Jumat, 10 Mei 2019

Pung, Lelaki yang Menjual Kemalangannya






Pung sudah memutuskan bahwa hari inilah ia harus melakukannya. Semalaman tadi, Pung sudah bergulat dengan pertarungan tak terelakkan dalam dirinya, hingga tidurnya terlalu terlambat  untuk dilakukannya. Di satu sisi, ia ingin melakukannya. Di sisi yang lain, ia tidak ingin melakukannya. Pertarungan tidak selalu harus dimenangkan salah satu kubu. Namun, sekali ini ada kubu yang harus memenangkan pertarungan. Pung memutuskan: ia harus melakukannya.

Pung berdiri dalam kebimbangan yang tak seharusnya. Berkali-kali ia mencoba berdamai dengan gejolak dadanya yang tiba-tiba bergolak, tetapi itu saja tidak cukup. Gejolak dada itu seolah melakukan penolakan. Namun mau apalagi, Pung pada akhirnya harus mengabaikannya. Ada desir nyeri yang merambat tiba-tiba. Ia harus melepas apa-apa yang pernah dimilikinya, meski itu sebuah penderitaan.

"Aku ingin menjual kemalangan." Pung mengatakannya dengan ucapan penuh getar. Ia---sebenarnya---masih belum rela atas keputusannya. "Berapa pun kau akan menghargainya," tekannya dengan ketidakikhlasan masih mengambang.

Gedung itu masih terasa sunyi ketika Pung masuk. Gedung dengan cat warna kusam dan perabotan di dalamnya begitu lusuh, dan terlhat kotor, tak cukup menarik untuk dilihat atau disentuh; penuh debu dan tidak terawat. Seorang lelaki tua---orang-orang kerap menyebutkan lelaki itu usianya hampir delapan puluh tahun---botak terperangkap dalam sosok mudanya yang tidak bisa ditawar-tawar. Wajahnya begitu berseri cerah seolah penderitaan hidup tak pernah bersemayam di sana. Pung bisa menegaskan bahwa usia tidak menggerus apa-apa dalam diri lelaki itu. Ia terlalu muda untuk usia delapan puluh tahun, tanpa ringkih, apalagi sosok yang lemah tak bertenaga.

"Aku ingin menjual kemalanganku. Banyak kemalangan," Pung mengatakannya lagi untuk kali kesekian.

Lelaki itu mengangguk, lantas berkata, "Kemalangan seperti apa yang hendak kau jual, Anak Muda?"

"Kemalangan yang tidak semua orang dapatkan. Kemalangan yang mungkin saja hanya aku yang memilikinya." Pung menatap lelaki itu dengan saksama. Menunggu reaksi darinya. Lelaki itu tidak bereaksi apa pun kecuali senyum yang tersungging di sudut bibirnya. Pung tahu bahwa bukan hanya dirinya yang pernah menawarkan kemalangan itu kepadanya. Sepertinya lelaki itu sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

"Banyak orang ingin menjual kemalangannya seolah kemalangan itu tidak berarti apa-apa untuk hidupnya, padahal sebaliknya kemalangan itu adalah obat agar manusia tetap jadi manusia." Benar apa yang Pung duga. Ia adalah satu dari sekian orang-orang yang ingin menjual kemalangannya. Pung mengernyitkan dahinya tak mengerti. Lelaki itu mengucapkan kalimat yang belum ia pahami.

"Kemalangan membuat hari-hariku buruk, putus asa, dan hendak menyerah. Apakah salah jika aku ingin menjualnya?"

"Tidak, Anak Muda. Sama sekali tidak ada yang salah," ujar lelaki itu. "Aku cuma mengingatkanmu saja. Banyak orang melakukannya. Padahal, tanpa mereka sadari, mereka telah membuang aset paling berharga dalam hidupnya."

"Aku tidak mengerti," ucap Pung. "Kemalangan tetap kemalangan. Kemalangan membuat aku menderita. Kemalangan membuat aku banyak merasakan kehilangan, bersedih, dan ingin mati saja"

"Baiklah. Berapa kau ingin jual kemalangan itu, Anak Muda?"

"Tak banyak. Lima puluh atau tujuh puluh rupiah saja. Jikapun kau tidak ingin membayarnya, aku akan dengan senang hati menyerahkan kemalanganku dengan cuma-cuma."

"Aku akan membayarnya. Tunggulah sebentar."

Lelaki itu bergerak terlalu lincah untuk sosok seusia dirinya. Ia melangkah menuju tempat di mana ia menyimpan banyak rupiah untuk kemalangan yang orang-orang jual.
Gedung itu masih terlampau sepi hingga seorang gadis muncul dengan wajah pucat dengan kedua bola mata sembap. Ia melirik ke arah Pung yang sedang menunggu dengan gelisah.

"Aku ingin menjual kemalanganku. Aku diperkosa bapakku, dan aku hamil, lantas aku hampir menjadi gila. Di mana aku bisa menjualnya?" tanyanya kepada Pung.

"Tempat yang tepat. Di sini tempat kemalangan itu berpindah pemilik. Tapi, aku bukan yang punya tempat. Tunggulah beberapa kejap." Si Gadis segera mencari tempat duduk untuk menunggu. Di ujung ruangan dekat pintu masuk di mana-mana tempat itu sama berdebunya dengan sudut-sudut lain gedung ini.

Lelaki pemilik gedung kembali dengan sejumlah rupiah di tangannya. Ia menatap Pung seolah ingin memastikan bahwa keputusannya sudah sangat bulat. Pung mengangguk. Ia setuju dan tidak mau membatalkan transaksinya. Lelaki itu menyerahkan uangnya dan menerima tiga karung kemalangan dari tangan Pung.

