirkan perspektif budaya yang berbeda.

• Margarita:

Perannya sebagai istri saudara Kara yang meninggal. Walaupun tidak ada dalam kehidupan nyata, karakternya dimunculkan melalui kenangan dan pengaruhnya yang terus-menerus terasa di dalam cerita.

• Sultan:

Sultan adalah figur berkuasa di istana Istanbul. Keinginannya untuk memiliki lukisan-lukisan miniatur memengaruhi banyak kejadian di dalam novel ini.

Karakter-karakter di atas memiliki latar belakang yang kompleks dan memiliki peran yang beragam. ****

Jumat, 01 September 2023

Mengenal Penyair Chili, Pablo Neruda

 





Pablo Neruda adalah seorang penyair dan diplomat asal Chili yang terkenal dengan puisi-puisinya yang penuh gairah dan menggugah.

Ia memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1971 atas karyanya yang sering menjelajahi tema-tema cinta, alam, dan keadilan sosial.

Beberapa koleksi puisi terkenalnya termasuk "Twenty Love Poems and a Song of Despair" dan "Canto General." Apakah ada hal tertentu yang ingin Anda ketahui tentangnya?

Pablo Neruda lahir pada 12 Juli 1904 di kota Parral, Chili, dengan nama asli Ricardo Eliécer Neftalí Reyes Basoalto.

Ia tumbuh dalam lingkungan sastra dan menulis puisi sejak usia muda. Pada tahun 1920-an, ia mulai menggunakan nama pena Pablo Neruda, terinspirasi oleh penyair Ceko Jan Neruda.

Neruda terlibat dalam aktivitas politik dan dipandang sebagai seorang penyair progresif.

Ia menjadi diplomat dan mengemban tugas di berbagai negara, termasuk Spanyol saat Perang Saudara Spanyol. Karyanya sering kali mencerminkan pandangan sosial dan politiknya, serta mencakup kritik terhadap ketidaksetaraan dan penindasan.

Selama hidupnya, Neruda menulis berbagai jenis puisi, dari yang romantis hingga yang epik.

Beberapa karyanya yang terkenal meliputi "Residencia en la Tierra," "Canto General," dan "Veinte Poemas de Amor y una Canción Desesperada" (Twenty Love Poems and a Song of Despair).

Neruda meninggal pada 23 September 1973 di Santiago, Chile, beberapa hari setelah kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sahnya.

Ia tetap dikenang sebagai salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia.

Pablo Neruda memiliki banyak karya sastra yang sangat diakui dan dihargai di dunia sastra. Beberapa karya terkenalnya meliputi:

• "Twenty Love Poems and a Song of Despair" (1924) - Koleksi puisi cinta yang sangat terkenal, menggambarkan perasaan cinta dan kehilangan dengan keindahan dan intensitas emosi.

• "Canto General" (1950) - Sebuah epik puisi yang luas, menceritakan sejarah Amerika Latin dari sudut pandang sosial dan politik.

• "Residencia en la Tierra" (1933) - Koleksi puisi yang mencerminkan perjalanan emosional dan eksplorasi Neruda tentang manusia dan alam.

• "Elemental Odes" (1954) - Kumpulan puisi pendek yang memuji objek sehari-hari, seperti bawang merah, sepatu, dan pohon.

• "Confieso que he vivido" (1974) - Otobiografi Neruda yang diterbitkan secara anumerta, berbicara tentang pengalaman hidupnya sebagai penyair dan diplomat.

• "Odes to Common Things" (1961) - Koleksi puisi yang memuji objek-objek biasa dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan keindahan dalam hal-hal yang sering diabaikan.

• "Island of the Blue Dolphins" (1960) - Sebuah novel anak-anak yang juga ditulis oleh Neruda dengan gaya naratif yang sederhana dan empatik.

Ini hanya beberapa contoh dari karya-karya Pablo Neruda. Ia memiliki berbagai karya lain yang juga layak untuk dijelajahi dan dinikmati.

Pablo Neruda menerima penghargaan dan pengakuan yang luas atas karyanya dalam dunia sastra dan budaya. Beberapa penghargaan yang paling signifikan termasuk:

• Nobel Prize in Literature (1971) - Neruda dianugerahi Hadiah Nobel Sastra atas karyanya yang penuh gairah dan pengeksplorasian tema-tema sosial dan manusia. Penghargaan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra.

• Lenin Peace Prize (1953) - Penghargaan perdamaian dari Uni Soviet yang diberikan kepada individu atau organisasi yang berkontribusi pada perdamaian dunia. Neruda dianugerahi penghargaan ini atas dukungannya terhadap perdamaian dunia.