"Ini kemalangan pertama. Kematian ibuku," ujar Pung, "yang kedua, perselingkuhan istriku dengan bos tempat kerjanya. Dan yang terakhir adalah  anak gadisku yang mati dibunuh lima orang bangsat setelah diperkosa secara beramai-ramai."

Lelaki itu menerima tiga karung kemalangan dengan penuh keengganan. Ia kerap ingin menolaknya, tetapi selalu saja tidak pernah tega. Ia hanya bisa menggeleng tanpa tahu harus berbuat seperti apa.

"Kemalanganmu aku terima. Semoga kau tidak akan menyesalinya setelah menjualnya kepadaku."

******



Pung sudah menjual kemalangan-kemalangannya. Ia sudah sudah terbiasa dengan kemalangan-kemalangan itu, sebenarnya. Bahkan, kalau harus jujur, ia menganggap kemalangannya adalah sahabatnya yang paling setia. Berhari-hari ia ingin merasakan bahwa dengan tidak adanya kemalangan dalam hidupnya keadaannya akan jauh lebih baik. Nyatanya ia salah. Pung merasa bahwa hari-harinya kini terasa janggal. Ada yang hilang dalam dirinya.

Biasanya ia tidur dengan kemalangan dalam kepalanya, masuk dalam mimpinya, dan ketika ia terbangun, kemalangan itu akan menyapanya dengan segera. Sekali ini itu tidak terjadi. Dan itu bagi Pung terasa aneh.Terasa begitu asing.

Pung menjalani sepanjang harinya dengan kemalangan. Dan ia sangat menikmatinya. Ia bisa menjadi begitu sabar karena kemalangannya. Ia pun bisa jauh menjadi lebih tegar karena kemalangannya. Ia jauh merasa dirinya menjadi sangat manusia dibanding manusia-manusia lainnya karena kemalangan-kemalangannya itu. Kini, kemalangan itu tidak bisa lagi ia temui. Pung merasa kosong, rapuh, emosional, dan mudah menyerah. Kemalangan itu meninggalkan diri Pung menjadi orang yang begitu lemah. Ini bukan Pung yang ia kenal. Bahkan Pung meyakinkan diri bahwa Pung tanpa kemalangan adalah orang lain.

Harusnya hidup Pung tanpa kemalangan akan sangat baik-baik saja. Itu tidak terjadi. Hidup Pung berada pada level kebalikannya: buruk. Bahkan jauh lebih buruk dibanding saat kemalangan-kemalangan itu ada bersamanya. Pung memutuskan untuk membeli kemalangan itu kembali.

"Aku ingin membeli kembali kemalangan-kemalanganku itu, berapa pun kau akan menjualnya kembali," paksa Pung kepada lelaki pemilik Gedung Kemalangan.

"Sudah kuduga. Padahal aku sudah mengingatkan," jawab lelaki itu dengan senyuman sinis. Wajahnya yang terbiasa dengan senyuman, kian cerah dan benderang. Membeli kemalangan orang tampaknya membuat rona bahagia tumbuh di wajahnya itu berwaktu-waktu lamanya.

"Berapa aku harus membayarnya?" tanya Pung.
"Tidak satu rupiah pun."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku tidak akan menjualnya kembali. Kemalangan itu membuat aku hidup jauh lebih kuat. Jauh lebih bahagia. Jauh lebih tegar. Terkadang orang-orang tidak menyadarinya. Jadi, lupakan," tolak lelaki itu.
"Tapi aku sangat ingin memiliki kemalanganku kembali?"
"Kenapa kau tidak memikirkan itu sebelumnya?"
"Aku berpikir tanpa kemalangan hidup akan jauh lebih baik, jauh lebih indah, jauh lebih bahagia. Nyatanya aku salah. Aku menyadarinya. Hidup tanpa kemalangan adalah kesia-siaan tanpa arti."

Lelaki itu tertawa. Bahunya ikut bergerak-gerak. Ia seolah sedang bahagia atas situasi ini. Lelaki itu tidak bersikeras untuk menahan kemalangan Pung kembali. Ia hanya menguji alasan seperti apa yang akan Pung lontarkan. Ternyata alasan Pung sejalan dengan yang lelaki itu pikirkan. Jadi tidak ada alasan untuk mempertahankan kemalangan itu kembali kepada pemiliknya.

"Baiklah, Anak Muda. Tak banyak orang yang menyadari kenyataan ini. Ambillah kemalanganmu itu kembali dan tidak usah membayarnya."

"Terima kasih," Pung mengatakan itu dengan kegembiraan yang membuncah.


Pung pulang dengan kebahagiaan tak terperi. Ia telah memiliki kemalangan-kemalangan itu dan berjanji tidak ingin menjualnya, ke mana pun, kepada siapa pun. Ia ingin menikmatinya sendirian.