• Order of the Rising Sun (1971) - Penghargaan tertinggi di Jepang, diberikan kepada individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang sastra, seni, atau budaya. Neruda menerima penghargaan ini atas perannya dalam mempromosikan hubungan budaya antara Chili dan Jepang.

• Doctor Honoris Causa - Neruda dianugerahi gelar doktor kehormatan dari beberapa universitas di seluruh dunia sebagai pengakuan atas prestasinya dalam sastra.

• Medal of the Royal Spanish Academy (1969) - Penghargaan yang diberikan oleh Akademi Bahasa Spanyol atas kontribusinya terhadap bahasa dan sastra Spanyol.

Penghargaan-penghargaan ini hanya sebagian dari banyak pengakuan dan penghormatan yang diterima oleh Pablo Neruda selama dan setelah hidupnya.

Kamis, 08 Juni 2023

Yang Terpilih



Bumi di tahun 5015 memasuki periode kehancuran. Krisis kemanusiaan terjadi di mana-mana. Kehancuran peradaban manusia berada pada puncaknya.

Spesies baru bernama Sang Penghancur hadir menjadi predator paling mematikan bagi kelangsungan hidup manusia.

Spesies manusia lama terancam punah, hanya sebagian dari mereka yang bisa terselamatkan.

Kanselir Madam X bereksperimen dengan klan manusia lama untuk menjaga spesies ini tetap lestari.

Mereka dikumpulkan dalam sebuah proyek rahasia tanpa sepengetahuan pemerintah pusat. Mereka yang jadi kelinci percobaan itu diberi nama Yang Terpilih.

Dunia boleh serba digital. Ketika sebagian manusia beranggapan bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah periode kejayaan manusia, kenyataannya adalah sebaliknya: periode kehidupan manusia berada pada puncak kehancuran.

Semesta akan menyelesaikan abdinya. Manusia tak lebih dari virus komputer yang patut dihancurkan oleh sistem.

Manusia tak lebih dari robot yang dikendalikan oleh sistem teknologi. Fase kehancuran baru saja dimulai.

Aku mencoba melawannya dengan begitu putus asa, berjuang mengendalikan semua sensor penghubung otakku.

Syaraf motorik sebagian besar tubuhku nyaris tidak bisa kufungsikan. Sesuatu yang asing telah mengendalikan diriku.

Sesuatu yang sama sekali tak mampu kukendalikan oleh otakku sendiri.

"Sistem sepertinya sudah mulai bekerja." Sebuah suara merobek lubang pendengaranku seketika.

Menggaung di udara lantas beresonansi dengan logam di sekitarnya.

Sebuah ruang serba putih menelan keberadaanku. Aku pikir, ruangan ini tak salah bila disebut laboratorium.

Beberapa tabung reaksi, meja bedah, dan peralatan mirip robot berjejer acak di hampir seluruh bagian ruang.

Belalai panjang mengambang di udara dengan pangkal tertanam di atas langit-langit, sementara ujungnya--hampir tak bisa kupercaya--menyumpal mulutku.

Kecuali orang-orang berkostum astronot, lengkap dengan masker dan alat bantu napas menyerupai alat snorkling, hal lain membuatku terkejut: tubuhku terlentang polos dengan banyak kabel warna-warni tertancap di seluruh bagian tubuhku.

"Rupanya kamu sudah sadar." Salah satu dari mereka mendekat, menatapku lekat.

Aku mencoba menggerakkan kaki dan tangan. Percuma saja, semua terasa kaku.

"Selamat bergabung, Nak. Selamat menjadi Yang Terpilih," lanjutnya. "Kodemu, Alpha 8152 X Omega."

Sama sekali aku tak paham akan apa yang dikatakan orang itu. Pertanyaan demi pertanyaan terdistraksi menjadi dengungan hebat dalam kepalaku.

Otakku mencoba mendeteksi apa yang sebenarnya terjadi, kepalaku pusing setelahnya

"Fase Gone segera tiba. Semoga kamu bisa menikmatinya."

Gone? Apa artinya. Aku tidak sempat berpikir lagi, ketika otot-ototku menegang.

Desir hebat aliran darahku seolah mengeras. Aku tak merasakan keberadaanku kecuali rasa tercekik di tulang leher.

Mataku mengabur dengan menghadirkan kunang-kunang raksasa sebelumnya. Cahaya menyilaukan mengantarku ke lembah paling gelap kesadaranku.

"Inikah yang dimaksud fase Gone?" gumamku dalam hati sebelum semuanya benar-benar gelap. Kian memekat.

*****

Aku merasakan sesuatu yang asing dengan tubuhku. Sesuatu yang keras mencangkangi seluruh daging tubuhku.

Aku berpikir bahwa yang dimaksud dengan Yang Terpilih itu adalah spesies baru manusia robot?