Senin, 30 Juli 2018

Hantu Arturo dan Lelaki yang Mencari Tuhan



            


            Nugio pernah berkata sekali waktu, kepadaku, bahwa ia pernah bertemu dengan Hantu Arturo di satu malam terang bulan, di pinggiran Pantai Chanes, pesisir jauh Panama. Katanya lagi, ketika dirinya berhadapan langsung dengan sosok tersebut, sama sekali tidak ada rasa takut—sebagaimana orang-orang bertemu makhluk astral—bulu kuduknya pun tidak  berdiri, itu menurut penuturannya dengan sangat meyakinkan. Hantu Arturo yang menurut sebagian orang yang pernah bertemu dengan arwah tersebut, wajahnya sangat menakutkan: berwajah rusak, dengan bola mata yang keluar dari ceruknya. Nugio mengatakannya lain, bahkan ia berani bersumpah bahwa apa yang dikatakan orang-orang tidaklah benar.
            “Arturo berwajah halus, seperti boneka porselein. Hidungnya panjang dan sedikit bengkok, mirip dengan hidungmu,” terang Nugio seraya menunjuk ke arah hidungku, yang kebetulan proporsi hidungku ini mewakili definisi tersebut.
            “Memakai setelan tuksedo abu-abu dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Apakah sosok seperti itu bisa layak disebut hantu?” lanjut Nugio bersemangat.
            Aku tidak berani menjawab pertanyaan terakhirnya. Toh, aku belum pernah melihat penampakkan sosok Hantu Arturo secara langsung. Bisa saja apa yang dikatakan oleh temanku yang satu ini hanyalah kibul semata. Perihal perkataan orang-orang pada kebanyakan, mungkin saja mereka jauh lebih benar. Bukankah semua hantu itu pada prinsipnya berpenampilan sangat menyeramkan?
            Nugio memelintirkan kumis tipisnya sebelum pergi. Ia mencondongkan wajahnya sambil lalu, “Sekali-kali, datanglah ke Pantai Chanes pada malam terang bulan, bila kau tidak percaya dan ingin membuktikan kebenaran akan perkataanku.”

            Sepanjang hari aku memikirkan hal itu. Kata-kata perihal Hantu Arturo yang menggemparkan itu menggelitik keinginanku untuk membuktikan semua kebenarannya.
            Pantai Chanes tidak terlalu jauh, hanya berjarak lima kilometer dari tempat tinggalku, Distrik Harades. Jika berjalan kaki, hanya dibutuhkan waktu tidak lebih dari tiga puluh menit saja, tentu saja untuk ukuran langkah kakiku yang bisa dibilang lambat. Sementara angkutan umum yang menuju ke sana, hanya bus bobrok—kaca jendelanya bolong-bolong, kursi-kursi penumpangnya yang busa-busanya terburai, juga bunyi decitan yang riuh selama bus tersebut berjalan—yang melintas hanya beberapa buah saja. Itupun dibatasi waktu: pagi hari pukul tujuh, hingga pukul empat pada sore harinya, selebihnya tidak ada lagi kendaraan umum yang berani melintasi pesisir itu setelah Arturo dikabarkan tewas dan menjadi hantu.
            Pantai Chanes bukanlah tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tujuan wisata. Pantainya sama sekali tidak terurus, pasir pantainya berwarna putih kusam, kotor, dengan onggokan sampah berserakan di mana-mana. Kesan mencekam menjadi sangat laik menjadi penilaian orang-orang.
            Perihal Arturo, sebenarnya hanya seorang pemuda biasa yang sebelumnya tidak memiliki prestasi apa pun yang laik diperbincangkan, kecuali kedua orang tuanya yang nelayan tradisional ulet. Selama hidupnya, nyaris tidak ada teman sebayanya yang mau bergaul dengan Arturo. Arturo yang pendiam, cenderung tertutup kepada semua orang. Ia hanya tinggal dengan kedua orang tuanya pada sebuah gubuk kayu yang berdiri di bibir pantai, di antara barisan rumah tetangga yang berdiri jarang-jarang di belakang rumah mereka.
            Ayahnya, beberapa waktu yang lalu meninggal, dan inilah kisah awal Hantu Arturo dimulai. Ayahnya meninggal sebab ombak besar yang menghantam perahunya di tengah laut kala badai, ketika tengah menjala ikan. Perahunya pecah, berantakan, dan karam, menenggelamkan jasad ayahnya itu ke dasar laut. Kata orang-orang, jasad Argero—ayahnya, tidak pernah berhasil diketemukan. Bisa jadi jasadnya dimakan ikan hiu.
            Ibunya menjadi gila setelahnya. Ia terlalu memikirkan nasib suaminya itu. Berkali-kali dirinya melolong seperti anjing, seraya berteriak-teriak memanggil nama suaminya di pinggir pantai seraya menghadap ke arah laut lepas sepanjang waktu. “Argero! Argero! Argero! Kembali!”
            Arturo yang pendiam hanya mampu menatap nanar dari balik kaca jendela rumahnya. Orang-orang sudah tidak lagi peduli dengan keadaan itu. Mereka lebih memilih melakukan rutinitas kesehariannya daripada musti repot-repot membujuk perempuan itu berhenti melakukan hal bodoh tersebut.
            Arturo hanya bisa menangis meratapi kepergian ayahnya yang tiba-tiba, sekaligus menangisi ibunya yang sepertinya sudah menjadi tidak waras. Suatu kali Arturo membujuk ibunya untuk menghentikan semua kegilaannya itu. Bukankah nyawa orang mati tidak bakal kembali, dengan dipanggil dan ditangisi berulang-ulang sekalipun? Begitulah adanya, bukan? Batin Arturo.
            Ibunya bersikeras. Ia marah besar kepada Arturo, anaknya itu. “Brengsek kau! Ayahmu tidak mati. Ia pasti akan kembali. Ibu yakin itu!”
            Arturo mengelus dada. Keyakinan ibunya tidak cukup beralasan. “Yang mati tidak akan kembali, Bu. Semua sudah saatnya untuk direlakan.”
            “Anak durhaka! Pergilah ke neraka! Ayahmu masih hidup, mengerti?!” Sang ibu marah. Ditamparnya pipi Anaknya dengan keras. Arturo meraung. Kemudian menyingkir dari tempat ibunya bersimpuh menatap laut.
           
            Itu cerita yang kudengar dari mulut orang-orang perihal Arturo. Setelahnya, kabar lain menyebutkan bahwa ibunya Arturo meninggal digulung ombak besar hingga jasadnya terseret jauh ke tengah laut ketika laut pasang bergejolak. Arturo tidak mampu menolong kecuali meraung-raung sedih. Arturo kehilangan orang-orang yang dicintainya dalam waktu relatif singkat. Arturo yang malang, kini hidup sendirian.
            Arturo yang malang sangat kesepian. Itu faktanya. Dan entah ada bisikan setan dari arah mana, ia berubah menjadi seorang pemberang. Berkali-kali ia mengutuk laut, mengutuk ombak, pada akhirnya ia mengutuk Tuhan. Keyakinan dirinya kepada Tuhan rontok sekejap waktu.      
            “Untuk apa aku menyembah-Mu kalau hanya membuatku menderita. Untuk apa aku taat, toh, Kau telah membuatku kehilangan orang-orang terkasihku. Kau sungguh tidak adil, Tuhan.”
           
Satu hari Arturo bertekad untuk mencari Tuhan. Ke mana pun. Entah itu ke laut, atau ke tempat lain di mana Tuhan bisa ditemuinya. “Aku butuh keadilan, Tuhan. Aku ingin bicara dan berbincang banyak hal dengan-Mu. Bila perlu, aku ingin bertemu dengan ayah dan ibuku dan membawanya pulang. Bukankah Kau yang ambil mereka?”
Arturo yang masih berumur tiga belas tahun yakin bahwa Tuhan bisa ditemuinya di tengah laut, di mana jasad ayahnya hilang, mungkin jasad ibunya juga. Arturo yakin bahwa Tuhan masih di sana, menunggu kedatangan dirinya.
Bagi Arturo bertemu dengan Tuhan butuh sesuatu hal yang berbau seremonial: mengenakan pakaian serba formal, misalnya. Berbekal uang simpanan ayah-ibunya yang jumlahnya sangat lumayan, berangkatlah Arturo menuju ke kota. Membela kemeja putih, tuksedo, dasi kupu-kupu, sepatu pantofel hitam mengilat, juga kacamata penahan laju angin, tidak ketinggalan mesin boat untuk perahunya. Arturo yakin bahwa Tuhan akan menyambutnya dengan penuh sukacita. Ia sangat berharap bisa sangat beruntung bisa bertemu dengan Tuhan plus kedua orang tuanya.
Berangkatlah Arturo ke tengah lautan bersama cahaya terang bulan purnama, sendirian. Orang-orang hanya bisa mengantarnya dengan tatapan penuh kecemasan. Mereka berharap Arturo bisa kembali.
Laut yang sedari tadi tenang, tiba-tiba bergolak, selepas Arturo melaju dengan perahunya. Orang-orang bergidik ngeri, satu persatu mulai masuk ke bilik rumahnya masing-masing. Ini sebuah pertanda buruk, renung orang-orang. Hujan disertai kilat halilintar yang menyambar-nyambar muncul membubarkan sisa orang-orang yang berkerumun di pinggir pantai yang menanti cemas kepulangan Arturo.
Di tengah laut, Arturo merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan perahu juga cuaca di sekitarnya. Mesin perahunya tiba-tiba mati. Ia menggigil, air hujan menyirami tubuh dan pakaiannya hingga kuyup. Arturo mendongak ke atas langit yang gelap. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan hitam.
“Penyambutan-Mu tidak memuaskan, Tuhan. Apa Kau tidak berkenan dengan kedatanganku?” tanya Arturo kepada laut, seolah Tuhan sedang bersemayam di sana. “Baiklah. Aku akan tetap memaksakan diri.”
Perahu Arturo oleng, terombang-ambing ombak yang kian meninggi. Halilintar mulai menampar-nampar permukaan laut. Gelombang bergulung-gulung, mengamuk. Arturo tidak sedikit pun gentar. Ia kadung pergi. Tidak ada waktu untuk kembali.
Arturo menggumamkan kalimat-kalimat tidak jelas, entah semacam mantra atau mungkin barisan doa. Arturo mencoba mendayung perahu, hingga suatu saat, hantaman gelombang memporak-porandakan perahunya, pecah berkeping-keping, dan mengantarkan tubuh Aturo tersedot ke dasar lautan.
“Aku datang Ayah, Ibu, Tuhan,” satu kalimat terakhir meluncur deras dari mulutnya yang mulai memucat.
Kisah Arturo selesai. Aku mendengarnya dari mulut orang-orang. Arturo yang malang, pikirku. Sangat malang. Kasihan.
Arturo karam ke dasar lautan. Itu faktanya. Sementara jasadnya sendiri, tidak seorang pun pernah menemukannya, kecuali bangkai pecahan perahu kayunya. Dan, cerita kemunculan sesosok lelaki bertuksedo abu-abu, diyakini oleh orang-orang sebagai Arturo. Mereka menyebutnya Hantu Arturo. Kerap muncul di malam hari ketika bulan purnama terang bersinar.