Belum selesai dengan pikiranku, seseorang dengan kostum astronot mendorongku dari arah belakang. Hampir aku terjerembab dari landaian tangga pesawat.

"Lakukan!" teriaknya.
"Lakukan apa?" stimulasi otakku lambat bereaksi.

Orang itu terus mendorongku. "Lakukan bodoh! Yang Terpilih bukanlah spesies pengecut."

Aku tak mengerti. Sama sekali tidak mengerti.

Kecuali sebilah launcher--senjata dengan cairan kimia di dalamnya, aku tidak paham apa yang harus dilakukan dengan senjata tersebut.

"Bunuh mereka!" Sekali ini dorongan orang itu membuatku benar-benar terjerambab dari atas pesawat.

Pemandangan asing terbentang di hadapanku. Orang-orang berbaju astronot sedang berperang dengan orang-orang berbaju hitam pekat mirip Orko.

Desingan senjata launcher terdengar disertai cahaya warna hijau terang menyilaukan mata. Aku belum sepenuhnya menguasai diri.

Ini kali pertama terjebak di dalam pertempuran di negeri antah berantah.

"Aktifkan sistem launcher-nya, bodoh!" Suara itu menyeruak, padahal sosoknya jauh berada di atas pesawat sana.

"Segera! Atau kamu mati tertembak senjata Sang Penghancur."

Aku meraba bagian atas senjata yang mirip senapan laras panjang transparan itu.

Sebuah knop tanpa sengaja tersentuh. Sesuatu yang cair meluncur deras. Warna hijau menghambur, aku terjengkang tidak siap dengan keadaan itu.

Efek luncuran senjata itu sungguh luar biasa. Sesosok tubuh berjubah hitam terjengkang dengan sengatan jala listrik melingkup tubuhnya.

Ia kejang-kejang lantas hancur menjadi asap pekat.

"Bagus! Simulasi pertamamu berhasil," suara itu hadir serta-merta, mengembalikan tubuhku dari arena pertempuran ke laboratorium serba putih tadi.

Aku mengerjap. Warna-warni kabel tadi tiba-tiba satu persatu tercerabut dengan sendirinya. Aku mencoba bangkit.

Kali ini, orang-orang berkostum astronot tadi telah berubah tampilan manusia seutuhnya, seperti diriku.

"Pakailah!" Ia melempar pakaian ke arahku. Aku baru sadar akan kepolosan tubuhku. Aku menangkap dan mengenakan pakaian itu segera.

"Senang dengan keadaan dirimu sekarang?"

Aku menatapnya lekat. Senang? Tentu saja aku harus mengatakannya tidak. Aku lebih suka menjadi spesies manusia lama ketimbang Yang Terpilih, sebab, kendali otakku ada di tangan mereka.

"Inilah bagian dari evolusi manusia," ujarnya. Ia berdiri. Sosok itu--lelaki botak setengah baya mirip tampilan seorang profesor--berdiri di sampingku.

"Evolusi menuju kehancuran," sanggahku. "Kalau harus jujur, aku lebih setuju dengan evolusi Darwin ketimbang evolusi buatanmu." Ada ledakan emosi yang meluncur deras dari dalam tubuhku.

"Dan, aku lebih senang dijadikan manusia monyet, ketimbang harus menjadi manusia robot buatanmu," lanjutku.

"Sayangnya, spesies manusia monyet ciptaan Darwin sudah lama mati menjadi fosil," tegasnya.

Menjadi diriku yang sekarang ini, membuatku linglung. Persetan dengan Yang Terpilih! Persetan dengan Kanselir Madam X! Persetan dengan semuanya.

Selepas dengan eksperimen tadi, aku mencoba melepaskan diri dengan keterikatan sistem dengan Yang Terpilih.

Aku harus kembali menjadi spesies manusia lama, walau setelahnya mungkin aku akan punah seperti yang lainnya.

Namun, bagaimana caranya?




Jumat, 11 November 2022

Perempuan yang Berhenti Bernyanyi


 Orang-orang terdekat di rumahnya hanya butuh beberapa detik saja untuk mengingat seragam apa yang harus dikenakan Adisty, pada hari ini, tetapi, tidak berlaku bagi dirinya. Ia harus benar-benar mengingatnya hingga sangat yakin bahwa pilihannya tidak salah meleset. Ia butuh hingga waktu 2 jam sampai mengatakan dengan pasti: "yang ini, kan?" dalam intonasi ragu, meski itu adalah pilihan terakhir untuk memastikan kebenarnya.