Aku penasaran. Dengan memantapkan niat, berangkatlah aku ke Pantai Chanes, seperti saran dari Nugio. Tidak banyak barang yang kubawa, selain menyiapkan mental dan keberanian diri.
Malam terang bulan. Waktu yang tepat. Permukaan air laut begitu tenang. Suasana begitu sepi, hanya kerlap-kerlip lampu teplok di beberapa rumah pinggir pantai. Di atas sana, rembulan bersinar terang, cahanya berkilauan ditingkahi gelombang air laut.
Aku mematung. Jam setengah dua belas. Seseorang mendekatiku, memakai tuksedo dengan wajah yang masih samar. Aku pikir inilah waktunya, membuktikan kebenaran.
“Apakah kau Arturo?”tanyaku. tidak ada ketakutan dalam diriku. Arturo yang dimaksud orang-orang, ternyata tidak semenakutkan dengan apa yang kulihat sekarang ini. Sekali ini, aku harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nugio. Arturo—bila ini benar dia—berwajah halus seperti boneka porselein dan berhidung bengkok seperti hidungku.
Arturo tidak menjawab, ia hanya tersenyum samar. Aku menjadi semakin penasaran. “Kaukah yang dimaksud orang-orang sebagai Hantu Arturo?’ tegasku.
“Tidak ada hantu yang berbicara kepada manusia, Kawan. Tentu saja bukan. Arturo sudah mati. Mana mungkin bisa hidup lagi,” jawab lelaki itu. Aku yakin ia adalah Hantu Arturo yang berwajah pucat.
“Lantas kalau bukan, kau siapa?”
“Kala aku bilang aku adalah Tuhan yang dicari oleh Arturo, apakah kau akan percaya?’
“Tentu saja tidak. Tuhan tidak pernah menampakkan diri,” jawabku.”
“Baiklah, Kawan. Aku bukan Arturo, apalagi Tuhan. Aku hanya seseorang yang kebetulan tersesat di pinggir pantai ini, yang kebetulan pula dicurigai orang-orang sebagai hantunya Arturo,” pungkasnya. Ia bergegas pergi ke arah utara. Aku hanya bisa terdiam, membatu. Lelaki itu hilang dengan cepat selayaknya hantu.
“Arturo?”

Esoknya aku kembali ke Harades untuk segera menceritakan kisahku kepada Nugio. Ia menggeleng tidak percaya. “Kau pembohong besar, Santiago. Hantu Arturo itu benar-benar dia, dan kau mengatakannya bukan dia. Lantas, lelaki yang kau lihat itu siapa? Mana ada lelaki bertuksedo berkeliaran di pinggir pantai di tengah malam buta padahal tidak ada pesta bujang di sana.”
Aku terdiam merenungi kata-kata Nugio. Sepertinya ada benarnya.
Aku kembali ke Pantai Chanes pada bulan berikutnya dan bulan berikutnya lagi, terus menerus sepanjang tahun hanya untuk bertemu kembali dengan lelaki itu. Namun, lelaki itu tidak pernah benar-benar muncul kembali. Sekali-kali dan terus kulakukan tanpa kusadari, aku melolong dan memanggil-manggil nama Arturo seraya menatap ke arah laut lepas. Orang-orang menatapku dengan penuh rasa iba.
Apa yang terjadi dengan diriku? Apakah Hantu Arturo sudah membuatku gila?

Garut, 30 Oktober 2017

Minggu, 30 April 2017

Raya dan Tiga Anak Tuyul








            Perihal Raya hidup sendirian di tengah hutan belantara, dengan pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun yang menjulang tinggi, itu memang benar. Perihal Raya ‘dibuang’ oleh orangtuanya ke dalam hutan dengan banyak hewan buas di dalamnya, itu juga benar. Yang salah adalah rumor yang beredar hingga membuat Raya terusir dari buaian orang tuanya, bahwa Raya adalah anak siluman. Kedua orangtuanya tentu saja menyangkalnya dengan tegas.
            Kang Saleh yang tentu saja saleh seperti namanya itu, tak mungkin seorang siluman. Mana ada siluman yang salat dan mengaji? Bahkan, siluman dari negeri siluman sebelah mana yang bisa berkhutbah dan memiliki banyak jamaah? Itu tidak benar, sangkal Kang Saleh sendiri. Ia berani bersumpah, bahkan dengan menyebut nama Allah dan meletakkan Al-Quran di atas kepalanya pun ia tak akan pernah mau mengakuinya kalau dirinya adalah siluman atau bersekutu dengan siluman.
            “Saya manusia biasa. Tentu saja. Saya bukan siluman,” tegas Kang Saleh terus menerus. Namun, toh, orang-orang tak pernah mau mempercayainya.
            Ibunya Raya, Ceu Ulya, sama sekali tidak mirip dengan potongan—yang kerap digadang-gadang mirip—wajah siluman betina. Dia cantik tidak menakutkan, berambut sebahu tidak panjang, tersenyum manis tidak menyeringai, dan pastinya dia tidak bertaring. Harusnya, itu saja sudah cukup untuk membungkam mulut orang-orang yang menyebut Raya anak siluman.
            Lantas, hal apa yang membuat orang-orang menuduh Raya anak siluman?
            “Raya berbulu.”
Itu benar. Raya, di hampir seluruh bagian tubuhnya berbulu halus selayaknya monyet. Tapi, kalau tidak salah, ada penyakit tentang kelainan ini bukan? Manusia monyet. Di India, China, atau belahan bumi lain, ada.
            “Raya berekor.”
            Sebenarnya ini hanya tonjolan daging mirip ekor di pantat Raya. Kecil saja, tapi efeknya tak sekecil tonjolan daging tersebut.
            “Raya tidak menangis ketika untuk kali pertama membaui aroma dunia, malahan mengembik selayaknya kambing.” Yang ini, orangtuanya tidak bisa menyangkal. Kenyataannya memang demikian, dukun beranak yang membantu kelahiran Raya menyaksikannya sendiri. Dan, kabarnya pun berembus sangat cepat.
            Orang-orang desa tidak terima dengan ini semua. Selain mereka mengembuskan rumor bahwa Raya adalah anak siluman, hal lain menambah rumor ini kian menyudutkan: Kang Saleh bersekutu dengan siluman sebagai budak pesugihan.
            Kang Saleh tidak kaya. Apa mungkin?
            “Mungkin saja!” serempak orang-orang bersetuju. Apa boleh buat.

            Perihal Raya berada di dalam hutan belantara sendirian—sebenarnya tidak, itu benar. Tapi, kedua orangtuanya tidak benar-benar membuangnya. Mereka hanya mengungsikannya sementara, walau pada kenyataannya, Raya tidak pernah bertemu lagi dengan kedua orangtuanya. Perihal dibuang atau diungsikan, bagi Raya itu tidaklah penting. Karena Raya tidak memahaminya.
            Raya sendirian. Ia kesepian? Rasa-rasanya tidak. Ia memiliki tiga orang sahabat, posturnya kecil-kecil dan kepalanya botak, yang herannya, ketiga sahabatnya itu tidak pernah ada ketika malam hari. Raya sudah tujuh tahun usianya, itu menurut perhitungan Raya sendiri dengan ditegaskan oleh salah satu sahabatnya. Tak ada akta lahir, tak ada kalender, tentu saja.
            Perihal kedua orangtuanya yang tak pernah datang menemuinya lagi, Raya tidak keberatan. Ia sudah biasa sendirian—tentu saja ketiga sahabatnya itu lebih sering meninggalkan ketimbang menemaninya. Ia tergeletak tidak berdaya di dahan pohon beringin besar dengan beralaskan koran, tujuh tahun lalu. Kalian tahu, kenapa Raya diberi nama Raya oleh ketiga sahabatnya yang  kali pertama menemukannya?
            Koran itu berisi berita dengan judul huruf besar-besar: MERAYAKAN HARI KEMERDEKAAN RI YANG KE-67…. Tidak mungkin ‘kan menamainya dengan kalimat sepanjang itu? Ya, setuju, Raya lebih cocok untuk nama seorang anak manusia.
            Raya berbulu? Iya. Berekor juga? Iya. Mengembik? Sudah tidak. Raya sudah bisa berucap selayaknya manusia, karena ia memang manusia—tiga sahabatnya yang mengajarkan caranya bicara. Orangtuanya juga manusia, bukan siluman.
            Perihal tiga orang sahabatnya Raya yang hilang di malam hari, itu kenyataannya. Mereka mungkin pergi ke suatu tempat. Mereka bekerja untuk majikan-majikannya. Digaji? Tentu saja, tapi tidak berbentuk rupiah. Mereka hanya disuruh pergi ke rumah orang-orang—kalau bisa yang kaya, mengambil sebagian uangnya, lalu kembali. Itu saja, dan selesai.
            Mereka tidak pernah peduli seberapa banyak uang yang berhasil mereka ambil, selesai dikasih upah—biasanya menyusu pada istri majikannya, minyak wangi, dan bunga-bunga serta kemenyan. Habis itu mereka pulang, dan mengulangnya keesokan harinya.
            Perihal kedua orangtua Raya yang tak pernah kembali, ini ada hubungannya dengan tiga ekor harimau yang sering ditemui Raya di pinggiran danau ketika mereka sedang minum, mungkin. Mereka tidak memakan Raya, bukan karena Raya berbulu dan berekor, hanya saja Raya sudah tidak mengembik lagi, sementara kedua orangtuanya tidak berbulu banyak dan berekor, bahkan tidak juga mengembik. Kemungkinan mereka dimakan, sangat besar.
            Raya pernah menemukan sisa belulang yang terserak di pinggiran danau. Raya tidak tahu itu belulang siapa. Yang Raya tahu, kedua orangtuanya tidak pernah kembali kepadanya hingga ia tujuh tahun.
            “Orangtuamu dimakan harimau.”
            “Orangtuamu dimakan harimau.”
            “Orangtuamu dimakan harimau.”
            Ketiga sahabatnya berucap dengan tiga kalimat yang sama.

            Raya tidak menangis, sebab dia tidak pernah belajar caranya menangis. Ketiga sahabatnya itupun tidak pernah melakukannya.
            Perihal Raya berbulu dan berekor itu benar. Perihal kedua orangtuanya yang tidak pernah kembali dan kemungkinannya dimakan harimau di pinggir danau, itu juga benar. Yang salah, Raya bukan keturunan siluman, bahkan ketiga temannya yang sudah dipastikan siluman pun bisa memastikan bahwa Raya, seorang manusia. Murni, manusia. Seorang anak manusia yang cantik.
            Raya seorang manusia yang berbulu dan berekor. Tiga sahabatnya, jelas bukan manusia, melainkan siluman.