Tak ada respon yang menyakitkan yang diperagakan Andisty, meskipun waktunya terbuang cuma-cuma sekadar menunggu hasil pilihan ibunya. Andisty selalu bangun dengan sengaja di pukul 04.30 pagi, agar segala keterlambatan tidak memakan banyak waktunya.

Andisty bisa saja mengambil seragamnya sendiri tanpa perlu menunggu ia memilihkannya. Namun, jika Andisty melakukannya, ia akan sangat sedih dan memendam kekecewaannya sepanjang hari. Kalau sudah seperti itu, Andisty tak akan berani pergi ke sekolah dengan meninggalkan mood sang pemilih seragam hancur berkeping-keping.


Andisty 10 tahun, sementara usia ia hampir menyentuh angka 50 tahun. Andisty tanpa saudara, bagi dirinya Andisty adalah anugerah terindah yang paling dinantinya semenjak usia pernikahan 10 tahun, dan suaminya meninggal setelah Andisty genap 1 tahun setelah kelahirannya.


"Ibu marah?" tanya Andisty pagi itu. Ia hanya menggeleng dengan sedikit senyum paksaan.

"Tidak, Nak, tidak apa-apa?" jawabnya serasa menggeser tempat duduknya mendekat ke arah Andisty. Kemudian ia melanjutkan ucapannya dengan pertanyaan, "lho, kamu memang nggak sekolah, Nak? Kok, masih di sini?" Padahal ini sore hari, pagi tadi ibunya telah memilihkan baju kotak-kotak biru dengan syal biru pula.

Andisty tersenyum. Pertanyaan seperti itu kerap terlontar dari bibir ibunya. Andisty mafhum dengan hal ini. "Iya, Bu. Disty nggak sekolah, sengaja mau menemani ibu terus di rumah." Bisa saja Andisty mengatakan bahwa ia sudah pulang, tapi ia tak melakukannya, Andisty lebih memilih berbohong agar tidak melukai perasaan ibunya itu.

"Ibu sudah pikun berarti," kata Ibu suatu waktu dengan wajah sangat sedih dan muram ketika Andisty mengatakan bahwa ia sudah pulang sekolah ketika ditanya kenapa tidak sekolah. Maka dari itu Andisty tidak ingin mengulanginya.


*****


"Ibu sedang nyantai, kan, Bu. Sudah lama Disty tak mendengar suara merdu Ibu," ajak Andisty di suatu sore hari yang bergerimis.

Ibunya tak merespon kecuali mengerutkan dahi seolah sedang mengingat sesuatu.

"Ibu bisa menyanyi, Nak?" tanya ibunya seakan tak percaya. Andisty tersenyum, mengangguk.

"Sejak kapan ibu bisa menyanyi?" pertanyaan berikutnya terlontar. Andisty masih tersenyum, kemudian mendekat ke arah Ibu yang tengah memerhatikan bunga mawar merah di pekarangan yang tengah mekar lewat kaca jendela.

"Kemarin ibu menyanyi lagu Bengawan Solo, kesukaan Ibu. Kemarinnya lagi juga," jawab Andisty.

"Ibu tak pernah melakukannya, Nak, bahkan Ibu sama sekali buta nada," sesal ibunya. Andisty mencoba menahan sesak di dadanya. Memori ibu sedang kembali tidak bisa diakses.

"Ya, sudah, lain kali saja, Bu. Ibu belum makan, kan? Ayo kita makan bareng sama Disty," Andisty mencoba membelokkan situasi, ia meletakkan kedua tangannya di handle kursi roda, tempat ibunya biasa duduk dan beraktivitas sepanjang hari.

"Ibu sudah kenyang, Nak, barusan, kan, sudah makan bareng bapakmu," jawab ibunya. Rasa sesak di dada Andisty membuncah. Inginnya saat itu juga Andisty menangis. Semenjak bapaknya meninggal beberapa tahun lalu, ibu sudah tak lagi seperti ibu yang dulu, terutama dalam hal mengingat. Dulu, ibunya adalah seorang penyanyi keroncong yang kerap diundang ke acara-acara penting para pejabat. Kini semua telah berubah. Alzhaimer, mengubah semuanya.



Soreang, 11 November 2022


******




Sabtu, 25 Mei 2019

Angin



Ke mana perginya angin?

ke rindu yang datangnya
mengendap-endap

cuaca mengubah
perangai
saat ingatan
dilahap
melulu namamu



Bekasi, 25 Mei 2019

Sabtu, 11 Mei 2019

Dagelan Negeri Kardus




                             Layar dinaikkan
                             tokoh utama bertukar peran

                             yang sapi menjadi ayam
                             yang babi menjadi domba

                             Kucing menggonggong
                             anjing mengeong

                             Penonton bertepuk tangan
                             aku; bingung




                            Bekasi, 11 Mei 2019