Minggu, 12 Maret 2017

Gadis Penunggu Hujan

GADIS PENUNGGU HUJAN

           
Aku berada di sebuah padang ilalang luas dengan batu-batu granit terpahat di atas bukit-bukitnya. Aku tidak sedang menunggu hujan seperti yang biasa aku lakukan selagi masih kecil, walau sekarang pun masih belum dikatakan dewasa.
Aku sedang berusaha menenangkan pikiran di tempat ini. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi dan aku ingin mengalihkan rasa tidak nyaman itu segera: bapakku mau menikah lagi di usianya yang menyentuh angka tujuh puluh lima tahun. Ini sangat memalukan. Teman-teman sebayaku terus mengejekku dan mengatai bahwa bapakku itu sangat keterlaluan.
“Tua-tua keladi.” Itu kata mereka. Terus terang saja, aku malu. Di usiaku yang baru beranjak sembilan tahun ini, kenyataan seperti ini membuatku sedikit minder, dan membuatku banyak mengurung diri.
Aku tidak ingin menghadiri acara pernikahannya. Untuk apa coba? Aku benar-benar tidak merestuinya. Aku pikir Bapak sudah tidak sayang lagi kepada almarhumah ibuku, makanya memutuskan untuk menikah lagi.
            Sebenarnya Bapak tidak salah. Mungkin bapakku terlalu lama kesepian setelah ditinggal oleh Ibu. Tapi, aku mengabaikan fakta tersebut. Setiap kali Bapak mengutarakan maksudnya, aku selalu menentangnya. Aku selalu tidak pernah setuju kalau Bapak melakukannya. Kali ini Bapak melakukannya tanpa izin dariku.
Aku ingin duduk menyendiri dan melupakah rasa pedih di dalam hatiku perihal keputusan bapakku. Rencanaku, aku ingin menangis meraung-raung seraya memanggil-manggil nama ibuku beberapa lama hingga rasa sesak di dalam dada ini sedikit berkurang atau hilang sama sekali—walau hal itu sangat tidak mungkin, bila ada orang lain di sekitarku  muncul tiba-tiba.

Rencana menyendiriku ternyata gagal. Seorang gadis, tanpa kutahu datang dari arah mana, telah berdiri membelakangiku. Dia sedang mendongak menantang awan yang mulai memekat menunggu hujan tiba.
Aku tak tahu pada mulanya apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Mulanya dia berdiri mematung menghadap langit yang pekat, setelahnya dia membentangkan kedua belah tangannya. Awan yang berarak, bergerak diembus angin. Dia, gadis itu, seolah kehilangan daya langkah kakinya dan terpasak lantas lunglai menghunjam tanah yang ditumbuhi rumput ilalang, juga batu-batu kecil yang terserak.
            Tak ada yang istimewa dengan gadis itu kecuali sebuah buntalan kain warna putih—pudar menjadi abu-abu karena debu dan kotoran—yang tersampir di bahunya. Tubuhnya yang kurus dan legam seolah mengingatkan aku pada pengemis-pengemis cilik di seputar perempatan lampu merah di kota-kota besar yang sering kutemui ketika aku berlibur.
            Aku memandangnya berkali-kali dengan penasaran. Dia, merentangkan tangannya seolah ingin terbang menyapa awan-awan itu. Sementara rambutnya yang ikal bergoyang-goyang. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya, sebab kondisinya yang membelakangiku, membuat pandanganku hanya tertumpu pada belakang tubuhnya.
            Apakah ia menangis? Pundaknya bergerak-gerak. Hal itu mengingatkanku akan orang-orang yang sedang menangis: pundak turun-naik menahan sedu.
Ini kali ketiga dia membentangkan kedua belah tangannya. Dua kesempatan sebelumnya hanya kuperhatikan sepintas, sambil lalu, tentu saja. Kali ini, sesuatu yang menggelitik hatiku menyuruhku untuk fokus, tanpa dia ketahui. Aku berjarak beberapa meter di belakang tubuhnya.
Dia berdiri mendongakkan wajah, mungkin disertai gumaman. Dari jarak beberapa meter dari tempatku berdiri, suara serak menanggung lelah terdengar samar.
“Apa yang kamu lakukan?” Aku mendekatinya. Dia sama sekali tidak bereaksi. Jangankan menoleh, terlihat kaget pun tidak.
Harusnya aku berdiri saja memperhatikan dirinya dari jauh. Entahlah. Dorongan dalam diriku seolah menuntunku untuk mendekat. Aku penasaran. Untuk itulah aku bertanya kepadanya.
“Apa yang kamu lakukan?” Aku mengulangi pertanyaan. Sekali ini dia menoleh. Wajahnya begitu menyedihkan. Aku pikir, usianya jauh lebih muda dari tampilan wajahnya. Dia tersenyum ramah seolah mengenaliku. Giginya yang hitam terlihat tidak rata di beberapa bagian. Mungkin, dia sembilan tahun, sama sepertiku. Wajahnya yang kumal dan tidak terurus membuatnya terlihat sangat tua belasan tahun.
“Menunggu hujan,” ucapnya lirih. Kembali dia tersenyum. “Apakah kamu juga demikian?”
Aku? Maksudmu aku juga menunggu hujan? Aku menggeleng lantas ikut tersenyum. Dulu, iya. Aku sering melakukannya. Nenek bilang ibuku meninggal dalam kondisi suci—sehabis melahirkanku, dan jasadnya terpecah menjadi bulir-bulir hujan. Setiap hujan tiba aku akan menunggu kedatangan Ibu. Itu kulakukan hingga usiaku lima tahun. Namun, selama beberapa tahun itu, tak sekalipun aku bertemu dengan Ibu. Setelahnya aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.
Pertanyaan gadis itu sontak membawa ingatanku beberapa tahun lalu kembali.
“Menunggu hujan? Apa maksudnya?” tanyaku.
Dia merentangkan tangannya kembali, mulutnya terbuka dan menggumam. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak bisa kupahami. Terdengar aneh, bukan kalimat seperti biasa orang-orang ucapkan. Apakah ini semacam mantra?
“Kamu memanggil hujan?”
“Tidak.”
“Lantas?”
“Aku memanggil ibuku?”
“Ibu?” tanyaku heran. Dia menurunkan rentangan tangannya. Dia kembali tersenyum, memperlihatkan barisan gigi hitamnya yang berantakan.
“Ibuku berjanji akan datang bersama hujan,” ucapnya. Dia menurunkan buntalan kain, membiarkannya tergeletak begitu saja di atas tanah. Awan semakin menghitam, mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Buntalan kain itu bergerak-gerak seolah seseorang ada di dalamnya dan ingin keluar. Aku menatapnya terkejut.
“Itu Bapak,” ucapnya lagi untuk menutupi keterkejutanku. Itu membuat aku semakin heran.
“Bapak selalu muncul tiba-tiba di dalam buntalan itu ketika aku akan menemui Ibu. Itu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tahu-tahu sudah ada di dalam, seperti saat ini. Entah bagaimana caranya masuk.” Dia menjelaskan dan membuat diriku semakin keheranan.
“Ibu pergi ketika Bapak sedang tidak di rumah. Yang aku tahu, Ibu menghilang ketika hujan turun. Setelah Ibu menghilang, Bapak sakit lantas setelahnya ikut juga menghilang,” terangnya.
“Aku mendengar kabar bahwa ibuku dibawa pergi oleh hujan. Bapak tidak terima kemudian mengejar Ibu. Entah ke mana. Suatu saat Bapak kembali dalam keadaan yang sangat memprihatinkan: tubuhnya bengkak dengan lebam di mana-mana. Bapak demam beberapa lama, setelah itu Bapak menghilang tanpa jejak. Aku tidak tahu ke mana Bapak pergi. Yang aku tahu Bapak pergi mencari Ibu lagi. Itu dilakukannya terus menerus tanpa kenal lelah. Anehnya Bapak suka kembali tiba-tiba. Bapak selalu muncul di dalam buntalan itu ketika hujan akan turun tanpa kuketahui sebelumnya.”
“Aku bingung. katamu bapakmu menghilang, terus katamu itu bapak,” protesku seraya menunjuk buntalan yang terus bergerak-gerak.
“Bapak selalu muncul di dalam buntalan ketika aku ingin menemui Ibu.”
Aku semakin bingung dengan uraiannya. Ini sangat membingungkan. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan gadis ini sebenarnya siapa, apa semua ceritanya itu benar?
Petir mulai menyambar-nyambar. Sesuatu yang hitam muncul tiba-tiba di tengah gerombolan awan pekat. Tetes hujan mulai turun dari atas langit.
“Beliau datang,” ucapnya seraya bersiap-siap dengan posisi berdirinya semula, membelakangiku. “Ibuku datang. Beliau akan menjemput aku dan Bapak segera.”
Aku segera berlindung ketika hujan dengan begitu derasnya turun. Sementara gadis itu membentangkan tangannya kembali. Mulutnya bergumam-gumam, sementara buntalan itu terus bergerak-gerak seolah sebuah kekuatan mahadahsyat ingin melepaskan diri. Aku termangu, sebuah pohon rindang telah menyelamatkan tubuhku dari basahnya air hujan.
Aku terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Petir terus menyambar-nyambar. Beberapa menit kemudian ketika pandanganku lengah—kilatan petir membuat mataku terpejam beberapa saat karena silau, gadis itu hilang beserta buntalannya juga gemuruh halilintar yang memekakkan telinga menyertainya. Aku melonjak serta merta menutup telingaku. Sejurus kemudian gadis itu benar-benar menghilang dari tatapanku.

“Kamu sedang apa?” di antara deru suara halilintar pertanyaan itu sampai di lubang pendengaranku.
“Menunggu hujan. Menunggu Ibu,” jawabku tanpa kusadari. Harusnya bukan itu yang kukatakan.
“Ibumu tidak mungkin kembali.”
Aku menoleh. Sosok itu berdiri dengan ringkih. Aku seolah mengenalnya tapi siapa? Badannya sudah membungkuk, keriput di beberapa bagian wajahnya sudah menggelambir. Bola matanya yang sudah lamur bergerak-gerak. Dia berdiri begitu dekat dengan tubuhku. Satu pertanyaanku yang tiba-tiba muncul: apakah perempuan tua ini ada hubungannya dengan gadis kecil tadi?
“Ibumu tidak mungkin kembali,” ulang perempuan tua itu.
“Kenapa demikian?”
Sebenarnya aku menyangsikan ucapan perempuan tua itu. Perihal ia siapa, sama sekali tidak bisa kuterka. Apakah ia mengenal ibuku? Apakah ada hubungan keluarga dengan almarhumah ibuku? Atau….
Ada atau-atau lain yang berjejer di dalam kepalaku. Aku semakin bingung dibuatnya.
“Ibumu sudah bahagia di langit sana menjadi bulir-bulir hujan surgawi,” jawabnya. “Dan biarkan bapakmu pun bahagia.”
“Bapak?”
“Ya. Bapakmu,” tegas perempuan tua itu.
Perempuan itu seakan tahu akan apa yang sedang terjadi.

Aku memutar pandanganku ke arah tubuh gadis itu menghilang. Kemudian mengarahkan kembali pandanganku ke arah perempuan tadi. Hujan terus turun semakin deras. Pohon-pohon tampak kuyup. Halilintar terus menyambar-nyambar di atas langit sana yang awannya semakin tebal memekat. Aku terpaku, sesuatu yang ganjil tengah terjadi. Sepertinya begitu. Aku melekatkan pandangan di antara bulir-bulir jarum air hujan. Dan… setelahnya aku tidak lagi bisa melihat tubuh perempuan tua itu. Apakah perempuan tua itu pergi atau menghilang?
Entahlah. Jejak-jejaknya seperti lenyap di antara hujan.
Halilintar menggelegar, hujan deras terus turun. Aku hanya mampu bertahan sebentar di bawah pohon, sesudahnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan.
“Ibumu tidak mungkin kembali.” Suara itu terus terdengar berulang-ulang.
“Benarkah?”
“Benarkah demikian?” ulangku.


Cibatu, 25 Mei 2016


Dimuat di Flores Sastra, Februari 2017